Artikel

Jangan Mengacuhkan Yusuf pada Masa Natal

Saya memerankan seekor sapi dalam drama Natal saya di kelas satu, dan saya memiliki lebih banyak dialog dibanding anak yang memerankan Yusuf. Dia adalah peran pembantu, atau seperti itulah tampaknya, bagi Maria, bagi boneka plastik di palungan, dan bagi seluruh pemain drama kami lainnya. Kami hanya mengikuti naskah drama. Hanya ada sedikit ruang bagi Yusuf dalam peristiwa di penginapan pada imajinasi orang Kristen dewasa ini, terutama dalam kalangan Protestan konservatif seperti saya. Tampaknya, peran Yusuf satu-satunya adalah, sebagai seorang penerima tamu -- untuk mengantar Maria sampai ke kandang di Betlehem, dan kemudian untuk mengantarnya kembali ke Bait Allah di Yerusalem, untuk mencari Yesus yang tengah berkeliaran saat berusia 12 tahun.

Namun, ada lebih banyak yang perlu diketahui mengenai sosok Yusuf.

Ayah yang Sebenarnya

Menemukan Kedamaian Natal Ini

Masa liburan akan datang menjelang akhir bulan ke-12, mengantarkan ke dalam perubahan suasana sosial yang tampak ajaib. Suasana baru yang berwarna-warni memancar dalam kegelapan malam karena begitu banyak rumah di seluruh negeri dihiasi dengan lampu-lampu yang meriah. Semangat anak-anak ketika mereka menantikan kedatangan seorang pribadi, Sinterklas, mengudara di mana-mana. Nyanyian bersama merayakan kelahiran Yesus Kristus memenuhi kota-kota kecil ketika lonceng gereja lokal mendentangkan irama-irama lagu Malam Kudus dan di Dalam Palungan yang begitu merakyat. Perayaan adalah tema liburan ini, dan kenyataan hidup dengan segala cacat cela dan rasa sakit, terhapus di sudut keheningan yang gelap.

Kembalikan Talenta Anda kepada Allah

Hari Natal dimulai lebih awal bagi saya, bersama dengan salah satu dari ketiga putra saya yang memainkan lagu "Hark the Herald Angels Sing" dengan gitarnya pada pukul 6:45 pagi. Kemudian, timbullah kegembiraan seperti biasa untuk membuka hadiah dan sarapan Mangga bersama, diiringi lagu-lagu Natal yang dinyanyikan di halaman belakang. Ah, Natal!

Ketiga putra saya semuanya membawakan hadiah untuk saya, antara lain coklat Lindt Ball, tas olahraga, dan sepasang sarung tangan untuk bersepeda. Semuanya itu adalah hadiah-hadiah yang menarik perhatian dan saya sangat berterima kasih. Namun, faktor "x" ketika menerima hadiah tersebut dari anak-anak Anda adalah mereka menggunakan uang saya untuk membelikan saya hadiah. Hal ini tentunya tidak menjadi masalah ketika mereka masih kecil, tetapi jika sejak awalnya saya tidak memberi mereka uang, mereka tidak akan sanggup memberi apa pun untuk saya.

Sebuah Gambaran Besar

Karena artikel ini, saya memiliki kesempatan untuk memberi tahu Anda, wahai kaum muda, tentang sesuatu yang paling mengesalkan kami, orang-orang dari generasi sebelum Anda, terkait dengan perayaan Natal. Seperti yang Anda ketahui, saat ini, ada banyak orang yang merayakan Hari Natal secara dangkal. Orang-orang Kristen tentu cukup sadar bahwa perayaan Natal seharusnya lebih dari sekadar pesta dan seharusnya ada kaitannya dengan figur Yesus. Akan tetapi, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal?

Menggali Kembali Harta Karun Natal

Kelahiran Yesus Kristus adalah sebagai berikut: ...." (Matius 1:18)

Untuk kesekian kalinya, umat Kristiani memperingati dan merayakan Natal -- peristiwa kelahiran Yesus, Pribadi yang Maha Agung. Tuhan dan Juru Selamat dunia. Terjadinya sendiri pada masa ketika Kaisar Agustus mengeluarkan ketetapan agar "di seluruh dunia", maksudnya di seluruh wilayah Imperium Romawi, diselenggarakan sensus kependudukan (Lukas 2:1). Yaitu "sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria" (ayat 2). Itu berarti sekitar tahun 4 sM.

Natal Kok Bikin Kesal?

Natal adalah kabar sukacita. Yesus lahir ke dunia. Dia tokoh sentral dalam peristiwa Natal. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit perayaan Natal yang mengabaikan tokoh sentral itu. Orang ramai bertukar kado, tetapi Yesus yang kelahiran-Nya diperingati justru terabaikan, bahkan cenderung dilupakan.

Pages