Tiada yang Mustahil bagi Allah

Natal Melalui Mata Sang Ibu

"Akan tetapi, ketika hari penggenapan tiba, Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan" (Galatia 4:4, AYT). Tetapi sedikit dari banyak orang yang berdoa dan menantikan kedatangan Mesias mengenali-Nya ketika Dia datang. Cara dan bentuk kedatangan-Nya, seperti puncak misi penyelamatan-Nya sekitar tiga dekade kemudian, tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Keduanya lebih menakjubkan dan luar biasa daripada yang dibayangkan siapa pun. Natal benar-benar membuktikan bahwa "tidak ada hal yang mustahil bagi Allah" (Lukas 1:37, AYT) -- sesuatu yang disaksikan oleh dua ibu, Maria yang remaja dan Elisabet yang setengah baya, dengan cara yang luar biasa spesial.

Lukas menceritakan kisah malaikat Gabriel menyampaikan janji ilahi yang berbeda kepada Zakharia, tentang Yohanes Pembaptis, dan kepada Maria, tentang Yesus sang Mesias. Setiap catatan menceritakan bagaimana orang-orang kudus ini menanggapi Allah dengan iman. Dan tanggapannya berbeda. Kedua benang itu dijalin dengan indah saat Maria melakukan perjalanan untuk tinggal bersama istri Zakharia, Elisabet. Pada akhirnya, kita melihat kasih karunia penebusan Allah terwujud dalam keduanya.

Natal memang mengingatkan kita bahwa "tidak ada hal yang mustahil bagi Allah"
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Bayangkan percakapan antara Maria dan Elisabet, tak lama setelah momen yang mencengangkan ketika, saat bertemu untuk pertama kalinya sejak keduanya hamil secara tak terduga, mereka masing-masing bersemangat dalam penyembahan (Lukas 1:39-55).

Kedua wanita itu berdiri di dekat ambang pintu sejenak dalam keheningan yang suci, mata mereka yang berkaca-kaca saling menatap dalam keajaiban suci, tangan mereka di perut memegang anak-anak suci -- perut Elisabet terlihat membesar. Kemudian Elisabet dengan tenang mengulangi apa yang baru saja diserukan oleh Maria, "Kuduslah nama-Nya."

Maria menarik napas dalam dan memantapkan dirinya di tiang pintu. Sebuah kandungan ajaib tidak menghindarkan dirinya dari gelombang mual awal kehamilan. "Oh, Maria! Ayo duduk. Maafkan aku yang tidak peka." Elisabet mengajaknya ke bangku dekat meja. "Kamu pasti lelah -- dan lapar! Kapan terakhir kali kamu makan?"

"Pagi ini," kata Maria. Elisabet menyajikan dua roti kecil di piring.

"Yah," kata Elisabet, menambahkan segugus anggur yang segar, "tidak heran kamu merasa lemah!" Beberapa buah kurma dan zaitun ditambahkan, dan dia meletakkan hidangan itu di hadapan ibu muda itu, yang belum berusia enam belas tahun. "Makanlah!" perintahnya dengan kebaikan seorang ibu, sambil menuangkan dua gelas air. "Apakah kamu berjalan kaki jauh-jauh dari Nazaret?"

"Tidak berjalan kaki terus-terusan," Maria tersenyum. "Allah mengirimkan kepada saya beberapa orang asing yang baik hati dengan gerobak."

Saat Elisabet menyerahkan gelasnya kepada Maria, dia berkata, "Kamu pasti berjalan, sekitar, empat hari?" Kemudian dia berhenti dan menatap Maria sejenak, bingung. "Apa yang membawamu ke sini, Maria?"

"Aku diberi tahu bahwa kamu juga sedang mengandung," jawab Maria, "dan aku tahu kamu, lebih dari siapa pun, akan memahami ... situasiku."

"Tapi hampir tidak ada yang tahu aku hamil," kata Elisabet. "Kami merahasiakannya selama lima bulan. Aku baru-baru ini mulai memberi tahu orang lain. Siapa di Nazaret yang mungkin sudah tahu?"

