Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Natal

Loading

Apakah Pohon Natal Tidak Alktiabiah?

Pertanyaan diskusi:

Apakah pohon Natal juga menjadi salah satu icon Natal yang tidak alkitabiah? Apakah ada hal-hal lain yang sebenarnya tidak termasuk dalam unsur-unsur Natal yang alkitabiah?

------------

Meinardi:

Sejarah Singkat

Perayaan Natal Awalnya, perayaan Natal diperkirakan berasal dari festival Romawi dan negara Eropa lainnya yang menandai akhir masa panen dan masa titik balik matahari di musim gugur. Menurut sejarah awal Romawi, penentuan tanggal 25 Desember sebagai masa awal kelahiran Yesus Kristus dilakukan pada abad ke-4. Beberapa kebiasaan dari perayaan yang masih bertahan sampai saat ini termasuk mendekorasi rumah dengan tumbuh-tumbuhan hijau, pemberian hadiah, menyanyikan lagu-lagu dan menyiapkan masakan istimewa.

Kaum Puritan beranggapan bahwa Natal bukan bagian dari Kekristenan. Mereka tidak menemukan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus di Alkitab dan berkeras bahwa tanggal tersebut diperoleh dari masa perayaan musim dingin kaum penyembah berhala di Roma kuno, Saturnalia. Pada tahun 1620, Kaum Puritan bekerja dalam proyek pembangunan dan dengan terang-terangan mengabaikan perayaan Natal.

Pernyataan bahwa perayaan Natal mengalihkan orang dari kesalehan religius berlanjut sampai Puritanisme menyusut. Pada tahun 1827, seorang Uskup Episkopal menyatakan bahwa Iblis telah mencuri Natal dan membuatnya menjadi suatu festival duniawi yang dirayakan dengan minum-minuman keras dan berbicara kasar. Sepanjang tahun 1800, banyak pemimpin religius yang masih berusaha untuk bertahan pada hal itu.

Masa liburan tersebut dikembangkan lebih lanjut dari legenda Santo Nicholas. Meskipun sejarah tidak mengkonfirmasi hal ini, orang yang dianggap Santo Nicholas hidup pada abad ke-4 dan dipercaya sebagai seorang uskup di Asia Kecil. Banyak peristiwa ajaib seputar dirinya yang diragukan, namun demikian, beberapa negara tetap memakai namanya sebagai santo pelindung mereka. Ia dianggap sebagai santo pelindung dari anak-anak, pelaut dan kaum miskin.

Untuk menghormatinya, Festival Santo Nicholas diadakan pada tanggal 6 Desember dan hadiah-hadiah diberikan pada malam sebelumnya. Tradisi ini kemudian berkembang di banyak negara Eropa di abad ke-12. Akhirnya, karena Hari Santo Nicholas dan Hari Natal sangat berdekatan, tradisi keduanya pun dikombinasikan.

Santo Nicolas memiliki berbagai karakter di negara-negara tertentu. Contohnya, Belanda memiliki Sinter Klaas; Father Chrismas yang memberikan hadiah di Inggris Raya; Père Noël melakukan hal yang sama di Perancis; dan di Jerman terdapat Santo Nicholas yang memiliki banyak nama termasuk Klaasbuur, Burklaas, Rauklas, Bullerklaas, dan Sunnercla, meskipun Father Christmas juga menjadi popular. Di Amerika Serikat, nama Sinter Klaas menjadi Santa Claus.

Natal meraih popularitas saat berubah menjadi perayaan domestik, setelah publikasi Clement Clarke Moore ‘Kunjungan dari Santo Nicholas’ dan gambar Thomas Nast di Harper’s Weekly, yang menggambarkan gambaran Santa dengan janggut putih yang memberikan hadiah bagi anak-anak. Penekanan baru ini mengurangi kekuatiran para pemimpin religius bahwa perayaan itu akan berakhir dengan minum-minum dan berserapah.

Asal Kata

Kata Natal (Christmas) di Inggris Kuno berasal dari kata Cristes Maesse, Misa Kristus, pertama kali ditemukan pada tahun 1038, dan Cristes-messe, pada tahun 1131. Di Belanda adalah Kerst-misse, dalam bahasa Latin Dies Natalis, yang membuat Noël dalam bahasa Perancis, dan bahasa Itali Il natale; dalam bahasa Jerman Weihnachtsfest, dari suatu upacara sakral kuno.

Asal Usul Pohon Natal

Pohon Natal merupakan hiasan yang hampir selalu ada di setiap perayaan Natal. Tradisi ini juga memiliki banyak cerita tentang asal usulnya, antara lain berikut ini.

Orang Romawi mendekorasi rumah mereka dengan cabang pohon evergreen selama tahun baru dan penduduk asli kuno dari Eropa Utara memotong batang pohon evergreen – simbol kuno bagi kehidupan di tengah musim dingin – dan menanamnya di dalam rumah. Praktek ini diikuti oleh sebagian orang Kristen mula-mula yang merasa perlu menghormati orang Romawi. Namun, banyak orang Kristen mula-mula, seperti Tertullian yang memusuhi praktek seperti itu. Kemudian, pada masa awal Abad pertengahan muncul sebuah legenda yang menceritakan bahwa saat Kristus lahir di akhir musim dingin, setiap pohon seluruh dunia secara ajaib meluruhkan es dan salju di cabang pohonnya dan memproduksi cabang baru yang hijau.

Pada saat yang sama, misionaris Kristen berkotbah pada orang Jerman dan Slavia mengambil pendekatan yang lebih toleran dari praktek kebudayaan. Para misionaris ini percaya bahwa Sang Inkarnasi memproklamirkan ketuhanan Yesus atas segala simbol yang awalnya digunakan untuk menyembah para dewa pagan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi manusia secara individual, tetapi juga terhadap kebudayaan, simbol-simbol dan tradisi yang telah berubah. Tentunya, hal ini tidak berarti mereka bertoleransi terhadap penyembahan dewa-dewa pagan.

Tidak ada catatan jelas tentang pohon yang digunakan sebagai simbol Natal sampai pada Abad Pencerahan – berawal dari Latvia pada tahun 1510 dan Strasbourg tahun 1521. Legenda juga mencatat Martin Luther dengan penemuan pohon Natal, tetapi cerita tersebut memiliki sedikit dasar sejarah. Menurut legenda lainnya, misionaris abad ke-8, Boniface, setelah memotong sebuah pohon oak yang disakralkan bagi dewa pagan Thor (dan digunakan untuk pengorbanan manusia), menunjuk sebuah pohon cemara sebagai simbol kasih dan belas kasihan Allah.

