Tim Keller Mengenai Natal Dan Penderitaan

Datanglah Yesus yang lama dinanti-nantikan

Ketika peristiwa 11 September terjadi dan warga New York mulai menderita, Anda mendengar dua pendapat. Anda mendengar pendapat moralistik konvensional yang mengatakan, “Ketika saya melihat Anda menderita, itu memberitahu saya tentang Allah yang menghukum. Anda pastilah hidup tidak benar, karena itu Allah menghakimi Anda.” Ketika mereka melihat penderitaan, mereka melihat Allah yang menghakimi. Pendapat sekuler mengatakan, “Ketika saya melihat orang-orang menderita, saya melihat Allah menghilang.” Ketika mereka melihat penderitaan, mereka melihat Allah yang absen, yang tak peduli.

APA YANG DILAKUKAN NATAL UNTUK PENDERITAAN

Namun, ketika kita melihat Yesus Kristus mati di kayu salib mengalami kekejaman dan ketidakadilan, Allah seperti apakah yang kita lihat? Allah yang mengutuk? Tidak, kita melihat Allah yang penuh kasih menebus dosa. Apakah kita melihat Allah yang menghilang? Tentu saja tidak! Kita melihat Allah yang jauh tetapi terlibat. Kita terkadang bertanya-tanya mengapa Allah tidak mengakhiri penderitaan saja, tetapi kita tahu bahwa apa pun alasannya, itu bukanlah karena Dia ketidakpedulian atau ketidakhadiran-Nya. Allah begitu membenci penderitaan dan kejahatan sehingga Dia rela mengalaminya. Dorothy Sayers menulis:

Apa pun alasannya, Allah memilih untuk menciptakan manusia seperti diri-Nya – terbatas dan menderita dan mengalami kesengsaraan dan mati – Dia [Allah] memiliki kesetiaan dan keberanian untuk merasakan sendiri penderitaan itu. Apa pun permainan yang sedang dilakukan-Nya pada ciptaan-Nya, Dia menaati peraturan-Nya dan bermain dengan adil. Dia tidak bisa meminta apa pun dari manusia yang tidak bisa diminta-Nya dari diri-Nya sendiri. Dia sendiri telah melewati seluruh pengalaman manusia, dari kejengkelan sepele dalam kehidupan keluarga dan larangan yang mengekang dalam kerja yang sulit dan kekurangan uang sampai pada kesengsaraan yang paling mengerikan dan penghinaan, kekalahan, keputusasaan, dan kematian. Ketika Dia menjadi manusia, Dia berperan sebagai manusia. Dia lahir dalam kemiskinan dan mati dalam aib, dan menganggap bahwa itu berharga.

Hadiah Natal memberi Anda sumber kekuatan – ketenangan dan penghiburan – untuk menghadapi penderitaan, karena di dalamnya kita melihat kerelaan Allah untuk masuk ke dalam dunia yang penuh penderitaan, untuk menderita bersama dengan kita dan untuk kita. Tidak ada agama lain – entah itu sekularisme, paganisme Greco-Roman, agama Timur, Yudaisme, atau Islam – memercayai Allah yang menjadi rapuh atau yang menderita atau yang memiliki tubuh. Agama Timur memiliki keyakinan bahwa hal fisik adalah ilusi. Greco-Roman memiliki keyakinan bahwa hal fisik adalah buruk. Yudaisme dan Islam tidak percaya Allah akan melakukan sesuatu seperti menjadi manusia. Akan tetapi, Natal mengajarkan bahwa Allah peduli bukan hanya pada hal rohani, karena Dia bukan roh saja. Dia memiliki tubuh. Dia tahu seperti apa rasanya miskin, menjadi pengungsi, menghadapi penganiayaan dan kelaparan, dipukuli dan dikhianati. Dia tahu seperti apa mati itu. Oleh karenanya, ketika kita menghubungkan inkarnasi dengan kebangkitan, kita melihat bahwa Allah bukan hanya peduli terhadap hal rohani, tetapi Dia juga peduli dengan tubuh. Dia menciptakan rohani dan tubuh, dan Dia akan menebus roh dan tubuh.