Maria berhenti, dan kemudian berkata, "Seorang malaikat memberi tahu aku."

Elisabet tersenyum penuh pengertian. "Ah, aku punya firasat," katanya. "Apakah itu Gabriel?"

Mata Maria melebar. "Ya! Apa dia juga datang padamu?" dia bertanya.

"Bukan aku. Zakharia -- ketika dia mempersembahkan dupa di bait suci."

"Apa yang dia katakan kepada Zakharia?"

"Yah," kata Elisabet, "aku belum yakin aku punya cerita lengkapnya. Zakharia belum bisa membicarakannya."

"Apakah dia tidak diizinkan memberitahumu?" tanya Maria.

"Tidak, dia diizinkan; dia hanya tidak bisa memberitahuku. Malaikat itu membuatnya jadi tuli dan bisu. Zakharia bisa menulis, tapi di antara orang-orang yang tahu bahwa kami sedang menunggu kehadiran anak (aku hamil) tidak ada yang bisa membaca. Jadi, yang kutahu adalah apa yang aku kumpulkan dari gerakan tangan dan membaca bibir. Tapi, aku tahu bahwa malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya, mengatakan kepadanya bahwa kami akan memiliki seorang anak -- setelah bertahun-tahun! -- bahwa kami harus menamainya Yohanes, bahwa dia tidak suka anggur atau minuman keras, dan bahwa dia akan menjadi nabi seperti Elia."

Maria melihat ke bawah sambil berpikir. Kemudian dengan pelan, hampir berbicara pada dirinya sendiri, berkata, "Elia ... 'Lihatlah, Aku akan mengutus Nabi Elia kepadamu' ..."

Elisabet mengikuti kutipan itu dan menyelesaikannya, "... sebelum kedatangan hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu" (Maleakhi 4:5, AYT). Mereka kembali saling memandang dalam keajaiban suci, dan secara naluriah lagi meletakkan tangan mereka di perut suci mereka.

Kemudian Elisabet berkata, "Itu sebabnya dia melompat, Maria!" Dia meraih tangan Maria. "Itulah mengapa bayiku Yohanes melompat kegirangan ketika kami mendengar suaramu! Dia tidak hanya bersukacita mendengar suara ibu Tuhan kita. Dia merasakan kehadiran Pribadi yang harus dia persiapkan!" Keheningan suci lainnya. Air mata suci mengalir lagi. Roh Kudus hadir dengan penuh kuasa.

"Apakah malaikat memberimu nama untuk anakmu?" tanya Elisabet.

"Dia berkata, 'Kamu harus memanggil namanya Yesus,'" kata Maria. "Yesus ..." Elisabet menikmati, "Nama Mesias itu adalah Yesus ... Yahweh menyelamatkan. Tentu saja, itulah namanya."

"Dan nama Yohanes-mu," kata Maria. "Yahweh itu murah hati." Elisabet menundukkan kepalanya untuk membendung air matanya.

"Tuhan sangat, sangat murah hati untuk memberikan wanita tua yang dipermalukan dengan kemandulan ini hak istimewa untuk membawa nabi-Nya ke dunia." Kemudian melihat ke atas, dia berkata, "Dan, untuk membawa ibu muda Tuhanku ..." Kemudian, ia tersadar.

"Maria! Apakah kamu menikah, tapi aku tidak mendengarnya?

"Tidak," jawab Maria, "aku masih bertunangan -- dengan Yusuf." Elisabet tampak lebih bingung. "Aku tidak pernah bersama Yusuf, atau pria mana pun," kata Maria pelan. "Malaikat itu memberitahuku, 'Roh Kudus akan datang atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungimu. Itulah sebabnya, Anak yang akan lahir itu adalah kudus dan akan disebut Anak Allah.'"

Elisabet ternganga heran. Kemudian dia meletakkan tangannya ke mulutnya dan matanya bersinar dengan sukacita. " Itulah artinya!" dia berkata.

"Apa?" tanya Maria.

