Artikel

Tim Keller Mengenai Natal Dan Penderitaan

Datanglah Yesus yang lama dinanti-nantikan

Ketika peristiwa 11 September terjadi dan warga New York mulai menderita, Anda mendengar dua pendapat. Anda mendengar pendapat moralistik konvensional yang mengatakan, “Ketika saya melihat Anda menderita, itu memberitahu saya tentang Allah yang menghukum. Anda pastilah hidup tidak benar, karena itu Allah menghakimi Anda.” Ketika mereka melihat penderitaan, mereka melihat Allah yang menghakimi. Pendapat sekuler mengatakan, “Ketika saya melihat orang-orang menderita, saya melihat Allah menghilang.” Ketika mereka melihat penderitaan, mereka melihat Allah yang absen, yang tak peduli.

APA YANG DILAKUKAN NATAL UNTUK PENDERITAAN

Tujuan Natal

Menarik bahwa Yesus membuat pernyataan yang signifikan tentang kelahiran-Nya sebelum kematian-Nya. Pada saat persidangan, Pilatus bertanya tentang identitas-Nya. Yesus menjawab, “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18:37b, AYT).

Yesus tidak berkata Dia lahir untuk berkhotbah atau menyembuhkan, tetapi bahwa tujuan pokoknya adalah untuk memberi kesaksian tentang kebenaran.

Lalu, Pilatus bertanya, “Apakah kebenaran itu?” Akan tetapi, dia terlalu terburu-buru untuk menunggu jawabannya. Betapa banyak dari kita yang seperti itu hari ini? Terkadang dibutuhkan sebuah tragedi, seperti kematian dalam keluarga atau serangan teroris seperti beru-baru ini, sebelum orang-orang menyediakan waktu untuk menilai hidup mereka dengan apa yang sesungguhnya bermakna dan benar.

Apakah Yesus Lahir di Sebuah Kandang?

Silakan baca Pendahuluan singkat terlebih dulu.

Ketika mereka ada di sana (di Betlehem), tibalah waktunya bagi Maria untuk melahirkan. Maria pun melahirkan Anak laki-lakinya yang pertama. Ia membungkus-Nya dengan kain lampin dan membaringkan-Nya di dalam palungan [phatne], karena tidak ada kamar [kataluma] bagi mereka untuk menginap. Lukas 2:6-7 (AYT)

Kamar penginapan atau Kamar Tamu?

Apakah yang Kaunantikan?

Natal t’lah tiba! Natal adalah waktu yang paling dinantikan orang Kristen bahkan orang non-Kristen sekalipun. Ada orang yang menanti-nantikan Natal untuk beli baju karena diskon saat Natal besar. Ada yang sibuk mempersiapkan KKR Natal gerejanya karena ini momen penting. Ada yang gembira karena bisa menikmati libur Natal plus tahun baru. Setiap orang memandang Natal dengan kacamata yang berbeda, mereka menantikan sesuatu di hari Natal.

Orang Israel sudah dari zaman dahulu menantikan kedatangan Mesias yang dinubuatkan para nabi. Mereka bukan menantikan diskon atau liburan atau hal duniawi lainnya, mereka menantikan Mesias! Tetapi at the end of the day, mereka kecewa dan menolak Yesus, Sang Mesias yang dinantikan. Apa yang salah dari penantian mereka? Alkitab sebenarnya sudah memberi bocoran mengenai jawaban ini melalui kisah berbagai macam orang yang menantikan Kristus juga, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

Siapakah Anak ini?

Kemiskinan, Bukan sebuah Istana, untuk Raja Terbesar

Sewaktu kecil, saya tidak terkesan dengan sebuah lagu Natal yang menanyakan sesuatu, yang jawabannya sudah diketahui oleh semua orang.

Siapakah Anak ini? Dia adalah Yesus, tentu saja. Kita semua tahu itu – bahkan anak-anak pun tahu akan hal itu.