Teori yang paling dapat dipercaya di balik kemunculan pohon Natal di abad ke-16 berhubungan dengan sebuah permainan drama di Abad Pertengahan. Drama tersebut mulai menjadi bagian dari liturgi gereja. Tetapi, di akhir Abad Pertengahan, drama tersebut semakin kasar dan didominasi oleh orang awam serta mengambil tempat di ruangan terbuka. Drama tersebut memperingati hari kelahiran (Nativity) terhubung dengan cerita penciptaan – karena Malam Natal juga dianggap sebagai hari festival Adam dan Hawa. Sebagai bagian dari drama itu, Taman Eden disimbolisaskan sebagai pohon firdaus yang digantungi buah.

Pada abad ke-16, drama tersebut dilarang di banyak tempat. Karena itu lah mungkin orang-orang memasang pohon firdaus di rumah mereka sebagai kompensasi karena mereka tidak lagi dapat menikmati permainan drama tersebut. Pohon Natal mula-mula (atau cabang pohon hijau) digunakan di rumah mengacu sebagai firdaus. Mereka sering digantungi dengan wafer yang mensimbolisasi Ekaristi, yang dikembangkan menjadi ornamen kue-kue yang mendekorasi pohon Natal di Jerman saat ini. Deskripsi detail pertama pohon seperti itu bertanggal pada 1605.

Kebiasaan tersebut meraih popularitas sepanjang abad 17-18, melawan protes berbagai pendeta. Pendeta Lutheran, Johann von Dannhauer contohnya, mengeluhkan (seperti Tertullian) bahwa simbol tersebut mengalihkan perhatian para pemercaya dari pohon hijau yang sesungguhnya, Yesus Kristus. Tetapi hal ini tidak menghentikan banyak gereja untuk memasang pohon Natal di dalam tempat ibadah mereka. Bersama dengan pohon itu, pohon sering kali berbentuk piramid kayu, rak-rak lemari berisi lilin-lilin, kadang satu bagi setiap anggota keluarga. Akhirnya, piramid dari lilin-lilin inilah yang ditempatkan di pohon.

Pohon Natal hanya menjadi umum di negara berbahasa Inggris di abad ke-19, dipopulerkan di Inggris oleh Ratu Victoria dan diperkenalkan di Amerika oleh imigran berbahasa Jerman. Saat ini, pohon Natal dijadikan jembatan antara arti perayaan Kristen dan ekspresi sekularnya.

Beberapa Fakta Seputar Natal:

Beberapa orang Kristen merayakan kedatangan Yesus Kristus pada tanggal 6 Januari, Epifani, yaitu saat Ia dipercayai dibabtis. Lagu "Dua Belas Hari Natal" ("The Twelve Days of Christmas") mengacu pada 12 hari antara Natal dan Epifani. Kata Xmas terkadang digunakan daripada Natal. Di bahasa Yunani, X adalah huruf pertama dari nama Kristus. Pada tahun 1969, gereja Katolik Roma mengeluarkan Festival Santo Nicholas dari kalendernya karena masa hidupnya tidak terdokumentasikan. Santa Claus secara umum digambarkan sebagai seorang kurcaci sampai tahun 1931, saat Coca-Cola menggambarkannya dalam iklan dalam ukuran manusia. Rudolph tidak menjadi rusa ke-9 Santa sampai tahun 1939 saat seorang penulis periklanan bagi sebuah department store Montgomery Ward menciptakannya.
--------------

Roditus:

Pohon Natal memang tidak ada di Alkitab. Dan Sdrku Meinardi Matinez sudah mengirimkan artikel Pohon Natal dan pernak-perniknya dengan lengkap. Semuanya hanya hiasan suasana Natal saja, sama halnya dengan ketupat di Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.
------------

Indriatmo:

Namanya juga pernak-pernik, itu hanya merupakan hiasan penggembira-tergantung pilihan masyarakat setempat. Sama seperti telor paskah, ayam kalkun thanks giving day, kue keranjang saat Imlek ataupun kerak telor di PRJ. Kalau kemudian ada berkata bahwa itu di Alkitab tidak ada, jadi tidak alkitabiah, mungkin jawabnya adalah: "Capek deh .... " ^_^

Saya rasa hal ini sudah pernah dibicarakan oleh pak Roditus mengenai orang majus dan para gembala yang mewartakan kabar gembira kelahiran Kristus dengan SMS lewat HP. Tapi itu bisa jadi tidak alkitabiah, karena di alkitab tidak disebut bahwa orang majus dan para gembala punya HP. Hal yang tidak alkitabiah bisa juga merembet ke barang-barang yang lain karena di Alkitab tidak ada disebut, misalnya: lampu Natal, kue tart, bola-bola keramik, pita emas, balon, bahkan opor ayam pun setahu saya tidak ada ditulis. Kalau dilanjutkan kelihatannya makin panjang saja, dan gus Dur akan berkata, "Gitu aja koq repot-repot ... ":-)
-----------

T. Budiman:

Kalau begitu pertanyaannya adalah: apakah simbol-simbol tersebut memiliki makna yang positif dalam Kekristenan? Atau bila simbol-simbol itu netral, adakah nilai positif bila kita merayakan Natal tanpa simbol-simbol tersebut?

Bukankah bila kita merasa kurang dalam merayakan Natal tanpa pohon Natal, berarti kita sudah terikat pada sesuatu yang bersifat duniawi? Apalagi zaman sekarang ketika lingkungan hidup seharusnya dipelihara, barangkali kebiasaan menebang pohon cemara perlu dikurangi. Demikian pula penggunaan pohon cemara dari bahan plastik yang tidak ramah lingkungan.
-----------

Philip:

Saya jadi inget, apakah telur saat perayaan paskah alkitabiah?

Tentu jawabnya tidak, karena tidak ada satu ayatpun yang menuliskannya. Tapi pengertian Alkitabiah apakah selalu dikaitkan dengan tulisan tentang sesuatu , misalkan pohon natal..memang harus ada ayatnya di Alkitab. Jawabnya pasti...

Tapi saya lebih melihatnya bisa saja pengertian Alkitabiah tidak secara letterlux memang tertulis di Alkitab tetapi lebih dari itu. Ada pemahaman yang secara tidak tertulis menggambarkan itu sesuai dengan ajaran Alkitab atau FT.

Konkritnya adalah pohon natal atau telur dalam paskah adalah sebuah bentuk atau lambang, di mana diyakini (pada awalnya) sebagai Kasih Tuhan terhadap manusia. Kaitkan lagi dengan sejarah pohon natal pada saat itu, kebiasaan, adat dan lainnya sehingga kebiasaan merayakan natal dengan pohon natal terpelihara sampai sekarang.

Apakah ada hal-hal lain yang sebenarnya tidak termasuk dalam unsur-unsur Natal yang alkitabiah?

Menjawab itu...