Natal menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukan saja peduli terhadap masalah rohani tetapi juga masalah fisik. Jadi, kita bisa berbicara tentang menebus orang-orang dari kesalahan dan ketidakpercayaan, sekaligus berbicara tentang membuat jalanan-jalanan yang aman dan perumahan yang terjangkau bagi orang miskin. Karena Yesus sendiri bukan hanya roh tetapi juga memiliki tubuh, hadiah Natal adalah gairah untuk keadilan. Ada banyak orang di dunia ini yang memiliki gairah untuk keadilan dan belas kasih untuk orang miskin tetapi sama sekali tidak memiliki jaminan bahwa keadilan suatu hari nanti akan menang. Mereka hanya percaya bahwa jika kita cukup mengupayakan dengan sungguh dan cukup lama, kita akan bersama-sama mendatangkan keadilan ke dunia ini. Bagi orang-orang demikian, tidak ada penghiburan ketika keadaan tidak berjalan baik. Namun, orang Kristen bukan hanya memiliki gairah untuk keadilan, tetapi juga tahu bahwa, pada akhirnya, keadilan akan menang. Keyakinan di dalam keadilan Allah membuat gairah untuk keadilan menjadi paling realistik.

APA YANG DILAKUKAN NATAL UNTUK YANG ORANG YANG TERHINA (& ORANG YANG MENGHINA)

Yang terakhir, dalam bingkisan Natal, ada kemampuan untuk menghubungkan lagi dengan bagian dari ras manusia yang Anda pandang rendah. Pernahkah Anda memperhatikan betapa kisah tentang inkarnasi dan kebangkitan begitu berpusat pada wanita? Apakah Anda menyadari bahwa para wanita, bukan para pria, yang menjadi pusat dari kisah-kisah ini? Misalnya, dalam kisah tentang kebangkitan, siapa satu-satunya orang di dunia yang tahu bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian? Maria Magdalena, seorang yang dulunya sakit mental, adalah satu-satunya yang diberitahu oleh Yesus untuk membawa berita ini kepada dunia. Orang lain di seluruh dunia mengetahuinya dari dia. Para wanita adalah orang-orang pertama yang melihat Yesus bangkit dari kematian.

Mengenai Inkarnasi, pemberitahuannya disampaikan kepada seorang wanita. Allah masuk ke dunia melalui rahim seorang gadis remaja Yahudi, perawan, dan miskin. Kelompok renungan teologis pertama berusaha untuk memahami apa artinya ini dan apa yang terjadi pada Maria dan Elisabet. Kita tahu bahwa pada masa-masa itu kaum wanita memiliki status yang sangat rendah. Mereka dipinggirkan dan ditindas. Misalnya, kita tahu bahwa kesaksian seorang wanita tidak dapat diterima di persidangan. Mengapa? Karena prasangka terhadap wanita.

Kita berkata pada diri kita sendiri, bukankah kita senang kita tidak mengalami itu? Ya, tetapi inilah yang harus kita sadari: Allah sungguh-sungguh bekerja bersama dengan orang-orang yang dipandang rendah oleh dunia. Saksi pertama dari kelahiran-Nya dan kebangkitan-Nya adalah orang-orang yang dianggap oleh dunia sebagai yang tidak bisa dipercaya, yang dipandang rendah oleh orang-orang dunia. Karena kita pada zaman ini tidak memandang rendah wanita, kita tidak memperhatikan bagian kisah ini dan menyadari apa yang diberitahukan. Akan tetapi, inilah yang disampaikan kepada kita: Natal adalah akhir dari kesombongan. Natal adalah akhir dari berpikiran, “Oh, orang seperti itu.” Anda tidak menghina wanita, tetapi Anda menghina seseorang. (Oh ya, Anda melakukannya!) Anda mungkin bukan seorang rasis, tetapi Anda pasti menghina para rasis. Anda mungkin bukan seorang yang fanatik, tetapi ada orang-orang tertentu yang Anda pikir, “Mereka adalah orang-orang yang menimbulkan masalah di dunia.”

