Natal

TUKAR KADO NATAL: BUKAN KEBETULAN

Tukar kado Natal adalah salah satu (tugas) mengasihi sesama (ha.... ha.... terlalu rohani bahasanya).

Teknisnya diatur supaya tukar kado itu berjalan dengan baik. Alias tidak kacau.

Setiap orang mengambil satu potong kertas yang digulung. Ada satu nama di kertas itu. Maka selanjutnya adalah memikirkan kado apa yang akan diberikan kepada nama itu.

Teacher A memberinya kado hiasan pohon Natal. Maka dengan apa adanya dia berkata,

"Ooohhh Teacher.... Aku gak punya pohon Natal."

"Gak papa... Simpan saja" demikian kata Teacher yang memberi kado itu.

Sukacita dalam Nyanyian

Para gembala bernyanyi
Memuliakan Allah yang telah memberikan terang

Terang bagi hidup manusia
Terang bagi jalan-jalan kita

Terang itu mengantar kita pada seorang bayi mungil
Terang itu akhirnya terlihat nyata di depan kita

Bayi mungil itu ... Yesus
Yesus yang terlahir dari perawan Maria
Penuh kekudusan, penuh kesederhanaan

Bersorak-sorai haleluya
Memuji nama Allah di tempat yang mahatinggi
Sebab damai sejahtera telah Ia turunkan
Dan sukacita melimpah telah kita rasakan

Daftar Permintaan Hadiah Natal yang Dewasa dari Diri Saya

Amy Grant merekam lagu "My Grown Up Christmas List" untuk albumnya "Home for Christmas” . Lirik dalam lagu tersebut berisi imaginasi seorang dewasa yang kembali kepada Sinterklas dengan perspektif yang berbeda tentang apa yang dianggapnya paling penting dalam hidup. Alih-alih dari hal-hal yang bersifat materi, penulis lagu kemudian meminta hal-hal yang baik bagi orang lain. Saya menyukai perasaan sentimentil dari lagu tersebut.

That wars would never start
And time would heal all hearts
Everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end
This is my grown-up Christmas list
(Tidak ada lagi kehidupan yang terkoyak
Bahwa perang tidak akan pernah dimulai
Dan waktu akan menyembuhkan semua hati
Semua orang akan memiliki teman
Dan kebenaran akan selalu menang
Dan cinta tidak akan pernah berakhir
Ini adalah daftar permintaan Natal saya - Red.)

Merenungkan Kembali Makna Natal

Natal telah tiba. Natal telah tiba. Hadiah. Hadiah. Hadiah. Acara yang bagus. Meriah suasananya. Natal telah tiba. Dengungan kata dan kalimat ini mengantar kita kembali pada satu titik perenungan bagi setiap orang percaya. Perayaan Natal tahunan yang dihiasi dengan berbagai kesibukan, aneka acara yang menarik, asesoris Natal yang muncul bukan saja di gereja, di rumah bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di kantor-kantor. Apakah hanya sebuah tradisi dan kegiatan tahunan yang mendatangkan keuntungan baik materi maupun nonmateri? Perayaan umat Kristiani yang memang sudah biasa terjadi di akhir tahun. Sebenarnya, apa makna Natal bagi setiap kita sebagai orang percaya? Adakah hanya sebatas sebuah perayaan keagamaan saja? Hanya sebuah momen yang meriah? Hanya waktu libur yang lebih panjang di akhir tahun? Atau, adakah makna lainnya?

Natal Tanpa Yesus

Christmas

Ketika kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu fokus sosok orang yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.

Inkarnasi

Inkarnasi dalam bahasa Latin in carne (Griech.: en sarki; Engl.: in flesh). Dalam Alkitab memang seringkali dikatakan bahwa Yesus Kristus itu menjadi daging. Menjadi suatu perdebatan teologis apakah Yesus Kristus sebelum turun ke dalam dunia sudah mempunyai natur manusia atau Dia menjadi daging baru memiliki natur manusia. Suatu perdebatan yang sulit kalau kita mau diskusikan di sini dan saya juga tidak akan membahas hal ini. Yesus Kristus yang adalah Allah, Allah yang adalah Roh, turun ke dalam dunia dan mengambil tubuh sebagaimana tubuh kita sekarang. Inilah yang disebut sebagai inkarnasi. Kita sulit untuk merenungkan secara tuntas atau menghayati kedalaman maknanya. Kita memiliki tubuh dan daging, di mana ketika dikatakan Kristus menjadi daging, lalu kita melihat diri kita, maka Kristus menjadi seperti saya. Kita tidak mengerti secara tuntas perendahan itu seperti apa karena kita tidak pernah bereksistensi sebagai Roh seperti Allah dan para malaikat.

Hadiah Tanpa Diskon, Hadiah Tanpa Bau Toko

Dikirim oleh: Yvonne Sumilat (sumilatxxx@xxx)

Tibalah bulan Desember,
Belum pernah dilakukan survei, tetapi sebagian ibu-ibu dengan sengaja meluangkan waktu untuk mengunjungi butik dan mal. Dengan tujuan untuk mencari, atau lebih tepatnya membeli baju baru. 'Diskon' menjadi kata kunci keberuntungan yang mengetuk sejuta senyum lebar. Ayo Kaum Hawa....., Engkau jangan pura-pura alergi dengan kata sihir 'diskon'. Karena itu sungguh-sungguh akan menyihirmu menjadi lebih cantik bahkan sangat cantik.

Sebagian ibu-ibu menekankan pada poin 'baru'. Yang penting 'baru'. Sehingga acapkali terlihat kurang arif bahkan sembarang saja memilih warna dan modelnya. Untuk ibu-ibu yang 'rewel' (baca: hati-hati) mau tampil dengan standar yang tinggi. Mereka tidak boleh kelihatan sembarangan. Kalau bisa, terlihat seanggun mungkin, kata orang elegant.

Pages