Menurut saya... ada....misalnya..mengenakan pakaian baru....tapi itu semua diizinkan Tuhan bagi umatnya. Umatnya dikaruniakan akal dan pikiran untuk bisa memahami maksud Tuhan dan kemudian melakukannya untuk kemuliaan Tuhan. Nah, hal-hal yang tidak Alkitabiah yang berhubungan natal bisa menjadi alat kemuliaan Tuhan dari manusianya itu sendiri. Bahwa semua icon-icon yang berhubungan dengan natal yang tidak alkitabiah bisa menjadi alat juga untuk memuliakan nama Tuhan.
------------

Lanita:

Suatu saat pada awal bln Desember,sy berkesempatan u/ pergi ke luar negeri,dimana saat itu di pertokoan,di Mall2 banyak dikumandangkan lagu2 Natal lengkap dgn pernak-perniknya,saat itu sy benar2 merasakan suatu Kedamaian yg mungkin belum pernah sy rasakan di negeri sendiri,begitu Damainya sehingga saat itu sy menitikkan air mata,bagi saya memang icon2 Natal tidak ada di dalam Alkitab,tetapi bisa menjadi berkat bagi manusia krn karena Yesus datang membawa Damai bagi manusia.

Jadi menurut sy pribadi,Natal dgn icon2nya adalah adopsi dari tradisi2 negara asalnya seperti yg sdh ditulis oleh sdri kita,tidak menjadi masalah asal bisa menjadi berkat bagi kita semua.
-----------

Naomi:

Setuju, dan masih berpegang pada pendapat semula, yaitu jika kita sampai 'dipusingkan' dengan 'sesuatu' berarti kita harus waspada. Karena seperti yang dikatakan Pak TB, jangan- jangan kita sudah terikat pada ke-duniawi-an.

--- Sekedar contoh: (intermezzo) ---

Lihat saja pohon natal plastik yang ditawarkan, sekarang sudah sangat bagus, dahulu, warnanya hijau saja, karena di daerah tropis spt Indo ataupun Sing tidak ada salju maka dihiasi kapas. Tetapi karena dirasa tidak efisien, warna pohon diganti putih, jadi tidak perlu kapas lagi; dan diberi lampu yang warna-warni, karena dirasa tidak efisien lagi; dibuat pohon yang langsung ada lampunya;

Selanjutnya, lampunya yang dirasa tidak efisien juga; sehingga di produksi lampu yang sangat kecil dan halus,

Masih belum puas; hiasan di pohon ada ratusan macamnya; dan tiap tahun ada saja model nya yang baru. Sampai pohon yang sudah berwarna putih; dibikin warna merah sekalian; ungu bahkan dibikin satu pohon 2 sampai 3 warna; (mungkin biar tidak pakai hiasan atau lampu kali)

Dan itu akan kita temui setiap tahun, dimana pernak-pernik natal selalu berganti dan sangat innovativ. Dan kenyataan yang saya lihat selama ini; dimanapun tempatnya; yang namanya pernak- pernik natal, pasti dikerumuni banyak orang. (Sayang saya belum sempat survey apakah mereka membeli karena belum punya, ataukah membeli karena takut ketinggalan jaman, hehe.. kidding)

Apalagi zaman sekarang ketika lingkungan hidup seharusnya dipelihara, barangkali kebiasaan menebang pohon cemara perlu dikurangi. Demikian pula penggunaan pohon cemara dari bahan plastik yang tidak ramah lingkungan.

Haha.. boleh juga ya metode ini dipakai... orang-orang sekarang kan lebih concern dengan global warming. Tapi saat ini orang sudah bisa memproduksi plastik yang bisa di recycle tuh. Canggih ya... Memang disinilah kita memerlukan Alkitab sebagai pedoman satu-satunya di tengah pengetahuan yang samar-samar dengan kebenaran. Semuanya penuh jebakan.

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 1Kor. 10:12

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Ibr. 12:1
-----------

Naomi:

Yup betul, banyak sekali kesaksian oleh orang-orang yang mengalami kelahiran baru, rekonsiliasi, dll dalam moment natal. Ini menunjukkan bahwa Tuhan, bisa memakai apapun untuk memanggil anak-Nya. Seperti moment natal ini sendiri, meskipun banyak ditunggangi oleh prinsip duniawi, tetapi Tuhan bisa mengubah-nya menjadi moment yang kudus bagi orang yang berharap kepadaNya.

Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali.

Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring. Yesaya 51:1,3
----------

Roditus:

Kita bersyukur bahwa manusia diberikan akal budi oleh Tuhan yang berbeda dengan ciptaan lainnya. Akal budi itulah yang membuat manusia berkreasi dari waktu ke waktu untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk Pohon Natal yang terus berkembang, berinovasi sesuai dengan ide dan kreativitas manusia. Mungkin beberapa tahun lagi Pohon Natal tidak lagi dari pohon atau plastic tapi dari sinar laser misalnya, itulah inovasi teknologi yang terus dan terus dikembangkan oleh manusia berdasarkan hikmat yang diberikan Tuhan&.

Sama halnya, doeloe manusia berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain menggunakan koeda, sekarang diganti motor.

Doeloe manusia bepergian rame-rame menggunakan kereta/gerobag sekarang menggunakan mobil.

Doeloe manusia terbang hanya cerita gatotkaca sekarang bisa terbang sampai ke bulan&.

Itulah manusia ciptaan Tuhan yang luar biasa& biarlah semuanya untuk kemuliaan-NYA, amin&..
------------

Indriatmo:

Nah ini baru mantep banget dah ...:-)

Memang jangan sampai kita, umat Kristus yang diberkati hikmat oleh Roh Kudus yang semakin canggih, terjebak kepada keinginan untuk mengembalikan tata cara ibadah secara hurufiah menurut Alktitab. Di Alkitab tidak ditulis orang merayakan ultah - maka sekarang merayakan ultah Kristus dikatakan tidak alkitabiah. Di Alkitab tidak ditulis mengenai pohon Natal atau telur Paskah maka dikatakan tidak alkitabiah. Apalagi mengirim ucapan Natal dengan SMS via HP. Wah pasti itu tidak alkitabiah banget ... ^_^ ...

* * * * *

Gerakan kempada kepada kitab suci secara hurufiah ini juga pernah dilaksanakan secara masif di Afghanistan pada masa kekuasaan Taliban tahun 1996 sampai 2001. Pada masa itu semua sendi kehidupan masyarakat dan agama harus sesuai dengan apa yang tertulis di kitab suci mereka. Berdasarkan hukum agama, negara melarang keras (disertai hukuman sadis bagi pelanggarnya) adanya: TV, radio, musik, bioskop, tarian, foto digantung di tembok, poster bergambar, tepuk tangan, patung-patung, komputer, kolam renang, sekolah untuk perempuan, catur, perempuan tidak pakai burqa (kain transparan penutup wajah), perempuan berjalan sendiri, perempuan terlihat dari luar rumah(jendela/pintu rumah terbuka), bermain layangan, kirim kartu ucapan, dll. Itu semua dilarang keras karena tidak ada tertulis di kitab sucinya. Sedangkan di Indonesia, mereka memakai celana ngatung, jenggot naga dan abju kombrang - itu karena secara hurufiah meniru penampilan nabi mereka.

