Hikmat dari Atas Datang ke Bawah

Bagaimana Natal Berbicara terhadap Kebingungan Kita

O Datanglah Kebijaksanaan dari atas,
Dan aturlah segala sesuatu dengan berkuasa.
Terhadap kami jalan pengetahuan menunjukkan,
Dan menyebabkan kita turut serta dalam perjalanannya pergi.

Saya menyukai himne Advent hampir sama seperti saya menyukai himne Natal. Favorit saya adalah -- O Come, O Come, Immanuel.- (Datanglah Imanuel - Red.). Kata-kata dan musiknya secara sempurna menangkap kerinduan yang menandai masa Natal pada tahun gereja ini. Adven adalah masa penantian, akan penantian yang menyakitkan dan kerinduan yang mendalam bagi Allah untuk bertindak mengatasi dosa, kesedihan, maut, dan kejahatan yang merusak dunianya.

Bait kedua mengungkapkan kerinduan kita akan hikmat, agar Allah mengatur segala sesuatu dengan kuasa bagi kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Nyanyian pujian tersebut bersaksi tentang kebutuhan kita akan pengetahuan dan hikmat serta kekuatan untuk berjalan pada jalan Allah.

Namun, apa yang kita maksud dengan "hikmat dari atas"? Dan, bagaimana Yesus menjawab kerinduan ini? Kitab Yakobus menawarkan sekilas pandang mengenai hikmat yang dari atas, jenis hikmat yang menyenangkan Allah dan menghasilkan tuaian kebenaran. Saat menghubungkan "hikmat yang datang dari atas" dalam Kitab Yakobus dan "hikmat dari atas" dalam himne ini, kita dapat melihat Yesus dengan lebih jelas selama masa Adven dan memperkuat hati kita untuk berjalan pada jalan Allah.

Dua Macam Hikmat

Surat Yakobus menawarkan kontras yang tajam antara hikmat surgawi dan duniawi. Hikmat duniawi ditandai dengan pengkhianatan yang sombong terhadap kebenaran, yang mengalir dari kecemburuan yang pahit dan ambisi yang egois di dalam hati (Yakobus 3:14). Hikmat bukan semata-mata soal perilaku, tetapi melibatkan keseluruhan pribadi, baik lahir maupun batin.

Gambar: bersyukur

Hikmat duniawi digerakkan oleh iri hati dan persaingan, oleh kebencian pada karunia dan kesuksesan orang lain. Kecemburuan dan ambisi berjalan beriringan karena mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika ambisi egois kita berhasil, kita menyombongkan diri, dan memandang rendah orang lain. Namun, saat kita gagal, kita menyimpan kedengkian dan kepahitan saat orang lain melampaui kita.

Dalam kedua kasus tersebut, kita "berdusta melawan kebenaran"; kita gagal menilai diri sendiri dan orang lain dengan benar. Visi kita diselewengkan oleh hasrat dan nafsu "dunia, tidak rohani, dan jahat", yang mengakibatkan "kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:14–16, AYT).

Begitulah hikmat dan jalan dunia. Itu semua merupakan jalan kebodohan, kesalahan, dan kepalsuan yang menghasilkan kehancuran serta kebingungan dalam dunia. Keluarga yang hancur, penyimpangan seksual, pertengkaran dan pertikaian, fitnah dan tuduhan -— inilah dunia yang kita huni dan berduka dalam pengasingan kita yang sepi di sini.

Hikmat dari Atas

Yakobus menawarkan gambaran hikmat surgawi yang berbeda secara fundamental. Hikmat semacam itu juga bekerja dari dalam ke luar. "Kelembutan dan hikmat" tercermin dalam perbuatan kita (Yakobus 3:13). Kelemahlembutan seperti itu adalah kebalikan dari ambisi egois; kelemahlembutan bukanlah meninggikan diri sendiri atau mementingkan diri sendiri, melainkan memandang diri sendiri dengan penilaian yang bijaksana dan tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya. Dengan cara itu, kelembutan hikmat adalah "teguh pada kebenaran", bukan "berdusta melawan kebenaran".

Apa yang menjadi ciri dari hikmat semacam itu? Pertama, "murni" (Yakobus 3:17). Berbeda dengan hikmat duniawi yang ditandai oleh praktik kekejian dan kejahatan, hikmat surgawi ditandai dengan pengabdian yang tak terbagi kepada Allah. Hikmat Allah itu kudus, tidak bercela, dan utuh. Hikmat surgawi menertibkan kekacauan dan kebingungan karena dengan sepenuh hati dikhususkan bagi tujuan Allah. Yakobus menempatkan kemurnian dan kekudusan hikmat surgawi pada posisi yang menonjol. Hikmat ini "pertama-tama" datang sebagai sesuatu yang murni sehingga menjadi standar bagi ciri-ciri yang berikutnya.

Selanjutnya, hikmat surgawi adalah "suka damai, lemah lembut, terbuka". Hikmat ini menuntun kita untuk menghindari konflik yang tidak perlu dan menahan diri dari kekerasan atau pertengkaran. Hikmat surgawi dapat menuntun kita untuk melawan dan membela apa yang baik dan benar. Namun, hikmat ini tidak suka bertarung hanya demi pertarungan itu sendiri. Jika diberi pilihan, orang bijak dan bepengertian sangat ingin untuk hidup damai dengan semua orang. Orang bijak bersedia berteman dengan orang yang benar-benar ramah.

