Kelahiran Yesus = Wujud Kontekstualisasi Pelayanan Allah
Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus, Paulus rela menjadikan dirinya hamba bagi semua orang. Dalam suratnya untuk jemaat di Korintus, Paulus berkata:
Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus, Paulus rela menjadikan dirinya hamba bagi semua orang. Dalam suratnya untuk jemaat di Korintus, Paulus berkata:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Mat 2:1-2, 11)
Menjelang akhir tahun 1800-an, muncullah jenis pohon Natal tradisional yang lain: pohon Natal buatan. Pohon buatan ini asli dari Jerman. Pohon yang dibuat dari kawat logam itu ditutupi dengan bulu itik besar, kalkun, burung unta, atau angsa. Bulu-bulu tersebut dicat hijau agar menyerupai daun-daun pinus yang tajam.
Coba bayangkan kalian sedang duduk di sebuah gedung pertunjukan menunggu pertunjukan yang wajib ditonton tahun ini. Layar merah mulai dibuka, dan sebuah kalimat muncul di layar:
"With the arrival of Jesus, the Messiah, that fateful dilemma is resolved" (Romans 8:1, The Message).
(Bandingkan dengan Alkitab versi BIS di bawah ini: "Sekarang tidak ada lagi penghukuman terhadap mereka yang hidup bersatu dengan Kristus Yesus" (Roma 8:1, BIS).)
Erghh, ini tidak seperti kalimat pembuka yang pantas, tetapi lebih cocok dipasang sebelum tulisan The End! Memang ....
Dari sekian banyak kebiasaan Natal, bayangan apa yang pertama melintas di pikiran Anda? Dari sekian banyak cara, pikirkanlah hal yang paling umum untuk merayakan Natal?
Sulit untuk membayangkan Natal tanpa pohon Natal. Namun kemunculannya di rumah-rumah adalah kebiasaan yang baru dimulai selama dua atau tiga ratus tahun yang lalu. Sebelum itu, orang Kristen cenderung memasang pohon di gereja, pohon itu biasanya dibiarkan tanpa dihiasi.
Apa yang Disimbolkan Pohon?
Mengapa sebenarnya ada pohon Natal?
November 2006
Umbu Rey
Hari ini saya bertanya kepada rekan-rekan sekantor yang duduk di sekitar meja kerja saya. Apa arti kata "malaf". Semuanya menggeleng tak mengerti. Yang mereka tahu adalah kata "mualaf" lantaran sering nyangkut di kuping.
"Malaf" itu sesungguhnya bukanlah "mualaf", karena kedua kata itu berbeda artinya meski (mungkin) datang atau terserap dari bahasa yang sama (Arab). Tetapi ketika menjadi bahasa Indonesia nasib kedua kata itu ibarat langit dan bumi meskipun sama-sama kata benda. "Mualaf" kini makin populer sebab ramai diucapkan orang hampir saban hari, tetapi "malaf" mungkin sudah mati.
Bacaan: Matius 25:31-46
Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat. 25:40).
Ketika aku masih kecil, kehidupan kami sangat berkekurangan, namun masa Natal selalu menakjubkan. Hadiah-hadiah sedikit dan kecil, namun kami selalu bahagia dengan apa yang kami terima. Waktu yang paling indah adalah ketika menyanyi bersama-sama di muka pohon terang yang dipimpin oleh Ibu. Ini adalah waktu yang luar biasa dan kudus saat kami menaikkan pujian kepada Tuhan.
Sekarang di dunia Barat, Natal sudah menjadi peristiwa komersial. Persiapan dan pembelian hadiah telah mengambil alih makna rohani Natal -- kelahiran Juru Selamat kita. Banyak orang bahkan tidak ingat mengapa mereka merayakan Natal. Tidak ada sesuatu yang kudus tentang itu.
Sejak pertengahan bulan November, suasana Natal sudah mulai dihembuskan oleh pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Pada saat itu gereja sendiri mungkin baru membentuk panitia Natal. Seakan tidak mau kehilangan waktu, dunia bisnis, melalui dekorasi pohon cemara bersalju, rusa, dan kereta salju serta bingkisan hadiah memberikan dorongan psikologis kepada calon pembeli untuk segera berbelanja.
Ada dua macam pandangan tentang sejarah. Yang pertama, sejarah sebagai lingkaran. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berputar dan berulang kembali tanpa arah dan tujuan. Seperti perputaran matahari atau bulan, sejarah adalah perputaran peristiwa yang tak berujung pangkal. Sejarah adalah ibarat lingkaran yang tidak ada habis-habisnya. Apa yang dulu lenyap akan muncul lagi untuk kemudian lenyap lagi dan kemudian muncul lagi.
Yang kedua, sejarah sebagai garis lurus. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berkaitan satu sama lain dan mempunyai satu arah dan suatu tujuan. Jadi, sejarah mempunyai makna. Sejarah adalah ibarat garis lurus yang terus memanjang dan bahkan menanjak menuju masa depan.
Pandangan kedua inilah yang dikembangkan umat Israel sepanjang Kitab Perjanjian Lama. Umat itu menghayati peristiwa demi peristiwa sebagai titik demi titik yang terus memanjang dan membentuk garis lurus.
Sejak Natal tahun 1971, aku selalu mengenang kembali sebuah kotak bekas yang kecil beserta isinya yang berharga. Ini seperti tradisi hari raya pribadiku. Aku ingat tentang arti memberi yang sesungguhnya dan cinta yang tak mementingkan diri sendiri.