Ada sebuah tempat pada salah satu khotbah Martin Luther tentang kisah kelahiran di mana dia bertanya sesuatu seperti, “Tahukah Anda bagaimana bau kandang itu? Anda tahu seperti apa bau keluarga itu setelah kelahiran ketika mereka keluar dan masuk ke dalam kota? Dan, jika mereka berdiri di sebelah Anda, bagaimana perasaan Anda tentang mereka dan bagaimana anggapan Anda tentang mereka?” Dia coba mengatakan seperti ini, saya ingin Anda melihat Kristus di dalam diri sesama yang cenderung Anda pandang rendah – di dalam pihak politik yang Anda pandang rendah, di dalam ras yang Anda pandang rendah, di dalam kelompok masyarakat yang Anda pandang rendah.

Natal adalah akhir dari pemikiran bahwa Anda lebih baik daripada orang lain, karena Natal memberi tahu Anda bahwa Anda tidak pernah bisa sampai ke Surga dengan kemampuan diri sendiri. Allah harus mendatangi Anda. Natal memberitahu Anda bahwa orang-orang yang diselamatkan bukanlah mereka yang bangkit dengan kekuatan mereka sendiri untuk menjadi seperti yang Allah inginkan atas mereka. Keselamatan ada pada mereka yang mau mengakui betapa lemah diri mereka.

Di dalam Natal ada sumber untuk sesuatu yang sebagian besar dari kita bahkan tidak merasa membutuhkannya. Kita mungkin bisa mengakui kita ini rentan atau kita membutuhkan pertolongan untuk menghadapi penderitaan, atau bahwa kita membutuhkan lebih banyak gairah untuk keadilan. Akan tetapi, hampir tidak ada yang berkata, “Apa yang akan saya lakukan terhadap prasangka dan kesombongan diri saya? Saya benar-benar butuh bantuan untuk hal itu.”

Apakah Anda ingat apa yang paling membuat Anda sombong ketika Anda remaja? Remaja umumnya tidak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak berpakaian bagus dan terlihat keren. Apakah menurut Anda, Anda sudah mengatasinya? Anda belum benar-benar mengatasinya. Anda hanya menemukan cara yang lebih dapat diterima secara sosial untuk mengungkapkannya. Para remaja menampilkan aspek natural manusiawi itu dan tidak menyadari betapa bodoh penampilan mereka, dan setelah beberapa lama mereka akan berubah. Akan tetapi, sesungguhnya mereka hanya membungkusnya dengan hal lain. Ada berbagai jenis orang yang Anda pandang rendah dan Anda tidak ingin berhubungan dengan mereka – dan Anda tahu itu. Namun, pada hari Natal ini Anda memiliki sumber yang mengagumkan ini untuk mengurangi hal itu – untuk menghentikannya dan menghilangkannya.

Hal-hal ini adalah hadiah yang ada di dalam bingkisan Natal – keterbukaan untuk keintiman, kekuatan untuk penderitaan, gairah untuk keadilan, dan kekuatan untuk menghilangkan prasangka. Dan, Anda diberkati jika membuka hadiah ini dan membawanya ke dalam hidup Anda. Jika Anda melakukannya, maka Anda akan diberkati. Anda akan diubahkan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Vertical Living Ministries
URL: https://verticallivingministries.com/2013/12/21/tim-keller-on-christmas-...
Judul asli artikel: Tim Keller on Christmas And Suffering
Penulis: Tim Keller
Tanggal akses: 4 Januari 2018