Hikmat surgawi mengalah dengan mudah ketika masalah moral tidak dipertaruhkan. Ia memiliki kepekaan pada proporsi dan kesopanan, dan menanggung kelemahan serta kesalahan orang yang lemah. Ia terbuka pada akal dan patuh, mampu membedakan kapan waktu yang baik untuk mengalah dan kapan waktu untuk teguh bertahan.

Hikmat yng datang dari atas cepat mengabaikan kesalahan sehingga "penuh belas kasihan." Ketika harus memberi pengampunan, hikmat ini memberikannya dengan penuh semangat. Seperti halnya sang ayah dalam perumpamaan Yesus, hikmat surgawi bersukacita ketika anak yang hilang kembali pulang.

Yang terakhir, hikmat surgawi membenci semua kemunafikan dan keberpihakan. Apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda peroleh. Karakter hikmat adalah konsisten dan bertahan dalam segala keadaan. Tindakannya dapat berbeda, karena situasi yang berbeda membutuhkan respons yang berbeda. Namun, di balik setiap tanggapan terdapat ketulusan, kebijaksanaan, dan kejujuran yang menyegarkan.

Merindukan Hikmat

Di tengah dunia yang rusak dan generasi yang rusak, kita merindukan hikmat semacam itu. Dan, sementara hikmat bekerja dari dalam ke luar, dari hati ke tangan dan kehidupan, itu terutama adalah hikmat yang datang dari atas (Yakobus 3:17). Hikmat semacam ini turun dari surga, mengubah hati kita, dan kemudian menghasilkan "panen kebenaran." Adalah suatu tindakan yang baik dan benar bila kita mendambakan hikmat semacam itu dalam kehidupan kita.

Hikmat surgawi menertibkan kekacauan dan kebingungan karena dengan sepenuh hati dikhususkan bagi tujuan Allah.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Di dalam Kristus, kita menginginkan kemurnian yang tak tercela dan belas kasihan yang melimpah. Kita berusaha agar kewajaran kita yang kukuh diketahui oleh semua orang. Kita meminta karunia Allah untuk menunjukkan ketaatan yang tak tergoyahkan kepada-Nya dalam setiap bidang, dan kesopanan kepada orang lain sesering mungkin. Dan, kita dengan penuh semangat mencari kedamaian jika memungkinkan. Tanda berulang dari hikmat surgawi adalah keinginannya akan kedamaian, akan keutuhan, akan persekutuan dan persatuan.

Kebijaksanaan dari Tempat Tinggi dan di Antara Kita

Saat kita merindukan hikmat seperti itu turun ke atas kita, Adven mengingatkan kita bahwa Hikmat tinggal di antara kita. Sebab, Yesus dari Nazaret adalah perwujudan hikmat manusia yang tertinggi dari tempat tinggi.

Adakah orang yang semurni dan sesuci Dia? Gairah untuk rumah Bapa melahap-Nya; hal itu menggerakkan seluruh hidup-Nya. Kepatuhan-Nya sempurna, bahkan saat Dia bertumbuh dalam hikmat dan tubuh jasmani-Nya.

Apakah ada orang yang selembut dan sebaik diri-Nya? Dia dengan benar mengelola kekuasaan dan otoritas yang maha kuasa untuk kebaikan umat-Nya, dengan tetap memperhatikan keberadaan kita. Kelembutannya terhadap orang berdosa yang terbebani sangat melegenda. Yang lelah dan berbeban berat menemukan ketenangan dalam kelembutan-Nya. Dengan segala semangat dan kemurnian-Nya, Dia tidak membenci yang lemah dan rendah.

Adakah orang yang penuh belas kasihan seperti diri-Nya? Seberapa sering Dia tergerak oleh belas kasihan untuk memperhatikan pengikut-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka? Seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya, seperti seekor induk ayam terhadap anak-anaknya, seperti seorang gembala terhadap dombanya yang tersesat -- belas kasihan-Nya tidak hanya memenuhi diri-Nya, tetapi juga melimpah dan menyirami jiwa-jiwa yang lemah.

Adakah orang yang tidak memihak dan tulus seperti diri-Nya? Dia membenci setiap bentuk kemunafikan. Tidak ada sandiwara pada-Nya, tetapi Dia bergerak di antara yang miskin dan yang kaya, yang berkuasa dan yang tidak berdaya dengan ketulusan dan kebenaran. Janda dan kaum revolusioner, pelacur dan orang Farisi, pemungut cukai dan imam -- semuanya disambut, asalkan mereka membungkuk untuk datang melalui pintu pertobatan yang rendah hati.

Yesus adalah Hikmat yang dari Atas, Hikmat dari Yang Tempat Tinggi; Dia datang sebagai Raja Damai dan Penasihat Ajaib kita, menabur dan menuai hasil kebenaran di negeri yang gelap gulita. Kristus telah datang. Kristus akan datang kembali. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/wisdom-above-came-below
Judul asli artikel : Wisdom Above Came Below
Penulis artikel : Joe Rigney