Mengapa Yesus Tidak Lahir dalam Kemewahan?

Setelah melihat bintang besar di langit, orang-orang bijaksana (majus) itu berangkat ke Yerusalem. Sebagai orang-orang yang berpendidikan, mereka tahu bahwa di sanalah tempat yang paling masuk akal untuk menemukan seorang Raja Ibrani.

Lagi pula, Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel pada masa-masa kejayaannya; kota itu merupakan tempat tinggal keluarga raja. Kota itu terletak di atas bukit-bukit, seakan-akan kota itu mengawasi daratan yang terbentang dari singgasananya.

Pada awal terbentuknya negara ini, beberapa saat setelah Tanah Perjanjian ditempati, orang-orang Israel mencari Allah secara langsung untuk mendapatkan bimbingan. Mereka mengikuti juru bicara atau para pemimpin mereka, yang sering kali disebut hakim-hakim. Hakim terakhir dan terbesar adalah Samuel, yang mendengarkan permintaan mereka yang tak henti-hentinya: "Maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." (1 Samuel 8:5) Dengan enggan, Tuhan memberikan apa yang mereka minta: seorang raja manusia.

Orang-orang Israel segera memahkotai Saul, pejuang mereka yang paling tinggi dan mengagumkan. Percobaan untuk memiliki seorang raja manusia tidak berhasil karena Saul tidak memenuhi kriteria rohani untuk memimpin sebuah negara. Berikutnya, muncullah Daud dan Salomo -- dan di bawah pemerintahan mereka Israel menjadi sebuah kerajaan adi kuasa di dunia. Salomolah yang memperluas kerajaan itu dan membuat Bait Suci yang pertama.

Salomo adalah orang yang bijaksana, tetapi akhirnya lemah. Dia mengizinkan penyembahan allah-allah lain, dan kerajaan itu mulai runtuh dari dalam. Negara itu terbagi menjadi dua dan menjadi mangsa yang mudah bagi negara-negara penakluk yang menjadi tetangga mereka, Asyur dan Babel.

Tetapi sekarang, semuanya telah menjadi masa lalu. Satu-satunya "raja" adalah Herodes, yang sebenarnya lebih seperti boneka orang-orang Roma daripada sebagai pangeran bagi penduduknya sendiri. Kerajaan Israel semakin tidak terhormat setelah masa-masa kejayaan Daud dan Salomo. Kecuali seseorang benar-benar memercayai semua nubuatan tentang Israel, sangat mudah (baginya) untuk memercayai bahwa semua raja besar telah datang dan pergi.

Kalau begitu, bagaimana dengan Raja yang baru lahir -- Raja yang kelahiran-Nya diperkirakan oleh para pendatang asing dari Timur? Bintang itu memimpin orang-orang bijaksana itu berjalan jauh dari Yerusalem ke Betlehem, tempat Raja Daud dilahirkan. Semuanya sama, kelahiran itu tampaknya sama dengan yang lainnya kecuali kemewahan. Paling tidak, Daud kira-kira lahir di dalam rumah, dan ayahnya, Isa, adalah orang berada, yang memunyai banyak ternak. Waktu itu, juga ada Samuel yang mengurapi kepala seorang anak gembala dengan minyak -- simbol perkenanan dan pemenuhan Tuhan.

Sebaliknya, di sini ada sepasang suami istri dari desa bersama anak mereka yang masih kecil. Bahkan, Maria dan Yusuf pastinya bertanya-tanya bagaimana seorang raja dapat muncul dari lingkungan sederhana semacam itu. Perayaan kelahiran anak di dalam keluarga kerajaan tentu akan menyita perhatian dunia.