Nah, kelihatannya keinginan untuk kemblai melakukan tata ibadah secara hurufiah ini diilhami oleh saudara kita dari agama lain tersebut. Mungkin pengikut Kristus juga perlu memikirkan untuk menetapkan peraturan gereja khusus mengenai penampilan laki-laki Kristen yang "alkitabiah", yaitu dengan rambut panjang, kumis, jenggot, lengkap dengan jambangnya seperti Kristus yang diperankan oleh aktor ganteng Jim Caviezel dalam The Passion of the Christ. Dengan mengenakan jubah yang tidak dijahit, datang ke sinagoga hari sabtu ... keren & dijamin "alkitabiah" ...:-)

* * * * *

Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Jangan kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi menerima pertumbuhan ilahinya (Kolose 2:16-19)
-------------

Novalia:

Maap mungkin sangat telat, tapi boleh tau, darimana asal kata natal ya? mungkin setelah itu akan terlihat relevan tidaknya pohon cemara jadi icon natal. klo pohon cemara sebagai icon kelahiran kristus, mnurut saya ga relevan. terimakasih.
-------------

T. Budiman:

Masalahnya bukanlah ajakan untuk melaksanakan ajaran Alkitab secara hurufiah.

Kita harus berani mengevaluasi setiap tindakan kita, kebiasaan kita, bahkan tradisi kita untuk disesuaikan dengan keinginan dan kehendak Allah. Terlalu sering kita melakukan sesuatu HANYA karena hal itu sudah biasa kita lakukan, tanpa mengevaluasi kembali apakah hal tersebut baik atau tidak.

Demikian pula terlalu banyak kita membela perayaan Natal SEOLAH-OLAH perayaan tersebut sudah ditetapkan dalam Firman Allah. Jadi ini adalah ajakan untuk bersifat objektif dalam menilai pohon Natal atau telur Paskah. Kita evaluasi dari mana simbol-simbol tersebut berasal. Bila sekiranya asal mula simbol-simbol tersebut tidak mengganggu kita dalam merayakan Natal, silakan gunakan. Namun bagi sebagian orang lain sejarah dan latar belakang simbol-simbol tersebut mungkin cukup mengganggu / menjadi batu sandungan, sehingga dalam hal ini sebaiknya simbol-simbol tersebut tidak digunakan. Jadi kita nilai saja bagi diri kita sendiri (dan bagi orang di sekitar kita) makna simbol-simbol tersebut. Jangan takut untuk mengganti simbol-simbol itu dengan simbol yang lain (yang dinilai lebih 'bersih'), atau tidak perlu pakai simbol-simbol sekalian.

Saya akan mengambil contoh lain yang agak ekstrim: perbudakan. Perbudakan tidak pernah secara eksplisit dilarang di dalam Alkitab. Di dalam PB seorang budak yang menjadi Kristen diperintahkan untuk taat kepada tuannya. Oleh karena sistem perbudakan juga adalah kebiasaan dan tradisi masyarakat yang umum, gereja juga menerima kebiasaan tersebut sampai 15 abad, bahkan dalam catatan sejarah gereja juga ikut membeli budak-budak untuk berbagai keperluan. Atas nama agama Kristen (God, Gold, and Glory) orang Eropa menangkapi orang Afrika untuk dijadikan budak. Setelah itu perlahan-lahan baru terjadi pergeseran nilai-nilai, di mana gereja mulai menyuarakan penentangan, mula-mula terhadap proses perbudakan yang tidak sah (bukan melalui pembelian atau perang), lalu perbudakan terhadap sesama orang Kristen, lalu akhirnya terhadap segala bentuk perbudakan. Proses ini memakan waktu lebih dari 4 abad (abad 15-19), bahkan di AS ditentukan oleh perang (waktu itu gereja-gereja di Selatan masih mendukung perbudakan).

Point cerita di atas adalah:

* Secara hurufiah Alkitab tidak melarang perbudakan.[1]
* Perbudakan adalah tradisi yang dilakukan orang Kristen selama 19 abad.
* Perbudakan dievaluasi makna dan nilainya (praktek perbudakan oleh orang Eropa di abad ke-19 ternyata lebih kejam daripada di zaman Romawi) dari sudut ajaran Alkitab.
* Tradisi perbudakan dikurangi, sampai akhirnya dilarang oleh gereja.

Nah, bila perbudakan yang tidak dilarang dalam Alkitab saja bisa dievaluasi, tentunya simbol-simbol Natal yang tidak diajarkan dalam Alkitab juga boleh dievaluasi 'kan?

Note:

Mungkin beberapa rekan dapat dengan cepat mengutip ayat Alkitab yang menentang perbudakan. Saya tidak bermaksud menghidupkan kembali perdebatan panjang dalam gereja mengenai perbudakan, namun cukup diingat bahwa ada lebih banyak pula ayat-ayat Alkitab yang dapat digunakan untuk mendukung praktek perbudakan. Beberapa gereja di Amerika Serikat 'terpaksa' mengubah posisinya bukan karena kalah berargumen, tetapi karena kalah perang. Justru negara-negara bagian yang mendukung perbudakan adalah negara-negara bagian yang dikenal sebagai 'The Bible Belt' - tempat penganut Kristen Protestan paling konservatif.
------------

Indriatmo:

Sekarang ini ada yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menyimpan patung-patung, bahkan boneka sekalipun karena itu bertentangan dengan firman Tuhan di Keluaran 20:4 "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di alngit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi."

Jika demikian maka segala pernak-pernik Natal yang berbentuk patung/boneka/miniatur mulai dari sinterklas, malaikat sampai bayi di palungan harus dilenyapkan dari rumah orang Kristen. Bahkan jika itu dianggap sebagai patung dewa/berhala itu harus dihancurkan. Ini seperti yang dilakukan oleh Taliban dengan meledakkan patung Budha setinggi 53 meter di Bamiyan Afganistan pada tahun 2001. Mungkin jika orang Kristen seperti ini menjadi penguasa di Indonesia, mereka akan menghancurkan candi Borobudur sampai habis karena penuh dengan patung "berhala".

Tapi Tuhan Yesus memberikan pemahaman baru, bahwa Kekristenan itu bukan tata cara ibadah yang dogmatis seperti yang dijaga dengan kokoh oleh orang farisi. Kekristenan itu berbeda dengan agama Yahudi yang menekankan pada laku duniawi yang detail dan ketat. Tuhan Yesus mengajarkan, yang utama dari hidup orang Kristen adalah kasih yang tulus kepada Allah dan sesama.

