Artikel

Mengalami Sukacita Natal

Lagu Natal lama menyatakan, "It’s the most wonderful time of the year". (Saat terindah di tahun ini - Red.) Dan, bagi orang Kristen, nyanyian itu harusnya bergema dengan benar. Namun, bagi banyak orang, Natal adalah waktu untuk bertahan. Depresi, kesedihan, dan kesepian yang kemudian sering kali diperburuk dengan keadaan keluarga yang hancur dan beban utang yang semakin menumpuk. Daftar acara Natal yang terlalu padat sehingga membuat kita berpikir untuk "mengakhiri hari raya". Kita menjadi bertanya-tanya apakah ucapan selamat Natal masih ada? Apa yang terjadi dengan suasana Natal yang damai di masa kanak-kanak?

Mereka Memanggil-Nya Imanuel

Yusuf merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tunangannya, Maria, sedang hamil, tetapi bukan olehnya. Apa yang dapat ia perbuat? Bagaimana mungkin pernikahan mereka yang masih diajukan sudah sah sekarang? Namun, bagaimana mungkin ia membiarkannya pergi?

Ketika ia sedang tidur nyenyak, malaikat datang kepadanya dalam mimpi untuk meyakinkannya, "Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus." (Matius 1:20) Dia memercayai malaikat tersebut, mengambil Maria menjadi istrinya, dan cerita selanjutnya adalah sejarah.

Saya yakin orang-orang di kota percaya bahwa Yusuf adalah ayah dari Anak itu. Untuk menjatuhkan nama baiknya, sebuah cerita disebarkan bahwa Yesus adalah anak haram seorang prajurit Romawi.

Akan tetapi, setelah peristiwa mimpi Yusuf, narator Alkitab mengatakan hal yang sangat mengherankan:

Natal Membuat Hidup Kita Bermakna

Sebuah sukacita ketika kita masih dilayakkan oleh Tuhan untuk merayakan Natal saat ini, sebab Natal mengingatkan kita betapa Allah membuat hidup kita bermakna melalui peristiwa kelahiran Putra Allah di dalam sejarah manusia. Pemaknaan tersebut adalah:

  1. Melalui Natal Allah memaknai kekristenan sehingga berbeda dengan agama lain.

    Pengertian agama secara umum adalah usaha manusia mencari Allah, sedangkan di dalam kekristenan Alkitab menjelaskan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat mencari Allah. Sebaliknya, Natal membuktikan bahwa Allahlah yang berinisiatif untuk mencari manusia. Sebab, di dalam keberdosaan manusia tidak ada seorang pun yang dapat kembali kepada Allah. Oleh karena itu, Natal adalah sebuah momentum yang sangat berarti bagi manusia untuk kembali kepada Allah serta mengenal Allah secara benar dan jelas.

  2. Natal merupakan titik awal manusia dibebaskan dari perhambaan dosa dan maut.

Apa Itu Natal?

Natal tentu saja merayakan hari lahirnya Yesus Kristus.

Apa itu Perayaan Natal?

Perayaan Natal bukanlah acara makan-makan besar atau waktu untuk berbelanja akhir tahun. Natal pada hakikatnya bukanlah sebuah festival, tetapi sebuah perayaan di gereja, yaitu perayaan ekaristi dalam rangka memperingati hari lahirnya Yesus Kristus.

Kapan Yesus Lahir?

Pernahkah kamu bertanya kepada kakek nenek buyut kita, kapan mereka lahir? Mereka mungkin menjawab lahirnya pas Gunung Merapi meletus atau lahirnya beberapa hari sebelum gempa besar. Mereka tidak tahu tepatnya tanggal berapa mereka lahir.

Zaman dahulu orang lahir tidak perlu ke catatan sipil untuk membuat akte kelahiran. Jarang ada orang yang mencatat kapan tanggal lahir seseorang.

Perayaan Natal yang Sejati

Dalam kita merayakan suatu peristiwa yang mulia, yaitu kelahiran Yesus, di mana Allah telah menjadi manusia, kadang-kadang kita diperhadapkan dengan tuduhan bahwa Natal adalah perayaan kafir. Apakah hal itu benar dan apakah kita harus meniadakan perayaan Natal dan pohon terang dan hal-hal lain berkaitan dengan Natal itu?

Dalam artikel ini, pertama, saya mau menjelaskan sedikit tentang latar belakang historis perayaan Natal dan kedua, tentang makna Natal bagi kita dimasa kini.

