Cerita/Kesaksian

Surat Yusuf ke Rumah -- Sebuah Kisah Natal

Ibu yang terkasih,

Kami masih berada di Betlehem. Aku, Maria, dan Bayi Yesus.

Banyak hal yang tidak dapat kubicarakan dengan Ibu di musim panas yang lalu. Ibu tidak akan mempercayaiku pada saat itu, tetapi mungkin sekarang aku dapat menceritakannya kepada Ibu. Kuharap Ibu mengerti.

Ibu tentu tahu bahwa aku selalu mengasihi Maria. Dahulu, Ibu dan Ayah sering menggodaku dengan Maria ketika ia masih kecil. Ia dan kakak laki-lakinya sering bermain di jalan depan rumah kita. Keluarga kita sering makan malam bersama dengan keluarganya. Akan tetapi, hari terberat dalam hidupku datang hampir setahun yang lalu, ketika aku berusia 20 tahun dan ia 15 tahun. Ibu tentu mengingat hari itu, bukan?

Hai Dunia, Gembiralah!

Aku menyesal karena telah berjanji kepada Ny. Saunders, koordinator bazar Natal tahunan. "Bersediakah kamu menyumbang sebuah door prize tahunan, sayang? Mungkin salah satu dari pohon Natalmu yang terkenal," ia membujuk dengan mata bersinar. "Kami berharap dapat menghasilkan banyak uang untuk pementasan Santa Klaus bagi keluarga- keluarga yang berkekurangan. Kamu tahu, tak ada yang lebih menarik daripada sebuah door prize yang luar biasa untuk menarik para pembelanja datang ke sebuah bazar," katanya.

Hadiah yang tidak Diantarkan

Pernahkah Anda mengalami peristiwa dimana Anda hampir saja tidak ingin melakukan suatu kebaikan atau perbuatan murah hati kepada orang lain, tetapi di kemudian hari baru Anda tahu bahwa jika saat itu Anda tidak melakukannya, maka suatu kejadian yang sangat penting tidak akan mungkin terjadi atau dialami?

Tukar-Menukar Doa: Hadiah Doa

Di sekolah minggu gereja kami, Gereja Sidang Jemaat Allah, tahun lalu diumumkan supaya kami mengundi nama seseorang untuk saling menukarkan hadiah. Saya mengeluh. Sesuatu akan ditambahkan pada daftar pekerjaan saya yang sudah terlalu panjang! Tetapi pertukaran hadiah kali ini agak berbeda. Kami diminta untuk "menghadiahkan doa". Selama satu bulan kami harus mendoakan seseorang.

Revival di Himalaya

Beberapa tahun yang lalu pada waktu Natal yang bersalju, Kaleb (bukan nama sebenarnya) ingin pergi berbelanja. Dia adalah orang baru di Himalaya dan ingin jalan-jalan di kota sebelum meneruskan perjalanannya. Ketika itu dia memperhatikan para pejalan kaki berkerumun mengelilingi seorang gadis yang tidak sadarkan diri karena kerasukan. Gadis itu berteriak dan memutuskan rantai yang dipakai orang-orang untuk mengikatnya. Seorang dukun mencoba untuk mengusir kuasa jahat itu, tetapi tidak menunjukkan hasil.

Pages