Membuang segala icon Natal dan menolak untuk merayakan Natal tidak kemudian membuat orang Kristen menjadi benar di hadapan Tuhan. Merayakan Natal dengan segala kemeriahannya juga tidak menjadikan orang Kristen berdosa dan harus masuk neraka. Itu semua hanya pernak-pernik barang dan kegiatan orang Kristen selama menikmati hidup di dunia. Terserah pilihan masing-masing. LA Light berkata: ENJOY AJA ....:-)

Semuanya itu hanyalah mengenai barang yang binasa oleh pemakaiannya dan aturan-aturan itu walaupun tampaknya penuh hikmat tapi sebetulnya tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi (Kolose 2:22-23). Ironis bukan ... ~_~

* * * * *

Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Jangan kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaiannya dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. (Kolose 2:20-3:3)
-------------

Justru di situlah uniknya orang Kristen. Alkitabnya sama tapi aturan beribadahnya bermacam-macam:

- Ada yang merayakan Natal
- Ada yang tidak merayakan Natal
- Ada yang memasang pohon Natal
- Ada yang mengharamkan pohon Natal
- Ada yang beribadah dengan liturgi yang baku
- Ada yang beribadah dengan pujian dan penyembahan bebas
- Ada yang baptis selam
- Ada yang baptis percik
- Ada yang beribadah hari Minggu
- Ada yang beribadah hari Sabtu
- Ada yang roti perjamuannya memakai hosti
- Ada yang roti permajuannya memakai roti tawar
- Ada yang anggur perjamuannya memakai sirup anggur
- Ada yang anggur perjamuannya memakai anggur wine
- Ada yang pimpinan jemaatnya pendeta
- Ada yang pimpinan jemaatnya pendeta dan majelis
- dan masih banyak perbedaan yang lainnya

Kemudian mana yang benar dunk? Yang benar adalah: Tuhan Yesus sebagai kepala gereja. Dan kenyataannya Tuhan Yesus mengijinkan semuanya itu terjadi di gereja sebagai kekayaan Tubuh Kristus di dunia. Umat Tuhan bisa memilih beribadah di manapun sesuai dengan hati dan pertumbuhan imannya masing-masing. Dan semua jenis ibadah gereja itu akan menuntun umat Tuhan untuk masuk ke surga yang sama, dan bertemu dengan kepala gereja yang sama yaitu Yesus Kristus sendiri. Hebat khan ...:-)
------------

Meinardi:

Sejauh fokus kita tetap terarah kepada Tuhan saya rasa tidak masalah melakukan tradisi2 Natal. Hanya saja jangan sampai kita menjadi tergantung terhadap tradisi-tradisi tersebut. Yang penting adalah sikap batin dan sikap hati kita.
-----------

Sugianto:

Orang (termasuk saya) emang termasuk seneng sama yg namanya icon. coba liat lambang negara kita. pake burung garuda yg nengok terus ke kanan. itu icon juga kan. kalo saya sih liat tu burung timbul rasa bangga sebagai putra indonesia. cuman ini menyinggung masalah keagamaan.. soal perayaan kelahiran Yesus. pertama pertanyaannya apakah ok kalau ada icon??? supaya gampang membentuk suasana dalam pikiran kita? apakah layak di 'icon'kan?

Menurut saya yg jadi masalah itu, icon ini sering menjadi 'dewa' yg membuat kita berpikir bahwa ga afdol kalo Natal ga ada 'icon' ini. contohlah tongkat Musa. Bangsa Israel menjadi takut akan Tuhan karena 'icon' tongkat Musa yang terlihat begitu ajaib. Mereka menjadi buta bahwa yg punya kuasa itu Tuhan. Musa ketika marah atas sungut2 bangsa Israel juga 'keceplosan' ngomong, dengan pikiran sendiri dengan tongkatnya membelah batu supaya timbul air. dan Tuhan murka akan hal ini. Belum lagi peristiwa lembu emas. Mayat Musa pun hendak dijadikan 'icon' oleh bangsa Israel. Itu saya kira kenapa Tuhan menyuruh malaikatNya menjaga mayat Musa supaya tidak dicuri Iblis.

Dengan adanya icon icon demikian, mnrt saya, akan gampang bagi kita untuk terjatuh dalam pemujaan 'halus' akibat icon itu. dan melupakan Tuhan itu sendiri.
------------

Jamasdin:

Bila kita terikat untuk melakukan suatu ibadah apakah alkitabiah atau tidak, kayaknya pelaksanaan ibadah itu menjadi sangat kaku bahkan bisa lebih ekstim dari agama yang lain.

Menurut saya orang percaya dan sungguh-sungguh beribadah untuk kemuliaan pada Tuhan, maka padanya akan diberikan Hikmat. Selama icon-icon Natal diisi untuk memberikan nuansa ibadah yang dilaksanakan semakin hikmad tentu baik adanya.
------------

Indriatmo:

Jika kita melihat rumah dan di dindingnya tergantung salib, maka orang akan langsung tahun bahwa itu adalah rumah orang Kristen. Jika salibnya bukan hanya kayu menyilang, tetapi lengkap dengan patung Yesus yang tersalib dan diselipkan sebatang daun palem, orang bisa tahu bahwa itu adalah rumah orang Katolik.

Itu adalah icon yang dibuat oleh manusia, seperti halnya icon jemaat mula-mula yang menandai rumahnya dengan gambar ikan, untuk menunjukkan bahwa pemilik rumah itu adalah pengikut Kristus. Justru sekarang icon ikan yang dipergunakan oleh jemaat mula-mula, sekarang ini tidak lagi dipergunakan oleh orang Kristen dan digantikan dengan tanda salib.

Di Alkitab sendiri tidak ada ketentuan bahwa orang Kristen harus memasang tanda salib dan gambar Tuhan Yesus di rumahnya. Tidak ada disebutkan bahwa yang tidak memasang tanda salib adalah orang Kristen yang sesat - atau sebaliknya yang memasang tanda salib akan masuk surga.

Itu adalah benda-benda buatan manusia yang menjadi konsesus masyarakat pada umumnya dan tidak ada hubungannya dengan iman seseorang. Sama halnya dengan simbol ketupat untuk umat islam. Jika di pusat perbelanjaan atau hiburan sudah ramai memasang hiasan ketupat, maka semua orang menandai bahwa hari raya idul fitri akan tiba. Di Arab sendiri budaya tidak ada icon ketupat untuk menandai hari raya idul fitri. Begitu juga jika banyak dipasang hiasan barongsai atau liong, orang mengerti bahwa saat itu sedang memasuki hari raya imlek.

