Artikel

Kembalikan Talenta Anda kepada Allah

Hari Natal dimulai lebih awal bagi saya, bersama dengan salah satu dari ketiga putra saya yang memainkan lagu "Hark the Herald Angels Sing" dengan gitarnya pada pukul 6:45 pagi. Kemudian, timbullah kegembiraan seperti biasa untuk membuka hadiah dan sarapan Mangga bersama, diiringi lagu-lagu Natal yang dinyanyikan di halaman belakang. Ah, Natal!

Ketiga putra saya semuanya membawakan hadiah untuk saya, antara lain coklat Lindt Ball, tas olahraga, dan sepasang sarung tangan untuk bersepeda. Semuanya itu adalah hadiah-hadiah yang menarik perhatian dan saya sangat berterima kasih. Namun, faktor "x" ketika menerima hadiah tersebut dari anak-anak Anda adalah mereka menggunakan uang saya untuk membelikan saya hadiah. Hal ini tentunya tidak menjadi masalah ketika mereka masih kecil, tetapi jika sejak awalnya saya tidak memberi mereka uang, mereka tidak akan sanggup memberi apa pun untuk saya.

Sebuah Gambaran Besar

Karena artikel ini, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu Anda, wahai kaum muda, tentang sesuatu yang paling mengesalkan kami, orang-orang dari generasi sebelum Anda, terkait dengan perayaan Natal. Seperti yang Anda ketahui, saat ini, ada banyak orang yang merayakan Hari Natal secara dangkal. Orang-orang Kristen tentu cukup sadar bahwa perayaan Natal seharusnya lebih dari sekadar pesta dan seharusnya ada kaitannya dengan figur Yesus. Akan tetapi, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal?

Menggali Kembali Harta Karun Natal

Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut: ...." (Matius 1:18)

Untuk kesekian kalinya, umat Kristiani memperingati dan merayakan Natal -- peristiwa kelahiran Yesus, Pribadi yang Maha Agung. Tuhan dan Juru Selamat dunia. Terjadinya sendiri pada masa ketika Kaisar Agustus mengeluarkan ketetapan agar "di seluruh dunia", maksudnya di seluruh wilayah Imperium Romawi, diselenggarakan sensus kependudukan (Lukas 2:1). Yaitu "sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria" (ayat 2). Itu berarti sekitar tahun 4 sM.

Natal Kok Bikin Kesal?

Natal adalah kabar sukacita. Yesus lahir ke dunia. Dia tokoh sentral dalam peristiwa Natal. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit perayaan Natal yang mengabaikan tokoh sentral itu. Orang ramai bertukar kado, tetapi Yesus yang kelahiran-Nya diperingati justru terabaikan, bahkan cenderung dilupakan.

"Gloria In Excelsis Deo!"

"Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.'" (Lukas 2:13-14)
Peristiwa Natal menyatakan kemuliaan Allah. Pada malam kelahiran Yesus Sang Kristus, bala tentara surga mengumandangkan pujian bagi Sang Khalik, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi ...." Dalam bahasa Latin, "Gloria in excelsis Deo!"

"Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.'" (Lukas 2:13-14)

Pages