Tradisi Natal Seorang Guru

Sejak Natal tahun 1971, aku selalu mengenang kembali sebuah kotak bekas yang kecil beserta isinya yang berharga. Ini seperti tradisi hari raya pribadiku. Aku ingat tentang arti memberi yang sesungguhnya dan cinta yang tak mementingkan diri sendiri.

Ketika aku menjadi mahasiswa dan sedang praktek mengajar selama musim gugur itu, aku mendapat tugas untuk bertanggung jawab terhadap seorang anak berumur tujuh tahun. Ia mendapat predikat anak yang selalu menyulitkan. Ia telah disia-siakan dalam begitu banyak hal sepanjang tujuh tahun itu. Aku harus berkomunikasi dengannya secara erat. Dengan berbekal pengalaman dalam membesarkan dua anakku dan kepercayaan bahwa aku dapat menggali perasaan anak-anak, aku menerima tantangan itu dengan bersemangat. Aku dapat melihat bahwa anak laki-laki ini mempunyai potensi untuk sukses. Tetapi, seperti yang sering terjadi, kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan standar penilaian sosial maupun akademis telah membuatnya mendapat reputasi sebagai seorang anak yang menyulitkan di sekolah.

Di luar dugaanku, tugas yang kuemban terhadap anak itu jauh lebih sulit dari pernah kubayangkan. Aku sering patah semangat. Anak nakal itu sering memukul, memaki, dan menampar diriku. Anak yang sangat kurus dan tidak terurus ini sangat lapar secara emosional sehingga ia tak dapat menerima bentuk pengertian atau kasih sayang apa pun. Meskipun demikian, aku mulai mendapatkan hasil setelah aku sabar dan terus berupaya dengan tak kenal henti. Secara perlahan, anak laki- laki itu mulai memperlihatkan kemajuan secara fisik, emosional, dan akademis. Ia mulai jarang membolos. Ia pun mulai berteman dan mengambil bagian dalam kegiatan kelompok.

Beberapa minggu berikutnya, anak itu menceritakan rahasianya kepadaku tentang barter yang ia akan lakukan dengan teman sekelas. Ia akan menukarkan sepasang sarung tangan satu-satunya. Sarung tangan itu kuberikan kepadanya karena tangannya sering kedinginan. Sebaliknya ia ingin memiliki sebuah kantong plastik sepatu berwarna merah dengan sebuah tali di dalamnya. Saat ini, kantong semacam itu adalah barang yang biasa. Tetapi, pada awal 70-an, barang ini sedang trend dan ia sangat terpikat oleh kantong merah terang yang mengkilat. Barter itu benar-benar ia lakukan.

Anak itu tidak mempunyai banyak barang sehingga ia sangat terobsesi dengan barang berharganya yang baru. Selama berminggu-minggu, pembicaraan dan pekerjaan tertulis berpusat pada kantong plastik yang indah. Anak itu suka membahas kegunaan, nilai, dan keindahan barang itu di matanya. Ia sungguh-sungguh melindungi kantong itu dan menjaganya dengan sepenuh hati.

Sebulan sudah berlalu. Natal sudah dekat dan pekerjaan semesterku mendekati akhir. Pada hari terakhirku, anak-anak mengadakan suatu gabungan pesta Natal dan perpisahan untukku. Sambil mengucapkan selamat tinggal dan membuka hadiah-hadiah yang dibawa anak-anak untukku, aku melempar pandangan dan melihat anak itu. Tiba-tiba, anak itu meninggalkan tempat duduknya dan meninggalkan ruangan. Aku sempat berpikir aku mungkin akan kehilangan dia. Tidak lama kemudian, seorang guru lain mengembalikannya ke dalam ruangan. Ia ditemukan di ruang kelas guru. Ternyata, ia sedang mencari sesuatu di tempat sampah dan meminta karet gelang. Dengan satu tangan dibelakangnya, ia diam-diam mendekati mejaku dan menyelipkan sesuatu di bawah hadiah-hadiah yang lain.

Aku terus membuka hadiah-hadiah dari anak-anak satu per satu. Aku pun memberikan pelukan-pelukan dan ucapan terima kasih. Akhirnya, aku sampai pada sebuah kotak kecil, sobek, berwarna hijau pudar, dan diikat dengan karet gelang. Ketika aku melepas karet gelang dari kotak itu, mataku sejenak bertemu dengan mata anak laki-laki itu. Wajah kecilnya yang kotor berseri-seri dengan suatu senyuman lebar. Ternyata ia telah melipat barang berharganya secara hati-hati dalam kotak itu. Ia memberikan kantong plastik merah kesayangannya kepadaku! Kerongkonganku terkunci dan mataku bagaikan terbakar. Tetapi, hadiah khususnya telah membuat hatiku hangat dan tersentuh oleh cinta luar biasa yang diperlihatkannya kepadaku.

Bulan Desember ini, aku akan merayakan Natal lagi dengan tradisiku yang sudah berumur 27 tahun. Aku akan mengintip kotak hijau bekas yang berisi kantong tua berwarna merah. Aku menyimpannya di tempat rahasia dan itu memberikan pelajaran kepadaku tentang arti memberi yang sesungguhnya. Sebagaimana untuk anak laki-laki itu, kantong itu adalah milikku yang berharga.

- Karren Morrow
Kalamazzo, Michigan

Sumber:
Judul Buku: The Magic of Christmas Miracle
Pengarang: Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Halaman: 89 - 92
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 1998