Nah selanjutnya, jika pohon Natal berserta hiasan dan lampu-lampunya mulai bertebaran di pusat perbelanjaan, tempat hiburan maupun dipasang di rumah orang Kristen, orang menandai bahwa perayaan Natal sudah tiba. Di dunia orang yang yang merayakan Natal hanya orang Kristen, dan icon-icon Natal itu mengingatkan orang di seluruh dunia bahwa orang Kristen sedang bersukacita menyambut Natal.

Jadi, segala macam icon keagamaan yang ada di rumah orang Kristen baik itu tanda salib, gambar Tuhan Yesus, gambar perjamuan terakhir, pohon Natal, patung gembala, patung bayi Yesus, patung malaikat, dan semua simbol-simbol kekristenan yang lain, adalah semata-mata buatan manusia; tidak ada diatur di alkitab dan tidak alkitabiah (secara hurufiah tidak ada tertulis pengaturannya di Alkitab). Itu dipakai oleh umat Kristen, untuk menyatakan dirinya kepada masyarakat bahwa dia adalah pengikut Kristus. Itu dipakai oleh umat Kristen untuk menyatakan bahwa mereka sedang bersukacita menyambut Kristus lahir sebagai bayi Natal. GLORIA INEXCELSIS DEO !

* * * * *

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaiannya dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. (Kolose 2:22-23)
------------

Rudi:

Akhirnya kita masuk dalam perangkap alkitabiah. Alangkah bijaksananya kita apabila semua perilaku kita bukanlah didasarkan pada kuisioner alkitabiah. Kalau saat teduh edisi nov - des menampilkan gambar peristiwa natal dengan setting bali. Tentu kaget bukan. Kalau tidak salah dulu juga pernah ada lukisan Yesus dengan pakaian batik. Atau bahkan ada lukisan Yesus hitam (maaf bukan sara): Karena memang ada black jews, ingat pembebasan mereka terhadap pembajakan uganda dan kenya.

Adalah suatu 'keberuntungan' buat saya, bahwa pengenalan saya terhadap Yesus dan Keselamatan-Nya, bukanlah dalam garis radikal, sehingga saya tidak terlalu militan terhadap suatu perilaku yang mengharuskan alkitabiah.

Semasa saya SMA, saya sering menghadiri perayaan natal diberbagai tempat, gereja dan lingkungan. Dan ada perayaan yang menarasikan dan memvisualisasika kandang ternak dan palungannya. Selanjutnya ada bayi yang didatangi 'para magician'. Ada pula gembala yang menyanyi (mungkin koor), dan banyak lagi.

Menurut saya, apapun icon dan simbol itu, wellcome. Iman saya tidak berpusat pada lambang atau simbol itu, tetapi berpusat pada kebangkitan-Nya.
-------------

Eko:

Di zaman PL, simbol-simbol itu memang punya makna teologis yang sangat tinggi pak. Seperti altar atau mimbar tempat imam berkhotbah menyampaikan firman Tuhan, apakah sekarang masih ada orang yang percaya bahwa simbol itu melambangkan bahwa Tuhan hadir disitu? Sehingga si hamba Tuhan itu tidak seenaknya saja melakukan gerakan-gerakan yang tidak berkenan di mata Tuhan. Tempat di sekitarnya itu kudus, karna ada lambang kekudusan Tuhan disana. Bukan simbol-simbolnya yang kemudian dikuduskan/dikultuskan tapi kuasa yang mengikuti simbol-simbol itu.
-------------

Indriatmo:

Di Matius 2:11 disebutkan bahwa orang-orang majus dari Timur memberikan persembahan kepada bayi Kristus berupa: emas, kemenyan dan mur. Benda-benda yang disebutkan di Alkitab berkaitan dengan Natal adalah ketiga benda tersebut.

- Emas: logam mulia
- Kemenyan: dupa, yang jika dibakar asapnya berbau harum
- Mur: damar, jika dicampur dengan minyak zaitun digunakan untuk minyak wangi. Di masa lampau juga digunakan untuk membalsem jenazah.

Saat ini ketiga icon Natal tersebut justru sudah tidak ditemui lagi di gereja Kristen baik dalam ibadah maupun perayaan. Di gereja Katolik dupa masih digunakan untuk upacara penyucian.

Adapun Sinterklas yang dijumpai sekarang ini adalah tokoh yang dibuat pada abad 15, dan digambar oleh Thomas Nast (1840-1902), seorang kartunis Jerman-Amerika. Gambar tokoh Sinterklas distandarkan pada tahun 1920.

Ada juga tokoh kartun yang dibuat berkaitan dengan Natal yaitu: "little drummer boy". Ceritanya mengenai seorang anak yang tidak mempunyai apa pun untuk dipersembahka pada bayi Yesus, jadi dia memainkan drumnya. Dalam filmnya anak itu diberi nama Harun. Lagu The Little Drummer Boy diciptakan oleh Katherine K. Davis terkenal sebagai lagu Natal, yang dinyanyikan ulang oleh Boney M. dengan backing vocal Jerry Rix dan The London Christmas Choir. Liriknya sbb.:

         "THE LITTLE DRUMMER BOY"
         Come they told me, pa rum pum pum pum
         A new born King to see, pa rum pum pum pum
         Our finest gift we bring, pa rum pum pum pum
         To lay before the King, pa rum pum pum pum
         rum pum pum pum, rum pum pum pum
            So to honor Him, pa rum pum pum
            When we come
         Little Baby, pa rum pum pum pum
         I am a poor boy too, pa rum pum pum pum
         I have no gift to bring, pa rum pum pum pum
         That's fit to give the King, pa rum pum pum pum,
         rum pum pum pum, rum pum pum pum
            Shall I play for you, pa rum pum pum,
            On my drum ?
         Mary nodded, pa rum pum pum
         The ox and lamb kept time, pa rum pum pum pum
         I played my drum for HIM, pa rum pum pum pum
         I played my best for HIM, pa rum pum pum pum
         rum pum pum pum, rum pum pum pum
            Then HE smiled at me, pa rum pum pum pum
            Me and my drum

Sebuah lagu mengenai anak yang miskin yang ingin memberikan persembahan terbaik bagi Kristus.

Jadi Sinterklas dan little drummer boy adalah tokoh yang dibuat sebagai penggembira dalam perayaan Natal. Merak adalah tokoh kartun yang sama dengan Mickey Mouse, Doraemon, Avatar, atau pun Naruto.

