Skip to main content

Pentingnya Tradisi Natal

Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar kata "tradisi"? Kue casserole terkenal dari bibi Anda? Membuka satu hadiah pada Malam Natal? Menonton film animasi tanah liat Rudolph yang menyeramkan? (Anda tahu… tentang elf yang ingin menjadi dokter gigi?) Sebagian besar keluarga kita memiliki tradisi tertentu — beberapa yang unik bagi kita dan beberapa yang tidak.

Sekarang, pikirkan kata kedua: ritual.

Ooooh… rasa hangat dan nyaman itu tidak sehangat dulu, bukan?

Kata ritual dalam beberapa lingkaran telah mendapatkan konotasi negatif. Saya dibesarkan di gereja Alkitab non-denominasi, dan satu-satunya ritual yang kami miliki adalah Perjamuan Kudus, dan bahkan itu pun hanya dilakukan sekali sebulan. Saya malu mengakui bahwa saya sedikit meremehkan denominasi Kristen yang lebih ritualistik seolah-olah mereka hanya mengandalkan ritual jika tidak tahu cara memiliki hubungan yang sejati dengan Allah. (Dan ya, Aduh! Saya malu dengan kesombongan saya dulu.) Saya tidak memahami keindahan dan pentingnya ritual saat masih muda karena saya tidak memahami makna di baliknya atau peran berharga yang dapat dimainkannya dalam perjalanan rohani kita. Dalam refleksi saya, saya memikirkan tiga alasan mengapa ritual penting.

Kata "ritual" dalam beberapa lingkaran telah mendapatkan konotasi negatif. Saya tidak memahami keindahan dan pentingnya ritual saat masih muda karena saya tidak memahami makna di baliknya atau peran berharga yang dapat dimainkannya.

1. Ritual adalah cara untuk mengingat

Pentingnya ritual dapat dirangkum dalam satu kata kecil: lupa.

Kita adalah makhluk yang mudah lupa.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti pelatihan dan mereka meminta kami menuliskan satu area kehidupan yang sulit bagi kami untuk "menyerahkannya kepada Allah." Setelah menulis jawaban saya, mereka kemudian menanyakan, "Sebutkan tiga cara kesetiaan Tuhan nyata bagi Anda di area tersebut?"

Saya menulis enam cara (dan mungkin bisa menulis lebih banyak).

Saya langsung berpikir, "Astaga… Tuhan begitu setia. Bagaimana saya bisa melupakannya begitu cepat?" Sayangnya, begitu masalah teratasi, kita cenderung melupakan secara mental. Itu adalah bentuk ketidakbersyukuran, dan mengingat kebaikan Allah membutuhkan usaha — di sinilah ritual berperan.

Setelah kita menerima manfaat dari berkat, kita cenderung melupakan secara mental. Itu adalah bentuk ketidakbersyukuran, dan mengingat kebaikan Tuhan membutuhkan usaha — di sinilah ritual berperan.

Gambar: bersyukurRitual yang efektif bukan sekadar hal yang dilakukan sekali saja. Itu adalah bentuk pengulangan, dan pengulangan adalah sarana untuk mengingat. Seperti yang kami bahas dalam buku terbaru kami, pikiran manusia itu mengalami kesulitan membedakan antara kebiasaan dan kebenaran — artinya, semakin sering kita mendengar sesuatu, semakin besar kemungkinan kita untuk mempercayainya. Ritual lisan menanamkan kata-kata kebenaran dalam pikiran kita secara terus-menerus sehingga kebenaran tersebut menjadi kebiasaan. Kita tidak mengabaikan pemikiran rasional, dan kita juga tidak mencoba meyakinkan diri sendiri tentang sesuatu yang hanya kita inginkan menjadi benar.

Melalui ritual lisan, kita memperkuat kebenaran, serta menanamkannya dalam pikiran kita sehingga kebenaran itu akan hidup dan berkembang di sana secara terus-menerus. Terkadang pengetahuan ini menembus hati. Namun, ketika tidak, ritual dapat mendukung kebenaran dengan cara lain.

