Masa Terberat dalam Setahun

Berduka karena Penderitaan dan Kehilangan saat Natal

Masa Natal mengandung harapan yang sulit. Harapan yang sering kali lebih mirip dengan gambar di kartu Hallmark daripada harapan yang damai tentang merayakan kelahiran Kristus. Kita membayangkan pertemuan meriah dengan keluarga dan teman, hadiah yang dibungkus penuh warna di bawah pohon yang dihias, dan makanan lezat di atas meja dengan orang-orang terkasih yang duduk mengelilinginya.

Padahal bagi yang pernah mengalami kehilangan, hari libur sering kali mendatangkan ketakutan. Saya ingat situasi yang membuat saya tidak bahagia ketika saya akan menghadapi Natal pertama setelah kematian putra saya. Dunia saya telah berhenti, tetapi semua orang tampaknya bergerak maju. Saya ingat keputusasaan sebelum liburan setelah diagnosis sindrom pascapolio saya, ketika saya diberitahu untuk tidak membungkus hadiah, berbelanja hadiah, atau mengundang orang untuk makan malam seperti yang saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dan, saya merasa ngeri ketika memikirkan betapa hancurnya perasaan saya pada Natal pertama setelah suami saya pergi, ketika saya terhuyung-huyung dari puing-puing keluarga kami yang hancur. Sukacita bagi dunia, terutama dunia saya, tampaknya mustahil.

Dalam tahun seperti tahun yang kita miliki, ketika kehilangan dan kesedihan sangat mendalam bagi banyak orang, ketika kita kehilangan kesehatan, impian, orang yang kita cintai, pekerjaan, rasa aman, kita bertanya-tanya bagaimana kita bisa memiliki sukacita. Kata-kata John Piper memberi kita sebuah penghubung:

Sesekali, menangislah dalam-dalam atas kehidupan yang Anda harapkan. Berdukalah atas kehilangan. Rasakanlah sakitnya. Kemudian basuhlah wajah Anda, percayalah pada Allah, dan terimalah hidup yang telah diberikan-Nya kepada Anda.

Mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya, yang menjamin Allah kita menyertai kita. Kita tidak akan pernah berjalan sendiri.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Menerima kehidupan yang telah Allah berikan kepada kita jauh lebih baik daripada hanya bertahan hidup. Itu berarti dengan sengaja hidup pada masa sekarang, mengakui apa yang sulit, dan memilih untuk percaya di tengahnya. Itu berarti menerima di mana kita berada dalam hidup saat ini meskipun tentu saja berduka karena apa yang kita inginkan berbeda. Itu berarti menghadapi dan mengenali kekecewaan kita, tetapi tidak membiarkannya membatasi kita.

Berdukacita atas Kehilangan dan Percaya pada Allah

Bagaimana kita beralih dari berduka atas kehilangan ke menerima masa kini? Cara terbaik yang saya tahu adalah dengan melakukan ratapan kudus. Gagasan meratap telah menjadi lebih populer dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kadang-kadang disalahartikan sebagai marah kepada Allah, meneriakkan apa pun yang kita inginkan dalam kemarahan yang membara. Sederhananya, itu adalah dosa. Akan tetapi, pada ekstrem yang lain, adalah juga salah untuk berpaling dari Allah dalam kekecewaan, mendiamkan-Nya.

Saya menarik diri dari Allah dalam kesedihan saya setelah kematian putra saya. Saya merasa Allah telah mengecewakan saya, dan saya ragu untuk mendekat kepada Dia yang menurut saya seharusnya dapat mencegah kesusahan itu. Saya rasa kehadiran-Nya tidak akan menghibur saya. Meskipun kehilangan yang tanpa berduka membuat hati saya mengeras, menyembur keluar dengan cara yang merusak, menghabiskan waktu bersama-Nya terasa seperti rutinitas yang hambar. Jadi, saya menyingkirkan kesedihan saya, percaya bahwa cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan mengabaikan kesedihan saya. Dan, mengabaikan Allah.

Akan tetapi, ketika jarak saya dari Allah bertambah, begitu pula kekosongan saya. Saya menyadari tidak ada tempat lain untuk dituju karena hanya Yesus yang memiliki firman kehidupan. Jadi, saya kembali kepada Allah dan duduk bersama-Nya, Alkitab terbuka, bergumul dengan kesedihan saya. Saya menemukan bahwa Alkitab memberi contoh bagi kita cara untuk meratap.

Mendekat dengan Rasa Sakit

Sepanjang halaman-halaman Kitab Suci, kita melihat cara untuk dengan jujur berseru kepada Tuhan kita dalam kesusahan kita. Allah ingin kita mendekat kepada-Nya (Yakobus 4:8), dan Dia mengundang kita untuk mencurahkan keluhan dan masalah kita (Mazmur 142:2).