Kalau sekarang ada yang berkata bahwa Sinterklas dan Little drummer boy tidak alkitabiah, yah jawabnya hanya: "Capek deh ... "
--------------

Rusiana:

icon icon natal? pohon natal = icon natal banget. siapa tidka tahu?? memang tidak tertulis di alkitab. tapi saya tidak terganggu tuh. kalao NAtal di identikkan dgn pohon natal....

masih ada lagi...pohon cemara= pohon Natal,ada saljunya. ini juga tidak alkitabiah. ada tertulis, bahwa para gembala sedang duduk diladang...so pasti tidak ada salju .

pada dasarnya ....ikon2 natal itu hanya membantu org untuk mengingatkan sesuatu ...dlm hal ini...adalah sebuah kisah natal..banyak diambil dr negara amerika/eropa yg biasanya tgl 25 des selalu bersalju...

karena mereka itulah yg sudah dari dulu mempromosikan natal sebagai bahan komersial. tidak ada yg salah. yg penting adalah bagi kita yg merayakan bersama sama dgn umat sedunia, maka haruslah dgn hati yg tulus dan benar, sesuai dgn iman percaya kita yg sudah di benarkan.
-----------

Sebastian:

Saya jadi tiba2 teringat pit hitam.. itu termasuk icon natal atau bukan ya? Karena akhir2 ini saya sudah jarang melihatnya berkeliaran lagi menemani sinterklas.

Dari artikel yang saya baca, baru tahu saya bahwa beberapa golongan menganggap bahwa pit hitam bisa ditafsirkan sebagai simbol perbudakan.

http://www.ferris.edu/news/jimcrow/question/jan05/
------------

T. Budiman:

Saya juga hampir lupa akan piet hitam, tapi ini adalah sebuah contoh tentang sebuah tradisi Natal yang setelah dievaluasi mendapatkan kritikan dan mulai dikurangi penggunaannya. Walau secara historis warna hitam tersebut tidak terkait dengan rasisme, namun dalam dunia modern secara citra mau tidak mau orang memang dapat mengsalahartikan simbolisme warna hitam itu sebagai salah satu bentuk rasisme. Demikian pula dengan tradisi Natal yang lain, kalau dalam konteks modern ini simbol-simbol itu dievaluasi sudah mencitrakan sesuatu hal yang lain, maka sebaiknya tradisi itu diganti dengan tradisi baru yang lain, karena toh kita tidak terikat pada simbol-simbol itu.
-------------

Edo Manik:

Seharusnya kisah dan makna natal diingat dari Alkitab saja. Setiap orang bisa mengekspresikan suka cita Natal dengan caranya sendiri. Maknanya jelas: Kasih Allah kepada umatNya. Teladannya: Kesederhanaan.

Tapi setting dari tidak bersalju menjadi bersalju jelas tidak tepat. Image natal dimusim dingin ini akan(kah) terus bertahan (?)

Natal, bagi saya adalah kehangatan.Kehangatan kasih Bapa kepada umatNya melauli Kristus.
-------------

Naomi:

hanya menambahkan icon-icon natal:

1. Candy Canes (berbentuk tongkat dengan warna meriah)

The candy cane started out about 400 years ago as a plain stick of white candy. As Christmas trees became popular in Europe people began putting them on their trees as decorations along with other foods like fruit and cookies. The first reference to these candy sticks in relation to Christmas came in 1670. A choirmaster at the Cologne Cathedral in Germany gave the candy to the children that attended the church's nativity services so they would be quiet. To make the candy go along with the spirit of the services he bent the candy into the shape of a shepherd's staff.

The first reference to the candy cane in America came in 1847 when a German immigrant living in Ohio named August Imgard decorated his tree with the sweet treats. About 50 years later the first candy canes with red stripes appeared. Peppermint and wintergreen flavors were also added to the candy at this time making the candy cane the sweet Christmas favorite it is today.

The candy cane, as with many other things that we associate with Christmas, can be used as a symbol of Jesus and point others to the reason for Christ's birth. Here are some pictures of Christ that we can see from the candy cane.

1. The candy cane is in the shape of a shepherd's staff. Jesus is our Good Shepherd, and we are His sheep. (John 10:11; Psalm 23:1; Isaiah 40:11)
2. Upside down the candy cane forms the letter "J", the first letter of Jesus' name.(Luke 1:31)
3. The candy cane is made of hard candy to remind us that Jesus is the Rock of our salvation.
4. The wide red stripes on the candy cane represent the blood He shed on the cross for each one of us so that we can have eternal life through Him. (Luke 22:20)
5. The white stripes on the candy cane represent the virgin birth, sinless life, and purity of our Lord. He is the only human being who ever lived who never committed a single sin, even though He was tempted just as we are. (1 Peter v22)
6. The narrow red stripes on the candy cane symbolize that by His stripes we are healed. (Isaiah 53:3)
7. The flavoring in the candy cane is peppermint, which is similar to hyssop. Hyssop is of the mint family and was used in Old Testament times for purification and sacrifice. (John 19:29, Psalm 51:7)
8. When we break our candy cane it reminds us, just as communion does, that Jesus' body was broken for us. (1Cor. 11:24)
9. If we share our candy cane and give some to someone else in love because we want to, it represents that same love of Jesus because He is to be shared with one another in love. (1John 4:7,8)

2. Carolling (christmas songs; hampir ada di semua shopping mall or plaza)

A carol is defined as a song of rejoicing, usually associated with festive occasions and religious celebrations. The first Christmas carol was sung by the angels who announced the birth of Christ to the shepherds in the fields near Bethlehem. Since that time many carols have been sung to honor the birth of Jesus. In fact, more that 500 English carols from the 15th century still survive, with the earliest printed copy of a carol that still exists being the "Boar's Head" carol.

The custom of singing carols declined during the mid-1600's because the Puritans, who were in power in England at that time, disapproved of feasts and celebrations. They felt they were a waste of time that could be used to serve God. Interest in singing carols revived as the Puritans lost political power.

Today's carols celebrate the many traditions that have become a part of Christmas today, such as sleigh rides, building snowmen, giving food and gifts to others, Santa Claus, the reindeer, bell ringing, and caroling. They also memorialize the manger, the star of Bethlehem, the wise men, the shepherds, and the animals that attended the birth that special night.

3. Accessories christmas tree

3.1. Lights

The tradition of placing lights in and around windows and houses began in the Middle Ages. These lights, which began as candles, becames a symbol of Christ, the Light of the world. These lights held a two-fold purpose, to guide the Christ Child to Christian homes so that He would leave His blessing on the house and presents for those inside, and to be a sign to weary travelers that they would find a welcome in that house.

3.2. Tinsel (rumbai-rumbai tali panjang warna-warni)

Putting tinsel on the Christmas tree began in Germany as thin strips of beaten silver. Later the present form of tinsel was developed. It was cheaper and lighter than the beaten silver so more people could obtain it and it would not break the trees.

The story is told of a poor woman who was unable to provide decorations for her children's Christmas tree. During the night, spiders lodged in the tree and covered it with their webs. The Christ Child, seeing this, realized that the woman would be saddened to see the disappointed faces of her children upon seeing only spiders' webs on their tree. He turned the spider webs into silver, and the next morning the poor family was dazzled by the brilliant tinsel that shone on the tree.

