Mengapa Perayaan Natal Lebih Meriah Daripada Paskah?

Pertanyaan diskusi:

Kenapa Natal selalu dirayakan lebih meriah daripada hari-hari raya Kristen lainnya (Paskah, Pentakosta, Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, dll.)? Bagaimana seharusnya kita merayakan secara alkitabiah?

------------

Roditus:

Ada beberapa alasan sbb:

Natal dirayakan pada akhir tahun (bulan Desember) dan sangat dekat dengan pergantian tahun yang diperingati di seluruh dunia. Pada akhir tahun umumnya para pekerja mendapatkan bonus dan mengambil cuti tahunannya. Momen tersebut terbaca oleh kaum kapitalis sebagai peluang emas untuk mengeduk keuntungan secara besar-besaran tanpa memperdulikan arti Natal yang sesungguhnya, sehingga mengaburkan kesakralan Natal dengan membuat promosi besar-besaran. Untuk suku tertentu di Indonesia yang juga beragama Kristen, justru lebih mengutamakan pergantian tahun dengan melakukan ibadah tutup tahun, makan, minum dan saling berkunjung di dini hari pergantian tahun, dibandingkan perayaan Natalnya.

Bagaimana seharusnya menurut Alkitab?

Perayaan Natal, sama nilainya dan sama sakralnya dengan Paskah, Pentakosta, Kenaikan Tuhan Yesus kesurga yang seharusnya diperingati dengan perenungan dan pengosongan diri sebagaimana Tuhan Yesus juga mengosongkan dirinya, supaya setiap orang dapat terus belajar menjadi sempurna sebagaimana Tuhan Yesus sempurna sebagai teladan kita.

Sebab dalam 1 Yohanes 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Karena ada satu kalimat perintah didalamnya WAJIB hidup seperti Kristus telah hidup.

Kalau hidup kita sebagai murid/umat-Nya tidak hidup seperti Kristus hidup, maka kita wajib berkata: KENAPA?

--------------

Djunaidi:

Menurut saya, dalam Lukas 2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu KESUKAAN BESAR untuk seluruh bangsa: 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Mungkin dari kata KESUKAAN BESAR ini diartikan bahwa kita 'harus' merayakan Natal dengan meriah dibanding dengan Paskah, Pentakosta atau peristiwa lainnya.

Bagaimana kita harus merayakan menurut Alkitab ?

Natal tetap harus tetap dirayakan dengan meriah seperti dalam Lukas 2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 2:14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Kalau Allah Bapa saja menyuruh sejumlah besar bala tentara sorga untuk memeriahkan kelahiran Putranya, masa kita tidak?

Bukan berarti meriah harus menghamburkan banyak uang.
-------------

Naomi:

Menurut saya pribadi, penyebabnya:

- Karena natal sudah disusupi dengan tradisi lain;

- Karena keberatan manusia sendiri, dimana mood manusia akan mengarah kepada sukacita kalau ada kelahiran anak; dan dukacita kalau ada kematian;

Perayaan secara alkitabiah selalu berlandaskan kasih Allah dalam perbuatan. Jika 'berbuat' merayakan misalnya: pasti segala sesuatunya dipersiapkan untuk kemuliaan Allah saja.

Seperti yang saya alami selama mengikuti perayaan Natal baik di gereja; meskipun namanya perayaan, tetapi selalu ada:

-doa

-ibadah

-acara juga yang berhubungan dengan kelahiran Yesus seperti: menyanyi lagu tentang natal; drama tentang natal

-bahkan sebelum perayaan ada beberapa gereja yang mengadakan bakti sosial ke kaum papa dll

-tidak ada yang namanya pesta pora, mabuk-mabukan dsb.
------------

Sugianto:

Merayakan secara alkitabiah? menurut saya sih mengikuti yang diteladani Tuhan saja. Kalau perlu tidak merayakan karena di alkitab sendiri, pada kehidupan para rasul atau jemaat awal, tidak ada tentang perayaan kelahiran Tuhan. Toh budaya-budaya tentang ultah itu-lah yg jangan2 sedikit2 mengikis makna Natal yang sesungguhnya. Yg perlu dilakukan adalah menebarkan sukacita kelahiran Tuhan sebagai penebus dosa dengan mengabarkan Injil. Menurut saya ini sukacita buat Tuhan yang sesungguhnya. Kita mesti pikirkan apa yang membuat Tuhan sukacita kan? bukan sukacita kita sendiri dgn perayaan-perayaan.

Tetapi apa yang disampaikan Pak Djuniaidi tentang Lukas 2:10 yang membuat kita berpikir untuk merayakan sukacita itu dengan perayaan yang semeriah mungkin. Tapi kalau mnrt saya, itu kan kata malaikat bukan kata Tuhan loh. Kalau kita menempatkan diri kita pada posisi malaikat itu saya kira kita akan menyampaikan kata-2 yg mirip. Artinya memang sedang ada sukacita yang luar biasa atas kedatangan Tuhan ke dunia untuk menjadi korban dosa.