Akan tetapi, cara-cara Allah sering kali bertentangan dengan harapan-harapan kita. Tuhan Yesus tidak datang seperti seorang raja karena beberapa alasan, yang paling penting dan utama adalah Dia ingin membalikkan dunia dan nilai-nilainya. Pemikiran yang lazim dari dunia ini adalah bahwa raja harus memerintah dari takhta gadingnya. Mereka membuat suatu hierarki yang menggolongkan orang-orang dari yang terkuat sampai yang terlemah. Yesus datang untuk membuat suatu pernyataan yang mengejutkan: bahwa kebesaran yang sesungguhnya tidak ditemukan dalam memerintah tetapi dalam melayani. Dia membangun kerajaan-Nya bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kasih. Dia mengajarkan, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5)

Dapatkan Yesus membawa pesan semacam itu dari jendela kemewahan yang mengagumkan? Tentu tidak. Yesus adalah Raja yang menyamar; Penguasa terbesar sepanjang masa, menyamar sebagai Orang miskin, sebagai Pengajar keliling. Sangat sedikit raja-raja zaman dulu yang merangkul orang-orang kusta atau bergaul dengan orang-orang yang paling ditolak oleh masyarakat.

Alasan kedua, Yesus datang untuk menunjukkan bahwa kekuatan terbesar tidak ditemukan di luar diri seseorang, tetapi di dalam hatinya. Dia berkata, "Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: 'Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.'" (Lukas 17:20-21) Selama kekuatan hanya dimiliki oleh mereka yang menempati takhta, harapan apa yang tersisa bagi orang-orang miskin dan rendah? Yesus menunjukkan bahwa berkat ada dalam genggaman orang-orang yang mencintai Allah, karena Allah mencintai mereka dan Ia memiliki kuasa terbesar atas semuanya.

Alasan ketiga, Yesus tidak dilahirkan seperti seorang raja karena seorang raja tidak akan pernah mampu membayar harga atas dosa-dosa kita. Hanya karena Dia menyerahkan semua hak kerajaan-Nya, maka Ia dapat tunduk sampai kematian yang menyatakan pengorbanannya atas pelanggaran kita.

Pilatus, wakil penguasa Roma, menyadari adanya ketegangan yang berkaitan dengan masalah kebangsawanan ini saat ia meragukan Yesus. Dia menanyakan apakah Yesus seorang raja. Jawab Yesus, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yohanes 18:36) Orang-orang Roma akhirnya menyebut Yesus sebagai "Raja Orang Yahudi" saat dalam persidangan, banyak orang yang menghina dan ingin membunuh-Nya, dan gelar itu dituliskan pada sebuah papan dan dipakukan di atas kepala-Nya saat nyawanya diserahkan di kayu salib.

Para prajurit Roma menertawakan gagasan bahwa seorang "raja" dapat menerima hukuman yang paling kejam dan tidak berbelas kasihan. Namun, itulah keseluruhan intinya: Raja terbesar atas semua raja adalah seseorang yang mampu menundukkan martabatnya di tingkat paling rendah dan mengangkat setiap anak-anaknya ke surga.

Kelahiran Raja ini mungkin tidak terjadi dalam keadaan yang mewah menurut standar dunia. Namun, ketika akhirnya Tuhan kita berdiri dan tampak dalam seluruh kemuliaan dunia yang akan datang, maka seluruh penguasa dunia akan berlutut di hadapan-Nya. Dan pada saat itu, tidak akan ada lagi orang yang paling besar dan paling kecil -- tidak ada lagi bangsawan dan rakyat jelata -- hanya ada satu Raja Kekal di antara anak-anak-Nya yang Ia kasihi dan kagumi, yang berdiri bergandengan tangan di kaki takhta-Nya.

Pertanyaan Diskusi

- Pernahkah Anda merencanakan suatu peristiwa yang istimewa? Bagaimana Anda melakukannya?

- Kapan terakhir kali Anda mengingat seorang pangeran atau putri lahir? Bagaimana Anda belajar dari peristiwa itu?

Untuk studi lebih lanjut: Baca 1 Samuel 24:16-20; 2 Samuel 2:1; dan 2 Samuel 5:1-3 untuk melihat Daud menjadi raja. Apa pelajaran yang dapat kita pelajari dari kehidupan Daud? (t/Yusak)

Diterjemahkan dari:
Judul buku asli: Why the Nativity?
Judul bab: Why Didn't Jesus Have a Royal Birth?
Penulis: David Jeremiah
Penerbit: Tyndale House Publishers, Inc., Illinois 2006
Halaman: 115 -- 119

Renungan ini juga dapat dibaca di situs GUBUK < http://gubuk.sabda.org/mengapa_yesus_tidak_lahir_dalam_kemewahan >