Yesus atau Sinterklas?

Ditulis oleh: Roditus Mangunsaputro

Ayat: Matius 2:1-2 Tepat menjelang Natal empat tahun yang lalu, saya, istri dan keempat anak sempat menikmati liburan yang menyenangkan ke satu kota di Negara tetangga.dibeberapa tempat yang kami kunjungi lagu-lagu natal bergema disetiap sudut, lampu-lampu natal menyala berkilauan meriah dimana- mana bagai ribuan kunang-kunang menerangi malam yang indah, bahkan dibeberapa pusat perbelanjaan yang sempat kami kunjungi, pohon-pohon natal raksasa bertengger dengan kokoh dan indah.

Namun, kami merasakan, ada satu yang hilang YESUS inti sesungguhnya dari perayaan itu. Orang sudah kehilangan alasan utama yang menyebabkan adanya perayaan itu sendiri. Kami merasakan Sinterklas disanjung-sanjung menggantikan Yesus, Anak-anak diperkenalkan kepada sinterklas sebagai dewa baru yang baik hati, yang senang membagi- bagikan cokelat dan hadiah-hadiah. Semakin mahal hadiah yang diberikan oleh Sinterklas semakin membuat anak-anak terbelalak matanya penuh suka cita. Sosok Sinterklas terpatri erat di benak anak-anak sebagai wujud natal yang hadir didunia.

Tour-tour natal ditawarkan dengan promosi yang menarik untuk menikmati tujuan wisata yang mempesona, hotel-hotel menawarkan acara menarik dengan sajian aneka musik dan hadiah berikut diskon untuk menginap selama liburan natal.

Orang-orang majus dari timur datang ke palungan menempuh perjalanan yang panjang dan sukar dihadapan Raja orang Yahudi, bukan untuk mencari sesuatu agar membuat mereka menjadi kaya, tetapi justru sebaliknya mereka mempersembahkan apa yang mereka miliki, yaitu emas, kemenyan dan mur, harta miliknya yang mahal dipersembahkan untuk Yesus.

Harta kekayaan bukanlah yang utama bagi mereka, tetapi Yesus Raja orang Yahudi yang menjadikan mereka sukacita.

Dalam banyak hal, dunia kita ini telah ditipu dengan cara serupa, khususnya natal bagi umat Tuhan, bukan lagi Yesus yang menjadi utama, tetapi bagaimana natal dapat dirayakan untuk memuaskan keinginan daging. 1Yohanes 2:16 menulis Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia .

Keinginan-keinginan daging menyebabkan manusia mengejar harta-benda yang dianggap lebih bernilai dalam hidupnya, tidaklah heran kita lebih sering membuang dan menyingkirkan manusia yang dianggap penghalang untuk mencapai harta benda yang diinginkan, dan menyimpan baik-baik harta benda dianggap berharga. Sedangkan kata nilai sendiri maknanya telah hilang sama sekali.

Tidaklah heran, keluarga menjadi hancur karena kasih sayang digantikan dengan uang, benda menggantikan waktu yang berharga dan dibutuhkan.

Natal sesungguhnya adalah memberikan kasih yang utuh, sama seperti orang-orang majus dari timur, dengan segenap hati dan waktunya mereka menyembah sang Juru selamat, sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang rela meninggalkan sorga mejadi manusia yang hina. Itulah natal yang dikehendaki Tuhan, yaitu mempersembahkan hidup kita sebagaimana tertulis dalam Roma 12:1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

                          Selamat Hari natal, Tuhan Yesus memberikati.

Judul: Yesus atau Sinterklas?
Teks Alkitab: Matius 2:1-2
Nama Penulis: Roditus Mangunsaputro