Skip to main content

Bahan Terbaru

Selamat Natal 2014

2000 tahun yang lalu

Dia lahir. Bukan di istana yang megah atau rumah yang nyaman, melainkan di kandang domba yang sederhana. Maria dan Yusuf yang sederhana terpilih untuk menjadi orang tua-Nya, bukan seorang Raja, bangsawan, ataupun orang-orang dari kalangan terpandang. Dia memilih rupa seorang manusia yang sederhana, bukan pribadi yang flamboyan, yang akan mempesona banyak orang. Jalan hidup yang dipilih-Nya pun sederhana saja, sebagai seorang tukang kayu dan guru.

Hadiah Tanpa Diskon, Hadiah Tanpa Bau Toko

Dikirim oleh: Yvonne Sumilat (sumilatxxx@xxx)

Tibalah bulan Desember,
Belum pernah dilakukan survei, tetapi sebagian ibu-ibu dengan sengaja meluangkan waktu untuk mengunjungi butik dan mal. Dengan tujuan untuk mencari, atau lebih tepatnya membeli baju baru. 'Diskon' menjadi kata kunci keberuntungan yang mengetuk sejuta senyum lebar. Ayo Kaum Hawa....., Engkau jangan pura-pura alergi dengan kata sihir 'diskon'. Karena itu sungguh-sungguh akan menyihirmu menjadi lebih cantik bahkan sangat cantik.

Sebagian ibu-ibu menekankan pada poin 'baru'. Yang penting 'baru'. Sehingga acapkali terlihat kurang arif bahkan sembarang saja memilih warna dan modelnya. Untuk ibu-ibu yang 'rewel' (baca: hati-hati) mau tampil dengan standar yang tinggi. Mereka tidak boleh kelihatan sembarangan. Kalau bisa, terlihat seanggun mungkin, kata orang elegant.

Natal di Hatiku

Seperti palungan,
Layakkanlah hatiku menyambutMu Tuhan,
Seperti emas, kemenyan dan mur,
Biar hidupku berkenan padaMu.

Sebab Natal tak akan berarti tanpa kasihMu lahir di hatiku,
Hanya bersamaMu Yesus kurasakan selalu indahnya Natal di hatiku.

Natal – Sebuah Ironi

Natal – Sebuah Ironi

Karya: Ivonne Maranatha
Artikel seputar Natal (02122014)

Tanpa terasa, sekarang kita sudah memasuki penghujung tahun, yaitu bulan Desember, bulan yang dapat dikatakan cukup istimewa, khususnya bagi umat kristiani, karena sebentar lagi kita akan memperingati kelahiran Yesus Kristus (baca: Natal). Kemeriahan dan sukacita dalam menyambut Natal sudah dapat kita rasakan mulai awal bulan ini. Lagu-lagu Natal sudah banyak digaungkan. Mal-mal di kota-kota besar mulai berlomba menghadirkan suasana Natal di tempat mereka masing-masing. Mulai dari membuat pohon Natal setinggi-tingginya dan seindah mungkin, menghadirkan Santa Claus beserta dengan patung rusa-rusa yang setia menemaninya, menciptakan suasana musim salju dengan hempasan gabus-gabus putih di dalam mal, menghias ruangan dengan pernak pernik berwarna merah, hijau, putih, hingga menyusun dekorasi-dekorasi kreatif lainnya yang berkaitan dengan Natal. Dekorasi-dekorasi Natal di mal-mal tersebut seolah menjadi magnet bagi khalayak untuk datang berbondong-bondong, untuk berbelanja pernak-pernik Natal, ataupun sekadar mengabadikan momen indah bersama keluarga dan sahabat.

Sebuah Gambaran Besar

Karena artikel ini, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu Anda, wahai kaum muda, tentang sesuatu yang paling mengesalkan kami, orang-orang dari generasi sebelum Anda, terkait dengan perayaan Natal. Seperti yang Anda ketahui, saat ini, ada banyak orang yang merayakan Hari Natal secara dangkal. Orang-orang Kristen tentu cukup sadar bahwa perayaan Natal seharusnya lebih dari sekadar pesta dan seharusnya ada kaitannya dengan figur Yesus. Akan tetapi, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal?