Natal

Natal: Ketuban Pecah

Oleh: Yvonne Sumilat

Kemarin pagi aku ke pasar. Aku belanja semauku. Uang tidak jadi masalah. Banyak bahan yang aku beli. Makhlumlah hari ini Hari Natal. Tepatnya Natal pertama sejak aku menjadi istri. Pasti aku punya idealisme di Hari Natal di keluargaku yang masih belia. Sepulang pasar aku mengolah bahan-bahan menjadi makanan matang setelah melalui proses memasak. Setelah memasak aku merasa lelah. Perutku besar sekali. Kaki kiri kananku bengkak. Dokter kandungan sudah aku kunjungi di awal Desember. Dokter itu menahan rasa yang tidak diungkapkan kepadaku ketika memperhatikan kakiku yang bengkak itu. Dokter tidak mengatakan hal yang mengkuatirkan. Hanya dengan senyum-senyum dia berkata, "Enci Ivon... Jangan-jangan tu ade lahir pas Natal...?" Jangan-jangan bayiku lahir tepat di Hari Natal.

Apakah Yesus Lahir di Sebuah Kandang?

Silakan baca Pendahuluan singkat terlebih dulu.

Ketika mereka ada di sana (di Betlehem), tibalah waktunya bagi Maria untuk melahirkan. Maria pun melahirkan Anak laki-lakinya yang pertama. Ia membungkus-Nya dengan kain lampin dan membaringkan-Nya di dalam palungan [phatne], karena tidak ada kamar [kataluma] bagi mereka untuk menginap. Lukas 2:6-7 (AYT)

Kamar penginapan atau Kamar Tamu?

Kasih dalam Natal Keluarga Kristen

Ditulis oleh: Lidya

Natal selalu identik dengan pesan damai, kasih, sukacita, dekorasi-dekorasi yang indah, makanan yang banyak, serta sanak-saudara yang datang berkumpul bersama dengan penuh sukacita dan damai. Natal adalah peringatan terbesar umat kristen di seluruh dunia karena kelahiran Yesus Kristus Sang Putra Natal membawa kedamaian, sukacita dan kebahagiaan bagi setiap keluarga Kristen di muka bumi. Hal yang sama terjadi juga di dalam keluarga saya. Hanya saja, Natal 2 tahun lalu sedikit memiliki kesan kurang baik bagi kami, khususnya antara saya dan papa saya. Dari peristiwa itu, muncullah pertanyaan saya tentang peran orangtua dan anak dalam keluarga Kristen yang harusnya memiliki cerminan sukacita, kasih dan damai di hari Natal.

KARTU NATAL PERTAMA

Ditulis oleh: Lidya

Di sebuah perumahan yang asri dan tenang, di kawasan Jakarta Selatan, tinggallah salah satu keluarga harmonis. Keluarga Markus, namanya. Keluarga ini memiliki salah seorang anak laki-laki yang dikenal manja, sombong dan keras kepala bernama Jonathan, namun biasa dipanggil Jo. Jonathan tidak terbiasa melakukan segala hal sendirian, pasti dia selalu ditemani orangtua atau bibinya (asisten rumah tangga).

Mariska dan Petra, nama orangtua Jonathan. Mereka bekerja sebagai pegawai kantoran. Selain sibuk bekerja sebagai pegawai, Pak Petra juga merupakan seorang pelayan di gereja. Pada saat keduanya sibuk, Jonathan akan diurus si bibi, begitu pun sebaliknya.

Minggu siang yang cerah, Jonathan pulang bersama papanya dari gereja. Saat itu, papanya baru selesai pelayanan sedangkan Jonathan sendiri baru selesai sekolah minggu. Sepanjang perjalanan menuju rumah dia menceritakan banyak hal kepada papanya, salah satunya mengenai kado Natal.

Gadis Penjual Korek Api

Udara amat dingin pada waktu itu; salju turun, dan hampir cukup gelap, dan malam -- malam terakhir tahun ini. Dalam kedinginan dan kegelapan ini, seorang gadis kecil yang malang menyusuri jalan ini, tanpa kepala, dan dengan kaki telanjang. Ketika dia meninggalkan rumah, dia memakai sandal, itu benar; tetapi apa gunanya itu? Sandal itu sangat besar, yang dulu dipakai ibunya; begitu besar; dan gadis kecil yang malang itu kehilangan sandal tersebut saat dia menyeberang dengan cepat ke seberang jalan, karena dua kereta kuda yang lewat dengan sangat cepat.

Terang Mengalahkan Kegelapan

Oleh: Dita

Nas: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5)

Sering kali kita berasumsi bahwa terang dan gelap memiliki kekuatan yang sama. Jika ada terang maka ada gelap, dan jika ada gelap maka ada terang. Ternyata asumsi itu adalah salah. Jika kita pikirkan lagi, terang tidak berlawanan dengan gelap. Karena terang lebih kuat daripada gelap!

Siapakah Anak ini?

Kemiskinan, Bukan sebuah Istana, untuk Raja Terbesar

Sewaktu kecil, saya tidak terkesan dengan sebuah lagu Natal yang menanyakan sesuatu, yang jawabannya sudah diketahui oleh semua orang.

Siapakah Anak ini? Dia adalah Yesus, tentu saja. Kita semua tahu itu – bahkan anak-anak pun tahu akan hal itu.

Yang belum saya mengerti saat itu adalah bahwa sebuah pertanyaan bukan hanya diajukan untuk menyelesaikan masalah dan memberi informasi yang baru. Terkadang pertanyaan menyatakan suatu penegasan. Kita menyebutnya “pertanyaan retoris.” Ada kalanya bentuk sebuah pertanyaan mengungkapkan kekaguman tentang sesuatu yang kita tahu adalah benar, tetapi merasa bahwa itu begitu luar biasa. Itu terlalu sederhana untuk hanya dikatakan langsung seperti kita berkata-kata tentang hal lainnya.

Saat Natal Jauh dari Menyenangkan

Natal telah lama mewakili pertemuan keluarga yang menyenangkan dan berbagi tradisi liburan dari masa ke masa. Iklan televisi, papan reklame di jalan raya, dan bahkan acara hiburan tahunan menggambarkan kebahagiaan sebagai keluarga utuh yang merayakannya dalam kedamaian dan harmoni. Kesedihan memiliki sebuah cara untuk mengocok emosi selama masa ini. Natal, terutama, dapat membawa kesedihan ke permukaan yang tersmpan jauh di dalam hati kita setelah kehilangan yang berarti. Kita memohon kepada Tuhan untuk mempercepat kita dalam melewati hari-hari di bulan Desember. Terlepas dari iman yang dalam, banyak dari kita yang secara emosional terpaku pada bulan November dan Desember, menarik napas lega saat kalender menyambut Januari. Januari memberi kita izin untuk kembali pada kehidupan, lalai terhadap rasa sakit kita, dan kebutuhan mendesak kita akan Pribadi yang lahir untuk menebus hati kita yang memar dan babak belur.

Pages