Tapi sekarang kita lihat apa yang terjadi pada perjamuan terakhir sebelum Tuhan ditangkap. misal di mat 26 apa yang Yesus katakan ketika itu? ayat 28 yaitu tentang darah yang akan ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. dan jika demikian maka kematian Tuhan lah yang mestinya lebih banyak kita renungkan. agar kita ingat bahwa Tuhan sang Pencipta telah menderita hanya untuk nebus dosa manusia ciptaanNya. Jadi posisi perayaan natal semestinya tidak lebih penting daripada memperingati kematian Tuhan. dan juga tidak meriah (jika kita merayakannya).
------------

Rudi:

Dulu sewaktu saya sekolah minggu hingga remaja atau pemuda mungkin pertanyaan atau pernyataan ini memang benar; Tetapi sekarang saya menyadari bahwa yang terpenting dalam kehidupan kekristenan saya adalah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga. Inilah yang menyebabkan banyak tempat ibadah masih terisi dengan penyembah penyembah-Nya. Inilah yang dapat membedakan bahwa TUHAN kita itu dahsyat.

Kenapa perayaan natal selalu dituntut alkitabiah ? Ini pertanyaan maupun pernyataan yang sulit; Karena pada waktu itu, kelahiran Yesus memang tidak dirayakan dan justru ini yang alkitabiah. Tentu kita tidak menginginkan tiadanya perayaan kelahiran Yesus, walaupn dengan bertambahnya keingintahuan kita, kita menyadarai bahwa perayaan natal Desember adalah kuarng tepat.
------------

Jamasdin:

Pendapat saya: Natal dirayakan meriah mungkin faktor kebiasaan yang sudah berlaku lama, sehingga sering melenceng dari makna sesungguhnya misalnya banyak anggapan bukan Natal namanya kalo gak meriah. Saya teringat waktu masih Sekolah Minggu, Natal SM adalah yang selalu saya nantikan karena pada saat itu saja saya dapat memiliki baju baru dan sepatu baru (maklum faktor ekolem) tanpa sadar orangtua saya sudah menanamkan di dalam jiwa saya bahwa Natal itu lebih istimewa. Saat ini di tempat kami sering kelompok (warga/pemuda setempat) memanfaatkan Natal ajang komersil bahkan untuk mencari keuntungan bagi panitia dengan setengah memaksa agar warga mau memberikan sumbangan (wah mengerikan bukan ?)

Menurut saya geraja harus berani meluruskan agar kembali ke makna Natal sesungguhnya, agar disejajarkan dengan perayaan lainnya seperti Paskah, Pentakosta, Kanaikan Tuhan Yesus ke surga,dll dimana perayaannya menekankan kepada maknanya, bukan hura-hura.
-----------

Edo Manik:

Nampaknya sekali lagi kita harus melihat lagi kebelakang bahwa tradisi merayakan natal tidak terdapat pada jemaat mula-mula. Sejak th 274, Tgl 25 Desember di Roma dijadikan sbg hari u/ merayakan kelahiram Mathri sebagai penutup festival saturnalia (17-24 des), krn di akhir musim salju, tanggal itu (25 Des) matahari mulai menampakan sinarnya dg kuat. Untuk mengalihkan tradisi perayaan kaum kafir ini, Kaisar Konstantin yg telah menjadi kristen pd Th 336 menetapkan tgl 25 Des sbg H Natal. Di Anthiokia mulai dirayakan th 375, di Konstantinopel mulai th 380, di Alexandria muali th 430, dst menyebar ke tempat2 lain. Jadi kemeriahan Natal adalah mengadopsi kemeriahan perayaan sebelumnya (perayaan dewa matahari). Ditambah lagi dewasa ini dibumbui dengan sentuhan bisnis. Jadilah komersialisasi Natal. Tidak dipungkiri banyak yang merenungkan Natal dengan tulus dan tanpa di pusingkan oleh hingar-bingar acaranya. Tapi seringkali 'cara' aktualisasi Natal yang terkesan 'wah' menjadi sorotan miring.

Bagaimana kita merayakannya secara Alkitabiah?

Natal adalah Allah melawat umatNya. Kabar sukacita. Ungkapan syukur atas lawatan Allah bisa kita lakukan dengan perenungan pribadi atau ibadah bersama dan kapan saja. Dengan demikian orang akan melihat terang Natal karena pancaran kasih Allah melalui kita. Mat 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
-----------

Indriatmo:

Memang umumnya Natal dirayakan lebih meriah daripada hari raya Kristen yang lain. Akan tetapi tidak semuanya seperti itu - karena ada beberapa daerah dan suku yang merayakan tahun baru lebih meriah dari Natal. Beberapa teman lebih memilih mengambil cuti saat tahun baru dibandingkan dengan saat Natal.

Sedangkan alasan mengapa Natal dirayakan lebih meriah, karena:

1. Natal dirayakan dekat dengan tahun baru

Seluruh bangsa di dunia saat ini merayakan pergantian tahun dengan meriah, dan Natal selalu dikaitkan dengan tahun baru - sehingga ucapan selamatnya berupa: Selamat Natal dan Tahun Baru.