Elisabet berkata, "Kata-kata yang keluar ketika aku melihatmu: 'Berbahagialah dia yang percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan digenapi.' Aku tahu bahwa Roh Kudus menggerakkan aku untuk berbicara, dan sekarang aku tahu sepenuhnya apa arti kata-kata itu: Kamu percaya! Kamu memercayai malaikat Tuhan, bahkan ketika dia memberi tahu kamu bahwa kehamilanmu akan menjadi keajaiban -- kehamilan yang belum pernah dialami orang lain!" Maria tersenyum lembut.

Sambil meraih tangan Maria lagi, Elisabet berkata, "Tidak semua kita memiliki iman yang begitu besar, Maria. Zakharia tidak akan keberatan jika aku memberitahumu tentang ini. Seperti yang kukatakan, aku belum tahu semua detailnya, tetapi aku tahu malaikat itu membuat Zakharia bisu karena, ketika dia mendengar pesan malaikat itu, rasanya tidak bisa dipercaya. Maksudku, kami sudah tua. Kami telah berhenti berharap. Bagaimanapun, Zakharia entah bagaimana meragukan Gabriel dan dia diganjar karenanya."

Maria tersenyum dan berkata, "Ketika malaikat memberi tahuku bahwa aku hamil, dia berkata, 'karena tidak ada hal yang mustahil bagi Allah.'"

"Dia mengatakan itu?" tanya Elisabet.

Maria mengangguk dan berkata, "Merupakan karunia bagiku untuk mengetahui bahwa aku tidak sendirian -- bahwa ada seseorang yang akan memahami ... situasiku. Tapi, aku pikir itu mungkin karunia untukmu juga, untuk membantu kamu mengetahui bahwa Allah bermurah hati kepada mereka yang Dia panggil untuk memercayai apa yang tampaknya mustahil bagi mereka."

Gambar: Maria dan Yesus

"Oh, Allah itu murah hati," kata Elisabet. Air mata mengalir lagi. "Tapi kamu, Maria yang dikasihi. Kami bergumul untuk memercayai janji Allah atas apa yang tampak mustahil bagi kami. Tapi, kamu percaya janji Allah atas apa yang sebenarnya tidak mungkin bagi manusia. Kamu tidak perlu diyakinkan bahwa tidak ada hal yang mustahil bagi Allah.

"Hai Maria, diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah kandunganmu. Dan, kuduslah nama-Nya." Elisabet berhenti hanya untuk menikmatinya lagi. "Yesus."

Tanggapan Zakharia dan Maria yang berbeda terhadap pemberitahuan Gabriel sesuai dengan pola yang dijalin di seluruh Kitab Suci: orang-orang kudus mengalami saat-saat mulia dari iman yang besar dan saat-saat tersandung, iman yang lemah. Dan, biasanya semakin banyak Kitab Suci memberitahu kita tentang kehidupan orang-orang kudus, semakin besar kemungkinan kita melihat mereka mengalami kedua jenis momen tersebut. Yang merupakan rahmat bagi kita, karena "kita semua bersalah dalam banyak hal" (Yakobus 3:2, AYT) dan tahu bagaimana rasanya menangis, "Aku percaya! Tolonglah ketidakpercayaanku!" (Markus 9:24, AYT).

Natal ini, apa pun janji Allah yang sedang Anda gumulkan untuk percayai, ingatlah Yesus -- bahwa Yahweh menyelamatkan. Dan, ingatlah Yohanes -- bahwa Yahweh itu murah hati. Dan, bahkan jika Anda, seperti Zakharia, bergumul untuk memercayai janji Allah karena tampaknya mustahil untuk menjadi kenyataan, Allah masih berbelas kasih kepada Anda, bahkan jika itu berarti Dia mendisiplin Anda terlebih dahulu untuk menolong Anda melihat dan menerima kasih setia dan belas kasihan-Nya.

Natal memang mengingatkan kita bahwa "tidak ada hal yang mustahil bagi Allah" (Lukas 1:37, AYT).

(t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/nothing-will-be-impossible-with-god
Judul asli artikel : Nothing Will Be Impossible with God
Penulis artikel : Jon Bloom

Sumber Title: 
Nothing Will Be Impossible with God