Perayaan Natal

Semangat Natal: Merayakan Pemberian Kasih Allah

Suasana Natal sudah terasa di mana-mana. Baik di gereja, juga di mal. Lampu-lampu Natal dan hiasan-hiasannya mulai terpasang dan terpajang. Kumandang lagu-lagu Natal pun semakin bisa terdengar kalau kita berjalan di sepanjang koridor toko-toko di pusat perbelanjaan modern. Itukah semangat Natal?

Beberapa waktu lalu saya menonton film yang mencoba mengangkat cerita klasik karya Charles Dicken "A Christmas Carol", ke alam modern. Kisah ini menampilkan sosok Scrooge yang membenci Natal karena hanya menghambur-hamburkan uang. Melalui serangkaian mimpi yang dialaminya -- ia dibawa ke masa lalunya, berpindah ke masa sekarang, dan akhirnya ke saat kematiannya -- ia disadarkan telah kehilangan hal berharga selama ini, yaitu semangat Natal untuk memberi dan berbagi dengan keluarganya (keponakannya) dan dengan orang-orang lain. Jadi semangat Natal adalah berbagi dan memberi?

Tak Ada Natal Keluarga

Aku dibesarkan di tengah keluarga "Bhinneka Tunggal Ika". Orang tuaku adalah orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah "ageming aji" (baju kehormatan diri). Mereka membebaskan anak-anak memilih agamanya masing-masing. Aku sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke sekolah minggu. Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibuku pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini Pancasila, kok. Ada Al- Quran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan!"

Perayaan Natal yang Sejati

Dalam kita merayakan suatu peristiwa yang mulia, yaitu kelahiran Yesus, di mana Allah telah menjadi manusia, kadang-kadang kita diperhadapkan dengan tuduhan bahwa Natal adalah perayaan kafir. Apakah hal itu benar dan apakah kita harus meniadakan perayaan Natal dan pohon terang dan hal-hal lain berkaitan dengan Natal itu?

Dalam artikel ini, pertama, saya mau menjelaskan sedikit tentang latar belakang historis perayaan Natal dan kedua, tentang makna Natal bagi kita dimasa kini.

Latar Belakang Historis Perayaan Natal

Ada tiga sumber asalnya perayaan Natal yang kemudian dipersatukan dalam perayaan Natal yang kini umum di seluruh dunia:

Merenungkan Kembali Makna Natal

Natal telah tiba. Natal telah tiba. Hadiah. Hadiah. Hadiah. Acara yang bagus. Meriah suasananya. Natal telah tiba. Dengungan kata dan kalimat ini mengantar kita kembali pada satu titik perenungan bagi setiap orang percaya. Perayaan Natal tahunan yang dihiasi dengan berbagai kesibukan, aneka acara yang menarik, asesoris Natal yang muncul bukan saja di gereja, di rumah bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di kantor-kantor. Apakah hanya sebuah tradisi dan kegiatan tahunan yang mendatangkan keuntungan baik materi maupun nonmateri? Perayaan umat Kristiani yang memang sudah biasa terjadi di akhir tahun. Sebenarnya, apa makna Natal bagi setiap kita sebagai orang percaya? Adakah hanya sebatas sebuah perayaan keagamaan saja? Hanya sebuah momen yang meriah? Hanya waktu libur yang lebih panjang di akhir tahun? Atau, adakah makna lainnya?

Natal Tanpa Yesus

Christmas

Ketika kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu fokus sosok orang yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.

Menemukan Kedamaian Natal Ini

Masa liburan akan datang menjelang akhir bulan ke-12, mengantarkan ke dalam perubahan suasana sosial yang tampak ajaib. Suasana baru yang berwarna-warni memancar dalam kegelapan malam karena begitu banyak rumah di seluruh negeri dihiasi dengan lampu-lampu yang meriah. Semangat anak-anak ketika mereka menantikan kedatangan seorang pribadi, Sinterklas, mengudara di mana-mana. Nyanyian bersama merayakan kelahiran Yesus Kristus memenuhi kota-kota kecil ketika lonceng gereja lokal mendentangkan irama-irama lagu Malam Kudus dan di Dalam Palungan yang begitu merakyat. Perayaan adalah tema liburan ini, dan kenyataan hidup dengan segala cacat cela dan rasa sakit, terhapus di sudut keheningan yang gelap.

Sebuah Gambaran Besar

Karena artikel ini, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu Anda, wahai kaum muda, tentang sesuatu yang paling mengesalkan kami, orang-orang dari generasi sebelum Anda, terkait dengan perayaan Natal. Seperti yang Anda ketahui, saat ini, ada banyak orang yang merayakan Hari Natal secara dangkal. Orang-orang Kristen tentu cukup sadar bahwa perayaan Natal seharusnya lebih dari sekadar pesta dan seharusnya ada kaitannya dengan figur Yesus. Akan tetapi, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal?

Natal Kok Bikin Kesal?

Natal adalah kabar sukacita. Yesus lahir ke dunia. Dia tokoh sentral dalam peristiwa Natal. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit perayaan Natal yang mengabaikan tokoh sentral itu. Orang ramai bertukar kado, tetapi Yesus yang kelahiran-Nya diperingati justru terabaikan, bahkan cenderung dilupakan.

Merayakan Natal dengan Cara Yesus

Allah merendahkan diri-Nya bagi kita dalam peristiwa Natal. Maukah Anda melakukan hal yang sama bagi orang lain?

Sebagai orang-orang kristen, kita mengetahui cerita natal dengan baik. Yesus adalah hadiah (Natal) dari Allah bagi kita. Karena itu, pada saat natal, kita merayakannya dengan cara memberikan hadiah kepada orang-orang yang kita kasihi. Akan tetapi, saya pikir kita telah melupakan sesuatu yang penting -- cerita Natal adalah cerita yang sedikit lebih dalam dari sekadar membagikan hadiah.