Latar Belakang Historis Perayaan Natal

Ada tiga sumber asalnya perayaan Natal yang kemudian dipersatukan dalam perayaan Natal yang kini umum di seluruh dunia:

Merenungkan Kembali Makna Natal

Natal telah tiba. Natal telah tiba. Hadiah. Hadiah. Hadiah. Acara yang bagus. Meriah suasananya. Natal telah tiba. Dengungan kata dan kalimat ini mengantar kita kembali pada satu titik perenungan bagi setiap orang percaya. Perayaan Natal tahunan yang dihiasi dengan berbagai kesibukan, aneka acara yang menarik, asesoris Natal yang muncul bukan saja di gereja, di rumah bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di kantor-kantor. Apakah hanya sebuah tradisi dan kegiatan tahunan yang mendatangkan keuntungan baik materi maupun nonmateri? Perayaan umat Kristiani yang memang sudah biasa terjadi di akhir tahun. Sebenarnya, apa makna Natal bagi setiap kita sebagai orang percaya? Adakah hanya sebatas sebuah perayaan keagamaan saja? Hanya sebuah momen yang meriah? Hanya waktu libur yang lebih panjang di akhir tahun? Atau, adakah makna lainnya?

Natal Tanpa Yesus

Christmas

Ketika kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu fokus sosok orang yang mendapat perhatian khusus adalah yang berulang tahun itu. Beliau akan disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu, selain para pengunjungnya kecewa dan penuh tanda tanya dan tentu suasananya tidak menyenangkan.

Misi Natal yang Orisinil

Hari ini kita sudah memasuki bulan Desember dimana umat Tuhan mulai merayakan Natal. Dengan berbagai cara orang Kristen merayakan Natal. Sebisa-bisanya semeriah mungkin. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyambut dan menghargai kedatangan Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Banyak orang Kristen berpikir bahwa merayakan Natal semeriah mungkin adalah cara yang terbaik dan benar menghargai kedatangan-Nya. Pernahkah saudara sungguh-sungguh bergumul untuk menemukan jawaban sebagaimana seharusnya kita menyambut Natal dan menghargai kedatangan-Nya? Cara kita menghargai kedatangan Tuhan adalah dengan memahami misi utama kedatangan-Nya. Dalam Matius 1:21dinyatakan oleh malaikat bahwa Ia datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa mereka. Dosa yang merupakan sumber segala bencana manusia oleh kedatangan-Nya dapat diselesaikan. Orang yang menyadari misi ini pasti sangat memperhatikan persoalan dosa.

Jangan Mengacuhkan Yusuf pada Masa Natal

Saya memerankan seekor sapi dalam drama Natal saya di kelas satu, dan saya memiliki lebih banyak dialog dibanding anak yang memerankan Yusuf. Dia adalah peran pembantu, atau seperti itulah tampaknya, bagi Maria, bagi boneka plastik di palungan, dan bagi seluruh pemain drama kami lainnya. Kami hanya mengikuti naskah drama. Hanya ada sedikit ruang bagi Yusuf dalam peristiwa di penginapan pada imajinasi orang Kristen dewasa ini, terutama dalam kalangan Protestan konservatif seperti saya. Tampaknya, peran Yusuf satu-satunya adalah, sebagai seorang penerima tamu -- untuk mengantar Maria sampai ke kandang di Betlehem, dan kemudian untuk mengantarnya kembali ke Bait Allah di Yerusalem, untuk mencari Yesus yang tengah berkeliaran saat berusia 12 tahun.

Namun, ada lebih banyak yang perlu diketahui mengenai sosok Yusuf.

Ayah yang Sebenarnya

Menemukan Kedamaian Natal Ini

Masa liburan akan datang menjelang akhir bulan ke-12, mengantarkan ke dalam perubahan suasana sosial yang tampak ajaib. Suasana baru yang berwarna-warni memancar dalam kegelapan malam karena begitu banyak rumah di seluruh negeri dihiasi dengan lampu-lampu yang meriah. Semangat anak-anak ketika mereka menantikan kedatangan seorang pribadi, Sinterklas, mengudara di mana-mana. Nyanyian bersama merayakan kelahiran Yesus Kristus memenuhi kota-kota kecil ketika lonceng gereja lokal mendentangkan irama-irama lagu Malam Kudus dan di Dalam Palungan yang begitu merakyat. Perayaan adalah tema liburan ini, dan kenyataan hidup dengan segala cacat cela dan rasa sakit, terhapus di sudut keheningan yang gelap.

Pages