3.3. Nativity Scenes (suasana/kondisi waktu Yesus lahir di kandang)

Many homes put up at least one nativity scene every Christmas. To Christians they are a picture of the poverty and squalor into which Jesus Christ was born and a way to remember the Reason for the season. The first nativity scene was set up by Francis of Assisi on December 24, 1223. These scenes were most commonly found in southern Europe where the Catholic faith was strongest.

Nativity scenes are made in all fashions from the simple, hand-made creches to fancy store-bought dioramas. No matter what form the nativity scene takes they all display the manger, the star of Bethlehem, angels, shepherds, wise men, Mary, Joseph, and Jesus. More elaborate scenes may contain animals, houses (sometimes forming a miniature village), and additional people. Also popular are painted nativity scenes, living nativity scenes, and dramas portraying the birth of Christ. In Mexico, people participate in Las Posadas, a commemoration of Mary and Joseph's journey to Bethlehem and their search for lodging.

3.4. Seal (seperti perangko)

History of the First Christmas Seal

In the late 1800's tuberculosis was the most feared disease in the world. Young and old, rich and poor were being stricken. It was known as the "White Plague" because as the disease revaged its victims, they grew pale and emaciated. Some of the most famous people of the 19th century—the poet Keats, the pianist Chopin, the novelist Robert Louis Stevenson, and many others—were counted among the victims of tuberculosis (TB). There was no cure and little hope of recovery from this disease.

The story of Christmas Seals® began in 1871 when a young doctor named Edward Livingston Trudeau was diagnosed as having TB. He threw aside all of hes plans and decided to spend his remaining time in the serenity of a cottage in northern New York State.

The quiet, peaceful surroundings in the nountains were conducive to long hours of rest. Gradually, as Dr. Trudeau began feeling better, he became convinced that TB could be cured with proper bed rest, good nourishment, fresh air, and lots of sunshine. In 1884, the now fully recovered doctor opened the first TB hospital, later known as a sanatoruim, in the United States.

By 1907 TB sanatoriums were springing up around the country but most were makeshift and could only care for a few patients at a time. One of them, a small shack on the banks of the Brandywine River in Delaware, was in desperate financial straits. It was about to close its doors forever unless $300 could be found to keep it going.

Joseph Wales, one of the doctors serving the hospital contacted his cousin Emily Bissell to raise the needed money. She was active in the American Red Cross and had fund-raising experience.

Emily learned about a Danish man who sold seals during the Christmas season to raise funds for fighting TB in Denmark. She sketched a design—a red cross centered in a half–wreath of holly above the words "Merry Christmas."

Emily borrowed $40 from friends and had 50,000 Christmas Seals® printed. The Seals were placed in small envelopes and sold for a penny each at the post office.

Selling the Seals for a penny apiece wasn't easy, but it was the only way to keep the Brandywine shack going. Emily started her own one–woman campaign to emphasize how donating to Christmas Seals® would help fight the battle against TB. She spoke to all sorts of groups, working overtime to make her campaign a success.

High public officials, including President Teddy Roosevelt, endorsed the campaign, and by the time the holiday season was over $3,000 had been raised—ten times the amount needed.

The Evolution of Christmas Seals®

In the early 1900's, with Emily Bissell leading the national campaign and an army of American Lung Association volunteers across the country promoting them, Christmas Seals® became a cherished American tradition.

Over the years, Christmas Seals® have evolved as a symbol of support and encouragement for the people dedicated to helping others afflicted with lung disease. Christmas Seals® have been designed by some of America's most popular artists, including Norman Rockwell, and at times, by children under the age of twelve years old. Nonetheless, for over 95 years, the colorful creations have decorated Christmas cards, letters, and packages.

That tradition continues today...each holiday season Christmas Seals® arrive at households throughout the nation giving millions of americans the opportunity to support the war being waged by the American Lung Association against all lung diseases.

Eighty–seven percent of the money raised through donations to the Christmas Seal Campaign® stays at the local Lung Associations and helps fund the work of thousands of volunteers who contribute their time, talents, and energies to the mission of preventing, curing, and controlling all types of lung disease. 3.5. star, bell, & an angel

4. accessories santa: hat, reindeer & Sleigh (kereta)

5. Yule Log (biasanya diganti dengan yule_cake)

6. Snowman

7. Gingerbread house

(biasanya disediakan oleh hotel2 di LN. Jika kita bermalam sekitar hari natal, maka kamar kita akan dikirimi roti ini.)
-------------

Roditus:

Image natal dimusim dingin&??? Gak juga sih Mas Edo,

Satu kali saya pernah ke satu desa agak di pucuk gunung di Purworejo, merayakan natal disana bersama-sama jemaat (orang desa) yang sangat sederhana.

Tidak ada pohon cemara dengan hiasan lampu kerlap-kerlip, yang ada adalah ranting dahan pohon yang sudah kering, dihias secara sederhana dengan kertas krap yang biasa untuk hiasan Ultah, ada warna kuning, merah dan biru (wong ndeso tidak kenal salju..). Lalu, lilin natal diganti lampu sentir dari minyak kelapa.

Hidangannya tidak ada menu kalkun panggang, yang ada hasil kebun mereka (diantaranya terong sambal goreng) ditambah ayam peliharaan mereka yang sudah diolah.

Hidangan penutupnya duren jatohan karena desa ini penghasil duren yang uenak tenan di daerah Purworejo.

Dan kami merayakan eh memperingati Natal dengan hati bersuka cita, mengucap syukur dan mengagungkan nama Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat&& ini tenan lho, keluarnya dari bagian diri kami yang paling dalam, bukan yang dari luar. Sebab yang diluar gak ada apa-apanya untuk dilihat&. Tidak ada perhiasan emas permata, bajunyapun kebaya sederhana dari bahan yang murah&. Tapi saya merasakan ada permata yang berharga dan berkilauan yang terpancar dari dalamnya&. Halleluya&. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus&. Saya bergembira, apalagi Tuhan Yesus ya&.??

Jelas dari hal ini tidak alkitabiah lah yaw,,,,, lha wong di Alkitab tidak dituliskan ada lampu sentir, kertas krap apalagi duren jatohan&.

Trus, so what gitu loh&&

Salam kasih damai Natal
------------

T. Budiman:

Nah, menurut saya merayakan Natal memang lebih baik begitu, memakai yang lebih membumi dengan budaya bangsa sendiri, dibandingkan dengan mengimpor simbol-simbol Natal dari bangsa-bangsa Barat, toh simbol-simbol itu memang sama-sama bukan berasal dari Alkitab, jadi kita juga tidak usah fanatik menggunakan pohon cemara dan Sinterklas.

--end

Tinggalkan Komentar