Skip to main content

Bahan Terbaru

Hakikat Natal

lonceng-lonceng dan genta-genta
berdentang-dentang pada hari natal
lagu-lagu natal yang sudah kita kenal
o, betapa indah seru nafiri dari langit
"damai sejahtera di bumi, di antara
manusia yang berkenan kepadaNya!"

umpama pada hari natal
lonceng genta di semua gereja
tiada henti melagukan tembang sama
"damai sejahtera di bumi, di antara
manusia yang berkenan kepadaNya!"

mungkin kita lalu putus asa dan terluka
sebab damai di bumi sudah langka
hasrat berkuasa manusia makin riuh
buah-buahnya, o, mengerikan
sang tembang kedamaian
menjadi lagu olok-olok

"damai sejahtera di bumi, di antara
manusia yang berkenan kepadaNya!"
hohohuhuhaha, olok-olok jalan terus
tapi tembang damai bergulir terus
dentang gemanya semakin lantang

siapa berkenan kepadaNya berderap
siapa berkehendak baik berpadu
dengan butir-butir waktu
dengan pernik-pernik ruang

Hadiah Natal Terindah

Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya. Karenanya, apa yang terjadi pada suatu malam Natal tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tetapi di kantong Egar hanya terdapat 10 dolar, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, tempat dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu Natal terdengar di mana-mana, senyum dan salam Natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin.

Merenungkan Kembali Makna Natal

Natal telah tiba. Natal telah tiba. Hadiah. Hadiah. Hadiah. Acara yang bagus. Meriah suasananya. Natal telah tiba. Dengungan kata dan kalimat ini mengantar kita kembali pada satu titik perenungan bagi setiap orang percaya. Perayaan Natal tahunan yang dihiasi dengan berbagai kesibukan, aneka acara yang menarik, asesoris Natal yang muncul bukan saja di gereja, di rumah bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di kantor-kantor. Apakah hanya sebuah tradisi dan kegiatan tahunan yang mendatangkan keuntungan baik materi maupun nonmateri? Perayaan umat Kristiani yang memang sudah biasa terjadi di akhir tahun. Sebenarnya, apa makna Natal bagi setiap kita sebagai orang percaya? Adakah hanya sebatas sebuah perayaan keagamaan saja? Hanya sebuah momen yang meriah? Hanya waktu libur yang lebih panjang di akhir tahun? Atau, adakah makna lainnya?

Natal Tanpa Yesus

Christmas

Ketika kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu fokus sosok orang yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.

Bagaimana mereka akan mengenal Dia?

Lukas 2:11,12

Kita tidak ada di sana untuk menyaksikannya tetapi sama seperti para gembala, kita akan melihat tanda dan mengenali Dia. Injil Lukas memberikan gambaran yang sangat hidup tentang malam Natal pertama itu. Melalui firman yang tertulis kita dapat mengenal Firman yang Hidup.

Bagi ratusan suku bangsa di Indonesia, cerita dari Injil Lukas ini tidak dikenal. Dan Kristus, Firman Yang Hidup, walaupun disediakan untuk semua orang, seringkali tidak dikenali oleh berjuta-juta orang karena firman Tuhan yang tertulis belum tersedia dalam bahasa mereka.

Anda dapat mengambil bagian dalam membawa Alkitab bagi orang-orang yang masih menunggu. Anda dapat memberi diri untuk berdoa dengan setia bagi suku-suku bangsa yang belum memiliki firman Tuhan.

Mendengar lagi kisah Natal . . . untuk pertama kali

Inkarnasi

Inkarnasi dalam bahasa Latin in carne (Griech.: en sarki; Engl.: in flesh). Dalam Alkitab memang seringkali dikatakan bahwa Yesus Kristus itu menjadi daging. Menjadi suatu perdebatan teologis apakah Yesus Kristus sebelum turun ke dalam dunia sudah mempunyai natur manusia atau Dia menjadi daging baru memiliki natur manusia. Suatu perdebatan yang sulit kalau kita mau diskusikan di sini dan saya juga tidak akan membahas hal ini. Yesus Kristus yang adalah Allah, Allah yang adalah Roh, turun ke dalam dunia dan mengambil tubuh sebagaimana tubuh kita sekarang. Inilah yang disebut sebagai inkarnasi. Kita sulit untuk merenungkan secara tuntas atau menghayati kedalaman maknanya. Kita memiliki tubuh dan daging, di mana ketika dikatakan Kristus menjadi daging, lalu kita melihat diri kita, maka Kristus menjadi seperti saya. Kita tidak mengerti secara tuntas perendahan itu seperti apa karena kita tidak pernah bereksistensi sebagai Roh seperti Allah dan para malaikat.