2. Untuk orang Kristen, libur Natal biasanya dilanjutkan dengan libur tahun baru

3. Hari kelahiran umumnya lebih dirayakan dibandingkan dengan hari kematian.

4. Adanya komersialisasi Natal

Kemeriahan di tempat perdagangan dan hiburan - membuat suasana meriah terbawa juga ke dalam gereja.

5. Negara Eropa sedang dalam musim dingin

Musim dingin membuat suansana menjadi syahdu. Sama dengan di sini saat musim hujan lebat ...:-)

Perayaan ultah secara alkitabiah tidak diatur secara khusus di dalam Alkitab. Berbeda dengan perayaan-perayaan yang diatur di dalam kitab Imamat 23 seperti:

- Paskah dirayakan dengan memakan roti tidak beragi di sore hari (saat ini tidak dilakukan oleh gereja Kristen),

- Sabat dirayakan dengan ibadah pada hari sabtu dan sama sekali tidak boleh bekerja (saat ini tidak dilakukan oleh gereja Kristen),

- Hari raya meniup serunai dirayakan dengan membakar korban api-apian (saat ini tidak dilakukan oleh gereja Kristen),

- Hari raya Pendamaian dirayakan dengan berpuasa dan membakar korban api-apian (saat ini tidak dilakukan oleh gereja Kristen)

- Hari raya pondok daun dirayakan dengan tinggal di gubuk daun-daunan selama tujuh hari (saat ini tidak dilakukan oleh gereja Kristen).

- dll.

Dan kenyataannya sekarang ini semua hari raya dan cara perayaannya (yang alkitabiah) seperti yang diatur dalam Imamat 23 sama sekali tidak dilakukan oleh gereja Kristen saat ini.

Jadi jika ditanya bagaimana cara merayakan ultah Kristus, kita bisa bertanya pada diri sendiri bagaimana cara kita merayakan ultah diri kita sendiri. Bagaimana cara kita merayakan ultah anak, ultah perkawinan, ultah gereja bahkan ultah negara RI. Jika kita merasakan sukacita karena kelahiran Kristus, mengapa kita tidak bersukacita -dan bahkan membagi sukacita itu dengan orang-orang non Kristen dan kaum papa. Kita bisa membagi sukacita dengan seluruh keluarga besar, kita bisa membagi sukacita dengan para tetangga dan siapa saja yang dekat maupun jauh dengan ucapan selamat Natal.

Jika manusia begitu bersukacita karena memperingati hari lahirnya, biarlah tiap-tiap orang mengekspresikan rasa sukacita dan rasa syukurnya atas kelahiran Kristus sang Juru Selamat di kota Daud. Bersama dengan para malaikat dan bala tentara surga kita bisa memuji: GLORIA IN EXCELSIS DEO !
------------

Andy:

Bagaimana seharusnya kita merayakan secara alkitabiah?

Mat. 1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita.

Allah menyertai kita merefleksikan 2 hal:

1. Refleksi kedalam: bersyukur atas penyertaan Allah dalam segala aspek kehidupan kita.

2. Refleksi keluar: Luk 2:10-11 "Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Berita kesukaan besar harus diberitakan ke seluruh umat manusia. Ini sejalan dengan fungsi 'gereja': memberitakan kabar Injil. Jadi merayakan natal harus di landasai semangat untuk memberitakan Injil, berbagi Kasih Allah kepada sesama.
--------------

T. Budiman:

Bila kita melihat tujuan dari kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, maka tujuanNya adalah penebusan dosa manusia, yang dilakukanNya di hari kebangkitanNya (Paskahnya Kristen). Tetap saja kita harus dapat membedakan tujuan dan proses / caranya. Tanpa penyaliban, tidak mungkin ada kebangkitan. Peristiwa pemuliaan Yesus menyiapkanNya sebagai korban penebusan. Peristiwa pencobaan dan pembaptisanNya menyiapkanNya dalam pelayananNya, yaitu menyiapkan manusia agar dapat percaya dan menerima penebusan dosa tersebut. Dan tentu semua itu tidak dapat dilakukanNya tanpa kelahiranNya. Namun secara historis titik yang lebih bersejarah bagi umat manusia adalah ketika Roh Kudus menanamkan benihNya dalam tubuh Maria, karena di titik itulah Allah Anak datang ke dunia, bukan? Kecuali kalau kita beranggapan bahwa janin baru memiliki roh saat dilahirkan?

Jadi setidaknya perayaan Paskah harus menjadi puncak perayaan dalam Kekristenan. Tentu kata 'meriah' sebenarnya tidak tepat untuk menggambarkannya, karena mudah diselewengkan.
--------------

Sebastian:

Pak Rudi, mau bertanya...darimana ya dasarnya bisa dikatakan bahwa kelahiran Yesus waktu itu tidak dirayakan? Waktu itu merujuk pada?
-----------

Rudi:

Pada waktu itu, zaman pemerintahan kolonial, peringatan ultah hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, misalnya Herodes, sementara itu peringatan ultah kelahiran Yesus tidak terdata untuk dirayakan.

---end