Renungan

Yang Kaya Menjadi Miskin, Supaya yang Miskin Menjadi Kaya

"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." (2 Korintus 8:9)

Ada yang bilang, hari raya terbesar umat Kristen bukanlah Natal, melainkan Paskah. Coba, mana yang lebih penting, kelahiran-Nya atau kebangkitan-Nya?

Jawaban saya, keduanya sama-sama penting! Memang, Natal tidak ada artinya tanpa Paskah. Namun, ingat, Paskah juga tidak mungkin terjadi tanpa Natal!

Natal Pak Kuin

Hari ini Hari Natal. Tetapi bagi Pak Kuin, Hari Natal atau bukan, sama saja. Tidak ada bedanya dengan hari-hari lain. Di rumah petaknya yang beratap seng dan berdinding tripleks, tidak ada aksesori Natal. Jangankan memikirkan pernak-pernik Natal, untuk hidup sehari-hari saja susah.

Lagi pula, toh ia tetap harus bekerja; bergaul dengan debu dan terik matahari atau hujan. Apalagi Cantel, 14 tahun, anak bungsunya, sedang dirawat di rumah sakit; sakit maag akut. Mana bisa dia berleha-leha?!

Pesan Natal Sesungguhnya

Ditulis oleh: Adiana

Bacaan: Yesaya 11:1-10

Menjelang perayaan Natal, saling bertukar dan mengirimkan kartu Natal mungkin masih menjadi tradisi yang marak beberapa tahun silam. Toko-toko yang menjual kartu Natal mendadak menjadi ramai karena antusiasme orang-orang yang ingin memeriahkan Natal dengan kartu-kartu Natal yang cantik. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, beberapa tahun terakhir, tampaknya banyak orang lebih senang mengirimkan ucapan Natal melalui pesan pribadi (SMS), atau media-media sosial, seperti Facebook, Whatsup, dsb., dengan gambar-gambar digital yang tidak kalah menarik dengan kartu Natal.

Seandainya Yusuf Menceraikan Maria

"Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam" (Matius 1:19)

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok sejarawan mengarang buku berjudul If-Or History Rewritten (Jika Sejarah Ditulis Ulang atau Jika Tidak). Beberapa "jika" yang dikemukakan para ahli tersebut adalah: Bagaimana jika Robert E. Lee tidak kalah dalam perang Gettysburg? Bagaimana jika Belanda mempertahankan New Amsterdam? Bagaimana jika Booth tidak berhasil membunuh Abraham Lincoln? Bagaimana jika Napoleon berhasil melarikan diri ke Amerika?

Mari kita coba terapkan hal yang sama pada suatu peristiwa penting dalam sejarah -- kelahiran Yesus Kristus. Bagaimana jika Yusuf menceraikan Maria secara diam-diam? Apa akibatnya terhadap dirinya sendiri, Maria, dan Yesus?

Kristus dan Natal

Jajak pendapat terbaru menyatakan bahwa hanya sepertiga dari orang Amerika yang menganggap bahwa kelahiran Kristus adalah aspek yang paling penting dalam perayaan Natal. Sekitar 44%-33% lebih banyak orang yang mengatakan bahwa kesempatan untuk "memiliki waktu bersama keluarga" menjadi alasan utama mengapa mereka menganggap Natal sebagai sesuatu yang penting bagi mereka. Bahkan ketika memperhatikan hanya para responden yang menyebut diri mereka orang Kristen (88% orang Amerika), kelahiran Kristus mendapat suara paling banyak hanya 37%.

Kesederhanaan Kini Kian Sirna

Kesederhanaan itu awal kedamaian. Kegemerlapan adalah awal perseteruan. Jauh dari hiruk-pikuk gemerlap kemewahan, kesederhanaan mengawali kedamaian dengan keheningan, kesempatan nan luas untuk merenung, dan doa yang penuh kesadaran dan akal budi secara optimal. Keheningan untuk merenung itu sedemikian penting untuk memperluas kedamaian dan perdamaian. Seperti digagas Johan Galtung, perdamaian akan terwujud jika manusia memadukan hati dan pikirannya untuk berdialog dengan sesamanya. Namun, pemaduan hati dan pikiran, bahkan dialog itu, memerlukan keheningan.

Kesederhanaan Kini Kian Sirna

Kesederhanaan itu awal kedamaian. Kegemerlapan adalah awal perseteruan. Karena jauh dari hiruk-pikuk gemerlap kemewahan, kesederhanaan mengawali kedamaian dengan keheningan, kesempatan nan luas, untuk merenung, dan dengan doa juga menjalankan peran rasio sadar dan akal budi waras secara optimal. Keheningan untuk merenung itu sedemikian penting untuk memperluas kedamaian dan perdamaian. Seperti digagas Johan Galtung, perdamaian akan terwujud jika manusia memadukan hati dan pikirannya untuk berdialog dengan sesamanya. Namun, pemaduan hati dan pikiran, bahkan dialog itu, memerlukan keheningan.

Pages