Misi Natal yang Orisinil

Hari ini kita sudah memasuki bulan Desember dimana umat Tuhan mulai merayakan Natal. Dengan berbagai cara orang Kristen merayakan Natal. Sebisa-bisanya semeriah mungkin. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyambut dan menghargai kedatangan Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Banyak orang Kristen berpikir bahwa merayakan Natal semeriah mungkin adalah cara yang terbaik dan benar menghargai kedatangan-Nya. Pernahkah saudara sungguh-sungguh bergumul untuk menemukan jawaban sebagaimana seharusnya kita menyambut Natal dan menghargai kedatangan-Nya? Cara kita menghargai kedatangan Tuhan adalah dengan memahami misi utama kedatangan-Nya. Dalam Matius 1:21dinyatakan oleh malaikat bahwa Ia datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa mereka. Dosa yang merupakan sumber segala bencana manusia oleh kedatangan-Nya dapat diselesaikan. Orang yang menyadari misi ini pasti sangat memperhatikan persoalan dosa.

Jangan Mengacuhkan Yusuf pada Masa Natal

Saya memerankan seekor sapi dalam drama Natal saya di kelas satu, dan saya memiliki lebih banyak dialog dibanding anak yang memerankan Yusuf. Dia adalah peran pembantu, atau seperti itulah tampaknya, bagi Maria, bagi boneka plastik di palungan, dan bagi seluruh pemain drama kami lainnya. Kami hanya mengikuti naskah drama. Hanya ada sedikit ruang bagi Yusuf dalam peristiwa di penginapan pada imajinasi orang Kristen dewasa ini, terutama dalam kalangan Protestan konservatif seperti saya. Tampaknya, peran Yusuf satu-satunya adalah, sebagai seorang penerima tamu -- untuk mengantar Maria sampai ke kandang di Betlehem, dan kemudian untuk mengantarnya kembali ke Bait Allah di Yerusalem, untuk mencari Yesus yang tengah berkeliaran saat berusia 12 tahun.

Sukacita dalam Realitas Natal

Ditulis oleh: N. Risanti

Bertumbuh dalam keluarga Kristen yang sudah mengenal Kristus semenjak lama, membuat keluarga besar kami memiliki tradisi Natal yang kental di bulan Desember. Dimulai dengan memasang dan menghias pohon Natal besar di rumah Nenek saya, membuat kue-kue khas Natal, membeli dan membungkus hadiah Natal, menjalani latihan drama atau paduan suara untuk acara Natal di gereja, sampai merayakan malam Natal bersama keluarga besar di rumah Nenek yang penuh dengan nuansa keakraban dan kegembiraan. Semua tradisi dan kesibukan itu sungguh membawa kesan dan memori yang menyenangkan bagi saya sebagai anak-anak, yang bahkan masih terbawa hingga saat ini. Desember dan Natal kemudian bermakna sebagai masa-masa yang penuh dengan kesenangan dan kegembiraan berdasarkan kenangan indah saya semasa kanak-kanak.

Pimpinan Tuhan yang Tidak Biasa

Hampir 2.000 tahun yang lalu, Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem. Sekitar 2.040 tahun sebelumnya, Yakub dan Rahel, pasangan lain yang hamil, melakukan perjalanan ke selatan di sepanjang jalan yang sama. Rahel melahirkan Benyamin, tetapi meninggal tak lama setelah melahirkan, dan Yakub menguburkannya di dekat Betlehem (Kejadian 35:19). Kematian Rahel meramalkan kehancuran bahwa wilayah Benyamin akan mengalami penderitaan dalam masa Yeremia: "Rahel menangisi anak-anaknya karena mereka tidak ada lagi ...." (Yeremia 31:15) Namun, nubuat itu mendapatkan penggenapan terakhirnya pada zaman Yesus, saat Herodes Agung membantai semua bayi laki-laki di Betlehem (Matius 2: 17-18). Jadi, dengan pimpinan Tuhan, Yusuf melarikan diri ke Mesir bersama Maria dan Yesus, untuk hidup sampai Herodes mati.