Sebuah Gambaran Besar

Karena artikel ini, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu Anda, wahai kaum muda, tentang sesuatu yang paling mengesalkan kami, orang-orang dari generasi sebelum Anda, terkait dengan perayaan Natal. Seperti yang Anda ketahui, saat ini, ada banyak orang yang merayakan Hari Natal secara dangkal. Orang-orang Kristen tentu cukup sadar bahwa perayaan Natal seharusnya lebih dari sekadar pesta dan seharusnya ada kaitannya dengan figur Yesus. Akan tetapi, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal?

Pada bulan ini, akan ada banyak mimbar yang mengkhotbahkan tentang inkarnasi Yesus. Dan, mengacu pada pengumuman yang dinyatakan oleh para malaikat kepada gembala-gembala di padang Efrata, generasi saya merayakan kabar baik yang diberikan oleh para malaikat sekitar 2.000 tahun yang lalu itu berdasarkan kalimat yang mereka ucapkan, "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Lukas 2:11).

Generasi saya cenderung memusatkan perhatian mereka pada ibadah selama minggu- minggu Adven untuk menghayati kelahiran Kristus dari rahim seorang perawan di Betlehem. Akan tetapi, jika saya bertanya tentang mengapa Yesus datang ke dunia ini kepada orang-orang dari generasi saya, sering kali mereka akan menjawab seperti ini: "Ia datang untuk menjadi Juru Selamat bagi saya," "Ia datang untuk mati bagi saya," atau, "Ia datang untuk membayar akibat dari dosa saya" (Anda tentu mengerti maksud saya) -- semua jawaban itu benar dalam tataran tertentu, tetapi semua jawaban itu gagal menempatkan kedatangan Kristus di dalam konteks yang luas, konteks yang dinyatakan melalui seluruh isi Alkitab. Dan, ketika seseorang gagal menempatkan peristiwa kedatangan Yesus ke dalam konteks yang luas itu, ia juga gagal menghayati intinya.

Jangan salah sangka, tidak ada yang salah dengan orang-orang Kristen yang merayakan kelahiran Tuhan kita selama masa perayaan Natal. Tentu merupakan sesuatu yang sangat pantas bagi gereja di seluruh dunia untuk memusatkan pikiran mereka kepada peristiwa inkarnasi Anak Allah dan mukjizat yang menjadi latar belakang peristiwa itu, yaitu bahwa Anak itu dikandung oleh ibunya yang masih perawan. Akan tetapi, saya ingin menyatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan agung daripada peristiwa kelahiran Kristus, sesuatu yang seharusnya menarik perhatian dan menyentuh hati kita dengan sukacita yang sejati pada masa perayaan Natal ini. Saya akan menjelaskannya sebentar lagi.

Para pendeta Injili dari generasi saya tidak cukup baik mengajar umat Kristen pada zaman mereka bahwa setiap peristiwa yang menjadi dasar pernyataan iman Kristen seperti inkarnasi Kristus, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan dalam banyak peristiwa lainnya, tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah dalam "metanarasi" Kitab Suci (metanarasi yang saya maksud adalah "gambaran besar" dari seluruh isi Perjanjian Lama yang memberikan signifikasi sejarah penebusan kepada "kisah-kisah kecil" di dalamnya).

Ketika seseorang gagal menempatkan peristiwa yang terjadi pada kisah yang dicatat oleh para penulis Injil ke dalam konteks metanarasi Perjanjian Lama, ia akan kehilangan nuansa yang terjalin di dalamnya. Jika sudah demikian, ia akan gagal melihat keutuhan pengajaran yang jalin-menjalin di seluruh Kitab Suci.

Dengan kata lain, karena fakta bahwa Yesus, kehidupan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya berada dalam kerangka doktrin penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penyempurnaan, maka kita juga harus menempatkan pesan salib di dalam kerangka yang memuat Perjanjian Lama. Dengan demikian, kita baru dapat benar- benar memahami betapa pentingnya pesan yang dibawa oleh Injil. Sebaliknya, jika kita tidak melakukannya, kita tidak akan mungkin memahami Injil secara utuh.

Jadi, izinkan saya mengajukan pertanyaan saya tadi: Mengapa Yesus datang ke dunia dua ribu tahun yang lalu? Coba perhatikan sesuatu yang menarik dari perkataan Maria ketika malaikat Gabriel memberi tahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari Sang Mesias yang dinanti-nantikan itu: "Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." (Lukas 1:54-55)

Hal yang serupa juga terjadi ketika Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis, bernubuat tentang pelayanan anaknya, yaitu sebagai seseorang yang mempersiapkan jalan bagi sang Mesias. Dalam nubuatnya itu, Zakharia berkata, "[Tuhan telah] menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita." (Lukas 1:72-75)

Apa yang kita lihat dari pernyataan Maria dan Zakharia? Keduanya menempatkan peristiwa kedatangan Kristus di dalam konteks kovenan Abraham dan memuji kesetiaan Tuhan terhadap umat-Nya dengan mengirim putra-Nya. Di dalam kepekaan mereka terhadap kepentingan inkarnasi Yesus dan kata-kata pujian mereka terhadap Allah, kita dapat melihat bahwa mereka menghormati teologi yang alkitabiah dan bahwa sejarah penebusan dilukiskan dengan sangat nyata. Bukan suatu kebetulan jika Allah memilih perawan Maria untuk menjadi ibu bagi Kristus dan Zakharia untuk menjadi ayah bagi Yohanes Pembaptis, sebab keduanya adalah "penganut teologi kovenan"!

Jadi, saya mendorong Anda semua, generasi muda, untuk tidak hanya merayakan keajaiban Natal seolah-olah peristiwa itu berdiri sendiri dan terisolir dari peristiwa yang lain dalam Alkitab. Sebaliknya, rayakanlah lebih daripada yang dilakukan oleh generasi saya. Biarlah dalam masa perayaan Natal ini, kita merayakan kesetiaan Allah atas janji-Nya kepada kita sebab gambaran besar itulah yang menjadi dasar dari masa raya ini! (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Ligonier
Alamat URL : http://www.ligonier.org/learn/articles/big-picture/
Judul asli artikel : The Big Picture
Penulis : Robert Reymond
Tanggal akses : 5 Desember 2013