Cerita/Kesaksian

Kado Natal Terindah

Beberapa temanku bertanya, "Kenapa tidak menulis tentang Natal?" Aku hanya tersenyum. Sejujurnya, aku tidak menulis tentang Natal bukan karena aku tidak mau menulis, tetapi karena bingung mau menulis apa. Apa yang harus ditulis? Tuhan saja belum kasih ilham kok!

Ini Natal pertamaku di China, Natal pertama jauh dari orang tua. Sedih, sih! China adalah negara komunis, meskipun ada "suasana Natal" (hiasan-hiasan Natal, pohon Natal, dan lain-lain), aku tahu semuanya komersial. Jadi, itu sangat menyentuh hatiku. Sebenarnya, aku tidak mau mengingatnya menjelang Natal. Takut sedih. Takut kangen rumah. Takut menangis ...

Tetapi, ternyata Tuhan sudah menyiapkan Natal yang indah. Sahabat sekaligus teman sekamarku bakal dibaptis 24 Desember. Semester kemarin ada juga temanku yang dibaptis. Tetapi buatku, baptis yang ini lebih istimewa karena yang dibaptis itu sahabatku.

Ketika Natal yang Telah Lalu Datang Kembali

Kenangan saya akan Natal beberapa tahun belakangan ini di kota Lynchburg, Ohio, masih terbayang jelas di mata saya. Ayah biasanya mengangkat tubuh saya tinggi-tinggi agar bisa menekan bel rumah nenek, dan semua orang berlarian masuk ke dalam ketika pintu dibuka. Saya bisa mencium bau lemak lilin-lilin yang dinyalakan di atas pohon Natal dan aroma permen buatan nenek yang masih bergolak di panci yang masih menyala. Merupakan pengalaman yang menggetarkan ketika bangun tidur dan menemukan sebuah jeruk di kaus kaki, dan saya tidak pernah lupa betapa menyenangkannya tahun itu ketika saya mendapatkan sepotong pisang! Kami berasal dari keluarga pendeta desa dan kami sangat miskin. Namun, kami mengalami masa-masa yang menyenangkan.

Selama setahun, saya dan saudara saya, Bob, memimpikan mendapat hadiah sepeda. Berbulan-bulan kami mendatangi toko untuk melihat-lihat dan bertengkar tentang warna sepeda yang kami inginkan. Akhirnya, kami sepakat: sepeda itu harus berwarna merah.

Sang Eksekutif yang Sempurna

Natal adalah saat yang tepat dalam setahun untuk meninjau gaya manajemen Yesus dari Nasaret. Apa yang Yesus capai adalah yang terbaik. Ia merekrut dan memotivasi dua belas orang-orang awam menjadi orang-orang yang luar biasa. Ia membentuk kepribadian mereka yang beragam, dengan hasrat, ambisi, dan pemikiran yang berbeda, menjadi sebuah kesatuan yang luar biasa.

Ia mengorganisir kekristenan yang telah tumbuh memiliki 1,5 milyar pengikut dan cabang di seluruh dunia dan 223 negara. Yesus tidak secara agresif memaksa orang-orang untuk mengikuti ajaran-Nya. Ia juga tidak membujuk mereka dengan cara yang licik. Namun, Ia mengajak para pendengar-Nya dengan tidak pernah melupakan kebutuhan mereka. Ia dengan setia memotivasi dan mempraktikkan prinsip motivasi paling penting. Orang ingin tahu seberapa besar Anda peduli sebelum mereka peduli pada apa yang Anda tahu.

Tak Ada Natal Keluarga

Aku dibesarkan di tengah keluarga "Bhinneka Tunggal Ika". Orang tuaku adalah orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah "ageming aji" (baju kehormatan diri). Mereka membebaskan anak-anak memilih agamanya masing-masing. Aku sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke sekolah minggu. Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibuku pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini Pancasila, kok. Ada Al- Quran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan!"

"The Last Waltz"

Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya, Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz" dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, karena beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.

Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu, Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz", sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari waltz.

