Kesaksian

Tujuan Natal

Menarik bahwa Yesus membuat pernyataan yang signifikan tentang kelahiran-Nya sebelum kematian-Nya. Pada saat persidangan, Pilatus bertanya tentang identitas-Nya. Yesus menjawab, “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18:37b, AYT).

Yesus tidak berkata Dia lahir untuk berkhotbah atau menyembuhkan, tetapi bahwa tujuan pokoknya adalah untuk memberi kesaksian tentang kebenaran.

Lalu, Pilatus bertanya, “Apakah kebenaran itu?” Akan tetapi, dia terlalu terburu-buru untuk menunggu jawabannya. Betapa banyak dari kita yang seperti itu hari ini? Terkadang dibutuhkan sebuah tragedi, seperti kematian dalam keluarga atau serangan teroris seperti baru-baru ini, sebelum orang-orang menyediakan waktu untuk menilai hidup mereka dengan apa yang sesungguhnya bermakna dan benar.

Natal: Ketuban Pecah

Oleh: Yvonne Sumilat

Kemarin pagi aku ke pasar. Aku belanja semauku. Uang tidak jadi masalah. Banyak bahan yang aku beli. Makhlumlah hari ini Hari Natal. Tepatnya Natal pertama sejak aku menjadi istri. Pasti aku punya idealisme di Hari Natal di keluargaku yang masih belia. Sepulang pasar aku mengolah bahan-bahan menjadi makanan matang setelah melalui proses memasak. Setelah memasak aku merasa lelah. Perutku besar sekali. Kaki kiri kananku bengkak. Dokter kandungan sudah aku kunjungi di awal Desember. Dokter itu menahan rasa yang tidak diungkapkan kepadaku ketika memperhatikan kakiku yang bengkak itu. Dokter tidak mengatakan hal yang mengkuatirkan. Hanya dengan senyum-senyum dia berkata, "Enci Ivon... Jangan-jangan tu ade lahir pas Natal...?" Jangan-jangan bayiku lahir tepat di Hari Natal.

Malaikat Natal

Saat itu tanggal 23 Desember 1993. Untuk seorang Ibu tunggal yang sedang bersekolah dan mendukung anak sendirian, Natal tampak suram. Aku melihat ke sekeliling rumah kecilku, kesadaran muncul seperti kesakitan yang berputar perlahan. Kami miskin.

TUKAR KADO NATAL: BUKAN KEBETULAN

Tukar kado Natal adalah salah satu (tugas) mengasihi sesama (ha.... ha.... terlalu rohani bahasanya).

Teknisnya diatur supaya tukar kado itu berjalan dengan baik. Alias tidak kacau.

Setiap orang mengambil satu potong kertas yang digulung. Ada satu nama di kertas itu. Maka selanjutnya adalah memikirkan kado apa yang akan diberikan kepada nama itu.

Teacher A memberinya kado hiasan pohon Natal. Maka dengan apa adanya dia berkata,

"Ooohhh Teacher.... Aku gak punya pohon Natal."

"Gak papa... Simpan saja" demikian kata Teacher yang memberi kado itu.

Hadiah Tanpa Diskon, Hadiah Tanpa Bau Toko

Dikirim oleh: Yvonne Sumilat (sumilatxxx@xxx)

Tibalah bulan Desember,
Belum pernah dilakukan survei, tetapi sebagian ibu-ibu dengan sengaja meluangkan waktu untuk mengunjungi butik dan mal. Dengan tujuan untuk mencari, atau lebih tepatnya membeli baju baru. 'Diskon' menjadi kata kunci keberuntungan yang mengetuk sejuta senyum lebar. Ayo Kaum Hawa....., Engkau jangan pura-pura alergi dengan kata sihir 'diskon'. Karena itu sungguh-sungguh akan menyihirmu menjadi lebih cantik bahkan sangat cantik.

Sebagian ibu-ibu menekankan pada poin 'baru'. Yang penting 'baru'. Sehingga acapkali terlihat kurang arif bahkan sembarang saja memilih warna dan modelnya. Untuk ibu-ibu yang 'rewel' (baca: hati-hati) mau tampil dengan standar yang tinggi. Mereka tidak boleh kelihatan sembarangan. Kalau bisa, terlihat seanggun mungkin, kata orang elegant.