Memaknai Natal

Tim Keller

Catatan Editor: Khotbah adaptasi ini dikutip dari "Come, Thou Long-Expected Jesus: Experiencing the Peace & Promise of Christmas" (Datanglah, Engkau Yesus - Yang Telah Lama Diharapkan: Mengalami Damai dan Janji Natal - Red.) Diedit oleh Nancy Guthrie, Crossways.

Apa yang Allah berikan kepada kita pada saat Natal bukan hanya Anak-Nya. Ia memberikan kita sebuah kebenaran -- kebenaran yang mengubah kita ketika kita memahaminya. Apa yang Allah berikan saat Natal adalah kehidupan baru secara menyeluruh.

Dalam pasal pertama kitab Lukas, Elisabet berkata, "Berbahagialah dia yang percaya bahwa apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan digenapi" (AYT). Elisabet berbicara kepada Maria -- dan kepada kita -- Jika Anda memercayai apa yang malaikat katakan kepada Anda tentang bayi itu, jika Anda memahaminya, Anda akan diberkati."

Akan tetapi, kata bahasa Inggris "diberkati" terdengar sangat lemah dan kurang berpengaruh. Dalam bahasa Inggris, kita menggunakan diberkati untuk sesuatu seperti "terinspirasi." Akan tetapi, dalam bahasa Ibrani dan Kitab Suci Yunani, kata 'diberkati' memiliki suatu arti yang lebih dalam daripada itu. Diberkati membawa Anda kembali pada shalom, manusia yang berfungsi sepenuhnya; itu menjadikan Anda segala sesuatu yang Allah maksudkan kepada Anda. Diberkati berarti diperkuat dan diperbaiki dalam setiap kemampuan yang dimiliki oleh kemanusiaan Anda, untuk sepenuhnya berubah.

Apa yang Elisabet katakan kepada Maria, dan apa yang Lukas katakan kepada kita adalah, "Apakah Anda memercayai bahwa gagasan yang indah tentang reinkarnasi akan benar-benar terjadi? Jika Anda percaya, dan jika Anda ingin membawanya ke dalam pusat hidup Anda, Anda diberkati, diubah, dan sepenuhnya berubah."

Ketika kita membuka bungkus/selubung Natal, kita menemukan bahwa Allah telah memberi kita banyak hadiah -- keterbukaan untuk keintiman, penghiburan untuk penderitaan, keinginan akan keadilan, dan kuasa atas prasangka.

Dalam semua hubungan pernikahan, orang tua-anak, rekan sekerja -- pada satu titik Anda akan masuk dalam percakapan yang berujung seperti ini:

"Kamulah yang harus disalahkan!"
"Tidak, ini salahmu!"
"Bukan, ini kesalahanmu."
"Tidak, bukan salahku. Salahmu."

Apa yang terjadi? Hubungan itu menjadi buruk karena setiap pihak tidak ada yang mengakui kesalahan, sedikit menyadari, atau bersedia melakukan kompromi. Setiap pihak tidak akan mengaku bersalah atau berhenti menyalahkan. Dan, selama pembelaan diri terus dilakukan, hubungan itu akan menjadi kacau.

Namun, kemudian terkadang ini terjadi:

"Kamulah yang harus disalahkan!"
"Tidak, ini salahmu!"
"Bukan, ini kesalahanmu."
"Tidak, bukan salahku. Salahmu."
"Baiklah, ini salahku."

Satu orang mengalah. Hubungan mulai membaik kembali karena satu orang bersedia untuk berkata, "Yah, itu salahku. Aku yang patut disalahkan dalam hal ini." Satu orang membuat dirinya mengalah, dan hubungan pun dipuluhkan. Bahkan, hubungan itu sering menjadi mendalam dan lebih dekat dibanding sebelumnya.

Mengapa seseorang bersedia melakukannya? Sebab, di tengah-tengah teriakan dan semua sikap bermusuhan, satu orang memutuskan bahwa betapa pun orang lain sudah berubah karena kemarahan, dia ingin orang tersebut kembali. Dia menginginkan hubungan itu dipulihkan.

Dalam hadiah Natal, yang tidak dapat disangkal, Allah yang Mahakuasa menjadi seorang bayi, yang memberikan kita contoh terpenting dalam hal mengalah/merendahkan diri.

Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah melepaskan perisai, menjadi terbuka, dan membiarkan kata demi kata mendarat. Menyakitkan, tetapi itulah satu-satunya cara. Itu merupakan tindakan penebusan yang mahal bagi hubungan. Dan, itu berhasil karena kita diciptakan dalam rupa Pribadi yang memberikan pengungkapan tertinggi pada bagian ini dalam keberadaan-Nya pada peristiwa Natal.

C. S. Lewis menyatakannya seperti ini,

"Kasihi segalanya dan hati Anda akan tersayat, dan mungkin hancur. Jika Anda ingin memastikannya tetap utuh, jangan memberikannya kepada siapa pun, bahkan untuk seekor binatang. Bungkuslah hal itu rapat-rapat dengan hobi dan sedikit kemewahan; hindari segala sesuatu yang berbelit-belit. Kunci dengan aman dalam peti keegoisan Anda. Namun, di dalam peti yang aman, gelap, tidak bergerak, tanpa udara itu, hal tersebut akan berubah. Hati Anda tidak akan hancur, tidak dapat dimasuki, tidak dapat ditebus. Mengasihi berarti menjadi terbuka."

Tidak ada satu pun cara untuk memiliki hubungan baik tanpa kemungkinan untuk tersakiti. Dan, Natal membawa berita bahwa Allah menjadi rapuh dan rentan. Allah menjadi pribadi yang dapat kita sakiti. Mengapa? Untuk membantu kita. Dan, jika Anda memercayai ini dan membawanya ke dalam hidup Anda, Anda diberkati. Saat Anda memahami kebenaran yang telah dilakukan-Nya untuk Anda - betapa dikasihi dan dijaminnya diri Anda - Anda akan dengan mudah melepaskan pertahanan dalam hubungan Anda dengan orang lain. Anda tidak perlu selalu menjaga kehormatan Anda. Anda dapat mengalahkan rintangan. Anda dapat bergerak untuk menjalin hubungan yang lebih akrab dengan orang lain.

Apa yang ada di dalam bungkusan Natal? Keterbukaan-Nya untuk menjadi dekat dengan kita, yang memberikan kita keterbukaan untuk menjadi dekat dengan orang lain di sekitar kita. Jika Anda memercayai Natal - bahwa Allah menjadi manusia - Anda memiliki kemampuan untuk menghadapi penderitaan, sumber untuk menghadapi penderitaan yang tidak dimiliki yang lain. (t/Venna)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: GCD
URL: http://gcdiscipleship.com/2011/12/19/taking-in-christmas/
Judul asli artikel: Taking In Christmas
Penulis artikel: Tim Keller
Tgl akses: 4 Januari 2018