2. Ini adalah cara untuk mengekspresikan sesuatu yang benar

Orang-orang familier dengan seni pertunjukan melalui musik, film, atau teater. Saya menemukan lebih sedikit orang yang familier dengan bentuk seni pertunjukan non-teater — yang menurut saya sayang, karena kita melihat seni pertunjukan di seluruh Perjanjian Lama

Kita dapat mengetahui sesuatu sebagai kebenaran dalam bentuk pernyataan, tetapi ada kekuatan tambahan dalam mengekspresikan sesuatu yang kita ketahui sebagai kebenaran. Dalam melakukan ritual, peserta mengekspresikan hal-hal yang mereka coba ingat. Contohnya adalah makan malam Paskah. Bukan hanya makanan yang dimakan yang simbolis, tetapi cara memakannya juga memiliki makna. Bukan sekali, bukan dua kali, tetapi tiga kali Allah memerintahkan orang Israel untuk merayakannya sebagai "peraturan yang abadi." (Keluaran 12) Ketika anak-anak mereka menanyakan alasan mereka melakukan ritual ini, orang tua harus mengetahui ceritanya dan menceritakannya kembali kepada generasi mendatang. Melalui kata-kata yang diucapkan, makanan yang dimakan, dan kecepatan dalam memakannya, orang Yahudi terus diingatkan tentang cara Tuhan membebaskan mereka dari bangsa Mesir.

3. Ini adalah cara untuk mempertahankan identitas kita sebagai orang Kristen

Setiap budaya memiliki ritual. Suku Maori membuat tato sejarah mereka di tubuh mereka, tarian suku di seluruh dunia memperkuat nilai-nilai dan sejarah, serta kebanyakan negara memiliki lagu kebangsaan yang menceritakan kisah unik mereka. Semua ini adalah bentuk pelestarian sejarah, dan sejarah adalah cara utama budaya mempertahankan identitasnya. Kenangan adalah bagian besar dari sesuatu yang membuat kita menjadi diri kita, dan sejarah pada dasarnya adalah ingatan kolektif suatu budaya. Kita memahami diri kita dengan memahami dari mana kita berasal.

Seperti yang dijelaskan Rod Dreher dalam bukunya Live Not By Lies, "Orang Kristen saat ini kesulitan meneruskan iman kepada generasi muda sebagian besar karena kita semua telah terbiasa dengan cara hidup di mana sedikit atau bahkan tidak ada keyakinan dan adat istiadat yang sama…"1


elalui ritual lisan, kita memperkuat kebenaran, serta menanamkannya dalam pikiran kita sehingga kebenaran itu akan hidup dan berkembang di sana secara terus-menerus.
 

Bagian dari memiliki identitas dalam Kristus adalah memiliki keyakinan dan kenangan bersama. Hal-hal ini dipertahankan melalui adat istiadat, tradisi, dan (heh) bahkan ritual.

Jadi, saat kita memasuki musim liburan ini, mari kita ingat bahwa meskipun bubur keju nenek kita penting, ada tradisi yang lebih penting yang dipertaruhkan. Ingatlah, ritual yang dilakukan secara legalistik tidak memiliki tujuan. Sebaliknya, mari kita mengejar ritual Natal historis sebagaimana dimaksudkan untuk dialami — sebagai kesempatan untuk berhenti, berpikir, mengingat, melambat dari keramaian liburan, dan mengingatkan anak-anak Anda alasan mereka memiliki dua minggu libur sekolah.

Mari kita ikuti ritual Natal historis sebagaimana dimaksudkan untuk dijalani — sebagai kesempatan untuk berhenti, berpikir, mengingat, melambat dari keramaian liburan, dan mengingatkan anak-anak Anda alasan mereka mendapat libur dua minggu dari sekolah.

Cari cara untuk menciptakan kenangan yang tidak hanya berputar di sekitar kesenangan, tetapi juga memperkuat makna Natal. Jangan hanya membaca cerita kelahiran Yesus — diskusikanlah. Cetak lirik lagu Natal yang lebih tua dan kaya secara teologis, serta diskusikanlah sebagai keluarga.

Natal itu sendiri adalah ritual — identitas bersama yang kita miliki sebagai orang Kristen untuk mengingat bahwa Allah semesta alam datang dalam rupa manusia. Ia turun dari surga dan merendahkan diri-Nya untuk dilahirkan dari seorang perempuan, dan bahkan tidak dengan cara yang terhormat. Jadikan ini sebagai peraturan yang abadi bagi anak-anak Anda sehingga ketika mereka bertanya alasan Anda melakukan hal-hal tertentu selama Natal, Anda memiliki jawaban yang mengarahkan mereka kepada hadiah terbesar yang pernah kita terima — Kristus dalam rupa manusia, datang untuk hidup, mati, dan bangkit kembali agar kita dapat hidup bersama-Nya untuk selamanya.


1. Rod Dreher, Live Not by Lies: A Manual for Christian Dissidents (New York: Penguin, 2020), 116.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

Mama Bear

Alamat artikel

:

https://mamabearapologetics.com/the-importance-of-christmas-traditions/

Judul asli artikel

:

The Importance of Christmas Traditions

Penulis artikel

:

Hillary Morgan Ferrer