Belajar dari Gereja yang Teraniaya Selama Masa Adven

Kita biasanya memikirkan tema-tema seperti pengharapan, kerinduan, dan penantian selama masa Adven. Penganiayaan, pada sisi lain, mungkin tidak terpikirkan oleh kebanyakan orang Kristen. Akan tetapi, masa Adven dapat menghadirkan kesempatan unik untuk belajar dari saudara-saudari kita di dalam Kristus di seluruh dunia yang sedang menderita karena iman mereka.

Sekarang sebelum Anda mulai berpikir, "Oh, bagus, dia akan membuat saya merasa bersalah karena saya menantikan hadiah dan waktu bersama keluarga saya sementara orang Kristen lainnya menderita," dengarkan saya. Saya sedang memikirkan gambaran yang lebih besar.

Sebuah Tema Kuno

Gambar: gereja

Tema penganiayaan adalah tema yang sekuno Habel dan Abraham dan anak-anak Israel yang hidup sebagai budak di Mesir. Banyak nubuat tentang Mesias yang akan datang disampaikan kepada mereka yang ditindas oleh bangsa-bangsa asing. Singkatnya, umat Allah secara konsisten menghadapi pertentangan, dan pertentangan ini telah membuat mereka merasakan kerinduan akan kehadiran Allah dan kasih karunia-Nya pada masa depan. Kerinduan semacam ini ditangkap dengan baik oleh pemazmur:

Kiranya keselamatan bagi orang Israel datang dari Sion! Ketika TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, Yakub akan bersukacita, Israel akan bergembira. (Mazmur 14:7, AYT)

Masa Adven seharusnya membuat kita merenungkan bagaimana Allah memenuhi kerinduan dan pengharapan ini pada kedatangan Kristus yang pertama. Sebenarnya, kata kedatangan berarti "akan datang". Akan tetapi, Kitab Suci tidak hanya berbicara tentang satu adven, atau kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus yang pertama harusnya membuat kita untuk melihat dengan pengharapan dan penantian terhadap kedatangan-Nya yang kedua. Dan, di sinilah gereja yang teraniaya dapat membantu kita.

Contoh Saat Ini

Open Doors pernah membagikan kisah Jamil, seorang Kristen di Yaman yang dilanda perang, yang bertobat dari Islam. Menjadi pengikut Kristus di Yaman sering memiliki konsekuensi serius, termasuk pengucilan dari keluarga atau suku Anda, atau bahkan kematian. Jadi, bagaimana Anda bertahan dengan setia dalam konteks seperti ini? Berikut renungan Jamil:

"Sebagai orang Kristen, kami merasa seperti orang asing di negara kami sendiri. Perang telah memfokuskan kami pada apa yang benar-benar penting -- mengikuti Kristus -- bahkan jika itu mengorbankan nyawa kami. Alkitab sangat jelas tentang apa yang dapat kami harapkan; penderitaan adalah bagian dari kehidupan bagi mereka yang mengikut Kristus. Inilah sebabnya mengapa banyak orang Kristen Yaman sangat merindukan Yesus datang kembali. Kami kehilangan begitu banyak; kami menjangkau kedamaian abadi yang akan Dia bawa suatu hari nanti -- semoga segera!" [1]

Bagi orang Kristen yang dianiaya seperti Jamil, kedatangan Kristus yang kedua kali berarti akan menjadi akhir dari penganiayaan dan penderitaan dan pintu masuk ke perhentian abadi. Pencobaan yang mereka alami membuat mereka untuk melihat melampaui keadaan mereka saat ini dan untuk menaruh pengharapan mereka pada janji-janji Allah untuk masa depan mereka. Dalam pengertian ini, mereka meniru teladan orang-orang beriman yang telah mendahului mereka:

Dalam iman, mereka semua telah mati tanpa menerima apa yang dijanjikan, tetapi dengan melihat dan menyambutnya dari jauh, mereka menyadari bahwa mereka hanyalah para orang asing dan pendatang di bumi. Mereka yang berbicara demikian jelas menunjukkan bahwa mereka sedang mencari tanah air. (Ibrani 11:13-14, AYT)

Tentunya ada pelajaran bagi kita di sini selama masa Adven ini.

Penerapan Saat Ini

Kedatangan Kristus yang pertama harusnya membuat kita untuk melihat dengan pengharapan dan penantian terhadap kedatangan-Nya yang kedua.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Meskipun tidak semua orang Kristen menghadapi jenis atau tingkat pertentangan yang sama untuk iman mereka, Kitab Suci mengajarkan bahwa "semua orang yang ingin hidup saleh di dalam Yesus Kristus akan dianiaya" (2 Timotius 3:12, AYT). Oleh karena itu, kita perlu mengikuti teladan orang-orang percaya yang dianiaya dahulu dan sekarang, dengan menaruh pengharapan kita pada kasih karunia Allah di masa depan (Ibrani 6:11-12). Dan, dengan mengikuti jejak mereka, kita sebenarnya mengikuti panduan Kitab Suci.

Alkitab terus-menerus mendorong semua orang Kristen untuk hidup dalam terang pengharapan masa depan kita (Roma 8:18; 2 Korintus 4:16-18; 1 Petrus 1:3-9). Kita mampu bertahan saat kita menanti-nantikan hari di mana setiap air mata akan dihapus dan umat Allah akan tinggal bersama-Nya untuk selamanya di langit yang baru dan bumi yang baru (Wahyu 21:1-4). Harapan inilah yang membantu kita bertahan sampai akhir.

Tentu saja, Allahlah yang menopang iman kita dalam kasih karunia-Nya yang akan datang (1 Petrus 1:5), jadi kita tidak perlu takut bahwa kita tidak akan dapat mempertahankan fokus yang berorientasi pada masa depan ini. Akan tetapi, kita harus bersemangat untuk belajar dari saudara-saudari kita di dalam Kristus yang saat ini sedang menanggung penganiayaan dengan menaruh pengharapan mereka pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Kapan lagi waktu yang lebih baik untuk belajar dari dan meniru teladan mereka selain masa Adven? (t/Jing-Jing)

[1] Open Doors, "Merindukan Kembalinya Yesus," 22 Maret 2017 (diakses di: https://www.opendoorsusa.org/take-action/pray/longing-for-jesus-return/).

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Radical
Alamat situs : https://radical.net/articles/learning-from-the-persecuted-church-during-advent/
Judul asli artikel : Learning from the Persecuted Church During Advent
Penulis artikel : David Burnette

Sumber Title: 
Learning from the Persecuted Church During Advent