Yang belum saya mengerti saat itu adalah bahwa sebuah pertanyaan bukan hanya diajukan untuk menyelesaikan masalah dan memberi informasi yang baru. Terkadang pertanyaan menyatakan suatu penegasan. Kita menyebutnya “pertanyaan retoris.” Ada kalanya bentuk sebuah pertanyaan mengungkapkan kekaguman tentang sesuatu yang kita tahu adalah benar, tetapi merasa bahwa itu begitu luar biasa. Itu terlalu sederhana untuk hanya dikatakan langsung seperti kita berkata-kata tentang hal lainnya.

Saat Natal Jauh dari Menyenangkan

Natal telah lama mewakili pertemuan keluarga yang menyenangkan dan berbagi tradisi liburan dari masa ke masa. Iklan televisi, papan reklame di jalan raya, dan bahkan acara hiburan tahunan menggambarkan kebahagiaan sebagai keluarga utuh yang merayakannya dalam kedamaian dan harmoni. Kesedihan memiliki sebuah cara untuk mengocok emosi selama masa ini. Natal, terutama, dapat membawa kesedihan ke permukaan yang tersmpan jauh di dalam hati kita setelah kehilangan yang berarti. Kita memohon kepada Tuhan untuk mempercepat kita dalam melewati hari-hari di bulan Desember. Terlepas dari iman yang dalam, banyak dari kita yang secara emosional terpaku pada bulan November dan Desember, menarik napas lega saat kalender menyambut Januari. Januari memberi kita izin untuk kembali pada kehidupan, lalai terhadap rasa sakit kita, dan kebutuhan mendesak kita akan Pribadi yang lahir untuk menebus hati kita yang memar dan babak belur.

Proyek Pohon Natal

Susan Devore Williams

Rencana itu pada dasarnya cukup sederhana. Gereja Baptis di Stockton, California, akan menaruh pohon Natal setinggi 2 meter di dekat mimbar. Hiasan untuk pohon itu dibuat oleh anak-anak Sekolah Minggu. Di bagian belakang, setiap hiasan tercantum nama keluarga atau nama orang yang memerlukan bantuan. Jemaat dari Gereja Baptis dengan sukarela akan "mengadopsi" salah satu keluarga yang kurang mampu ini selama masa Natal.

Proyek yang disebut Proyek Pohon Natal ini telah dicoba setahun yang lalu oleh salah satu kelas Sekolah Minggu. Selama masa Natal 1984, William D. Webber, pendeta senior, mengharapkan peran serta dari 700 jemaat gerejanya.

Tradisi Natal Di Berbagai Negara

Filipina
==>http://sim.soe.umich.edu/parol/
Di Filipina, tradisi Natal dikenal sebagai Parol. Situs ini mengulas secara lengkap tradisi unik tersebut dan menyediakan kesempatan bagi kita untuk mengirimkan kartu Parol kepada orang-orang yang Anda kasihi.

Jamaika
==>http://www.jamaicans.com/culture/christ90.htm
Ingin tahu tradisi Natal di Jamaika? Silahkan buka dan baca bahan situs yang satu ini. Di sini tersedia informasi mengenai tradisi Natal Jamaika dari masa lalu hingga sekarang, serta kesempatan untuk mengirimkan kartu Natal ala Jamaika. Selain itu, kita juga dapat mengetahui informasi mengenai Jamaika dan kebudayaannya lewat situs ini.

Legenda Santa Claus

Penulis_artikel:
John W. Cowart
Isi_artikel:

"Ayah, bangun! Seseorang memanjat terali jendela kita!" Sang ayah yang kuatir terjaga. Terhuyung-huyung, masih setengah sadar, menghampiri kamar tidur putrinya dan memandang ke luar. Seseorang sedang memanjat terali dengan diam-diam.

"Apa-apaan ini? Sepertinya tidak cukup kesusahan yang kuhadapi," kata sang ayah. "Akan kutangkap banjingan itu." Diambilnya sebatang kayu api yang besar panjang di sisi perapian dan merayap ke luar.

Pages