Kita dapat memberi tahu Dia bahwa kita telah lupa apa itu kedamaian dan kebahagiaan dan bahwa kita telah kehilangan pengharapan (Ratapan 3:17-18). Atau, menyatakan bahwa tidak ada yang terasa aman, dan sepertinya tidak ada yang peduli pada kita (Mazmur 142:4). Namun, kita yakin bahwa Dia peduli terhadap air mata dan kesengsaraan kita (Mazmur 56:8), sehingga kita dapat dengan berani meminta-Nya untuk membebaskan kita dari air yang dalam (Mazmur 69:13-14) dan untuk mendengarkan keinginan kita dan meneguhkan hati kita (Mazmur 10:17). Ratapan selesai saat kita menyatakan kepercayaan kita kepada Allah (Mazmur 28:7) dan mengingat semua yang telah Dia lakukan saat kita mengucapkan kembali janji-Nya kepada-Nya (Mazmur 77:11-14).

Mazmur ratapan itu sangat pribadi. Mereka ada dalam orang pertama -- orang-orang yang berbicara langsung kepada Allah, bukan tentang Dia. Mereka tidak berpegang teguh pada Allah, tetapi lebih merupakan bukti kepercayaan yang mendalam ketika para penulis mengungkapkan pergumulan-pergumulan mereka, lahir dan batin.

Ratapan Membawa kepada Janji

Dalam hidup saya, ratapan telah menjadi pendamping dalam perjalanan menuju sukacita. Setelah meratap kepada Allah, saya dapat sepenuhnya mendengar dan menerima janji-janji-Nya. Saya lebih percaya pada Allah. Saya merasa didengar dan dipahami. Saya tidak menyembunyikan kebencian yang membara atau ketidakpedulian yang tidak berperasaan. Saya rindu untuk mendekat kepada Allah, untuk mengalami penghiburan dan jaminan-Nya. Yesaya adalah kitab penghiburan saya, di mana Allah berbicara kepada umat-Nya secara langsung, meyakinkan kita bahwa:

Dia menyertai kita. "Jangan takut, karena Aku menyertaimu. Jangan khawatir karena Aku adalah Allahmu. Aku akan menguatkanmu. Aku akan menolongmu" (Yesaya 41:10, AYT). "Ketika kamu menyeberangi perairan, Aku akan menyertaimu" (Yesaya 43:2, AYT).

Dia telah menebus kita. "Aku telah menghapus pelanggaranmu seperti awan tebal dan dosa-dosamu seperti kabut yang tebal. Kembalilah kepada-Ku, karena Aku telah menebusmu" (Yesaya 44:22, AYT).

Dia tidak melupakan kita. "Aku tidak akan melupakanmu. Sesungguhnya, Aku telah mengukir kamu di kedua telapak tangan-Ku" (Yesaya 49:15-16, AYT).

Dia akan menggendong kita. "[Kamu] telah Kutopang sejak dalam kandungan, dan telah Kubawa sejak lahir. Bahkan, sampai masa tuamu, Aku tetap Dia dan sampai putih rambutmu Aku akan menggendongmu" (Yesaya 46:3-4, AYT).

Janji-janji Allah sungguh luar biasa. Hal itu berpaut pada janji Imanuel, Mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya, yang menjamin Allah kita menyertai kita. Kita tidak akan pernah berjalan sendiri.

Menerima Imanuel dalam Kesukaran

Gambar: malam Natal

Bagaimana kita memasuki masa Natal ini, ketika kehilangan selalu terasa, selalu hadir tanpa menyerah? Bagaimana kita menemukan sukacita ketika itu dahulu juga sedikit, dan hidup kita terasa kosong dan hampa? Bagaimana kita merayakan kelahiran Kristus ketika tidak ada apa pun di sekitar kita yang terasa meriah?

Kita meratap. Kita membaca Alkitab, bahkan ketika terasa kering, mencari kata-kata yang mengungkapkan perasaan kita dan kata-kata yang menyatakan janji-janji Allah. Kita berdoa, bahkan ketika kita tidak menyukainya, berseru kepada Allah dalam kesusahan kita dan tidak menarik diri dalam kemarahan atau ketidakpedulian. Kita tidak berpaling dari penderitaan kita atau menutupinya dengan basa-basi. Kita duduk bersama Allah kita, memberitahukan kekecewaan dan sakit hati kita. Kita berduka atas apa yang ada dan menerima apa yang ada, sambil merenungkan kasih-Nya yang besar bagi kita.

Dan, saat kita melakukan hal-hal itu, mata kita akan terbuka terhadap kebenaran firman Allah, janji-janji luar biasa yang Dia buat untuk kita, dan pemberian diri Kristus sendiri yang tak ternilai.

Anda tidak perlu mengumpulkan sukacita sendiri pada Natal ini. Dekatkanlah diri Anda kepada Allah. Katakan pada-Nya bagaimana perasaan Anda. Curahkan isi hati Anda kepada-Nya (Mazmur 62:8), dan terimalah janji dan sukacita Imanuel, karena Allah kita benar-benar menyertai kita. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/the-hardest-time-of-year
Judul asli artikel : The Hardest Time of Year
Penulis artikel : Vaneetha Rendall Risner

Sumber Title: 
The Hardest Time of Year