Bahan Terbaru

Firman Menjadi Daging (1)

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
(Yohanes 1:14)

SAYA telah menikah selama lebih dari seperempat abad. Allah telah memberikan kepada saya seorang istri yang saleh yang karakternya lebih baik dari pada saya. Luella dan saya menikmati hubungan yang indah dalam berbagai hal. Kami dibesarkan dalam keluarga Kristen dimana kami diajarkan kebenaran sejak kecil. Kami berdua mengenal Kristus ketika masih anak-anak dan dididik di perguruan tinggi Kristen. Kami telah mempergunakan waktu kami untuk pelayanan dan telah diberkati dengan pengajaran alkitabiah yang baik. Kami telah bekerja keras untuk mengikuti rancangan Kristus bagi pernikahan kami.

Ketika Allah Melangkah Keluar

Kita tidak perlu bertanya-tanya seperti apakah Allah itu. Kita juga tak perlu bertingkah seperti anak kecil yang menatap ke langit dan bertanya kepada ibunya, "Apakah Allah ada di atas sana?" Ketika ibunya meyakinkan anak itu bahwa Allah ada di atas sana, si anak menanggapi, "Bukankah lebih baik bila Ia memperlihatkan wajah-Nya supaya kita dapat melihat-Nya?"

Sudahkah Anda Berjumpa dengan Kristus?

Jika Anda harus kembali bekerja setelah Natal, apakah yang akan Anda bawa bersama Anda dari masa Natal tersebut? Beberapa hadiah dan beberapa kenangan liburan yang indah, atau sesuatu yang lain?

Saya sangat menyukai cara J.B. Phillips menerjemahkan Lukas 2:20: "Para gembala tersebut kembali bekerja, memuji dan memuliakan Allah untuk segala sesuatu yang telah mereka dengar dan lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka."

Tak Ada Natal Keluarga

Aku dibesarkan di tengah keluarga "Bhinneka Tunggal Ika". Orang tuaku adalah orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah "ageming aji" (baju kehormatan diri). Mereka membebaskan anak-anak memilih agamanya masing-masing. Aku sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke sekolah minggu. Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibuku pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini Pancasila, kok. Ada Al- Quran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan!"

"The Last Waltz"

Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya, Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz" dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, karena beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.

Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu, Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz", sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari waltz.

Sukacita dalam Nyanyian

Para gembala bernyanyi
Memuliakan Allah yang telah memberikan terang

Terang bagi hidup manusia
Terang bagi jalan-jalan kita

Terang itu mengantar kita pada seorang bayi mungil
Terang itu akhirnya terlihat nyata di depan kita

Bayi mungil itu ... Yesus
Yesus yang terlahir dari perawan Maria
Penuh kekudusan, penuh kesederhanaan

Bersorak-sorai haleluya
Memuji nama Allah di tempat yang mahatinggi
Sebab damai sejahtera telah Ia turunkan
Dan sukacita melimpah telah kita rasakan

"Gita Sorga Bergema/Dengar Malak Memuji" -- Injil dalam Lagu Natal Charles Wesley

Penulis: Dr. Ralph F. Wilson

Salah satu lagu Natal yang paling dalam dan terkaya dari semua lagu ditulis oleh Charles Wesley pada 1739 -- "Dengar Malak Memuji".

Wesley bersaudara, John dan Charles, dipakai Tuhan untuk membawa kebangkitan di Inggris yang menyebar ke Amerika di Kebangunan yang Besar. Sementara John terkenal karena khotbahnya yang kuat, Charles Wesley (1707 -- 1788) menulis himne ini dan 6.500 himne lainnya untuk mengajarkan kepada para petobat kebenaran besar tentang iman Kristen. Beberapa dari lagu-lagunya yang paling terkenal antara lain "Jesus, Lover of My Soul" (1739), "Love Divine, All Loves Excelling" (1747), and "O for a Thousand Tongues to Sing" (1749). Dia juga menulis Christmas Carol yang terkenal lainnya, "Come, Thou Long-Expected Jesus" (1744) and "two well-known Easter hymns", "Christ the Lord Is Risen Today" (1739) and "Rejoice, the Lord Is King" (1746).

Pages