Pra Natal: Lupakan Gadis Korek Api

Oleh: Yvonne Sumilat

Ironi Natal apa yang Anda ingat? Gadis Korek Api adalah judul sebuah cerita dari Eropa yang dikarang oleh Hans Christian Andersen. Itu tak lebih dan tak kurang adalah sebuah ironi. Gadis yang tergeletak di pinggir jalan ternyata dia meninggal kelaparan tatkala semua orang berpesta dalam suasana Natal dan Tahun Baru. Lupakan saja Gadis Korek Api itu.

Ada 3 orang menginap di rumah saya. Mereka adalah satu keluarga, masih family, sepupu dari suami saya.

Hanya sekedar menghabiskan waktu maka kami bercerita sana sini tanpa pokok yang direncanakan. Ngobrol seadanya bahan.

Sampailah bahan perbincangan soal rajutan. Ada banyak buku rajutan yang bisa dibuka-buka. Memang dengan sengaja saya mengadakan banyak buku rajutan dan tentu polanya untuk hadir di rumah saya.

Ada ready stock tas rajutan. Saya berkata, "Ambillah" untuk Tante dari suami saya karena itu modelnya model for oma-oma.

Tradisi "Tamale"

Sehari sebelum Natal merupakan hari yang kacau bagi kakak perempuanku, Carmen. Ia seorang perawat sekolah yang penuh dedikasi. Meskipun murid-murid sedang liburan, orang tua mereka tidak libur. Para orangtua murid datang ke sekolah untuk menemui para pejabat kesehatan sekolah dan negara bagian secara berbondong-bondong. Mereka marah dan khawatir serta meminta agar sekolah mengeluarkan seorang murid karena menderita suatu penyakit menular.

Sekitar 100 orangtua memenuhi ruang makan. Ada yang duduk, berdiri, dan ada pula yang berkerumun. Mereka meneriakkan ancaman-ancaman untuk mengeluarkan anak-anak mereka jika masalahnya tidak segera diselesaikan. Keadaan mereka yang emosional sangat memengaruhi suasana. Ini membuatku khawatir terhadap kakak perempuanku. Aku segera mengerti mengapa aku berada di sana. Aku justru tidak berbelanja untuk keperluan Natal pada saat yang terakhir. Kakak perempuanku membutuhkanku.

Menunggu di Sini Untukmu

Natal. Kita punya banyak waktu untuk mempersiapkannya, namun sebelum kita menyadarinya, Natal sudah berlalu secepat ia datang. Untuk apa semuanya itu? Apakah benar ada harapan bagi kita hari ini di dalam cerita tentang seorang bayi yang lahir dua ribu tahun yang lalu? Pertanyaan ini dijawab di dalam janji Adven.

Hadiah Natal Terindah

Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya. Karenanya, apa yang terjadi pada suatu malam Natal tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tetapi di kantong Egar hanya terdapat 10 dolar, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, tempat dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu Natal terdengar di mana-mana, senyum dan salam Natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin.

Bagaimana mereka akan mengenal Dia?

Lukas 2:11,12

Kita tidak ada di sana untuk menyaksikannya tetapi sama seperti para gembala, kita akan melihat tanda dan mengenali Dia. Injil Lukas memberikan gambaran yang sangat hidup tentang malam Natal pertama itu. Melalui firman yang tertulis kita dapat mengenal Firman yang Hidup.

Bagi ratusan suku bangsa di Indonesia, cerita dari Injil Lukas ini tidak dikenal. Dan Kristus, Firman Yang Hidup, walaupun disediakan untuk semua orang, seringkali tidak dikenali oleh berjuta-juta orang karena firman Tuhan yang tertulis belum tersedia dalam bahasa mereka.

Anda dapat mengambil bagian dalam membawa Alkitab bagi orang-orang yang masih menunggu. Anda dapat memberi diri untuk berdoa dengan setia bagi suku-suku bangsa yang belum memiliki firman Tuhan.

Mendengar lagi kisah Natal . . . untuk pertama kali

Pages