Kelahiran Sang Mesias (Lukas 2:1-20)

Pendahuluan

Entah bagaimana, saya dan seorang teman yang lebih tua teringat tentang sebuah lelucon lama minggu ini, yang terkait dengan teks kita. Seorang pengamat yang penasaran sedang memerhatikan seorang pandai besi dengan ketertarikan yang besar. Si pandai besi sedang menempa tapal kuda. Dia baru saja menyelesaikan sebuah tapal dan meletakkannya di samping untuk mendinginkannya. Tanpa berpikir panjang, si pengamat tersebut mengambilnya untuk melihatnya lebih dekat, tetapi dengan cepat meletakkannya kembali. Dengan kelip di matanya, si pandai besi berkata, "Panas, bukan?" Tidak ingin membiarkan dirinya diremehkan, si pengamat menjawab, "Tidak. Aku hanya tidak perlu waktu lama untuk mengamati tapal kuda."

Gambar: kelahiran Kristus versi Lukas

Sama halnya, orang bisa mengatakan bahwa Lukas tidak perlu waktu lama untuk melaporkan suatu kelahiran, mengukur dari panjangnya catatan dia tentang kelahiran Tuhan kita, Yesus.[25] Dan, ingat bahwa catatan Lukas tentang kelahiran Tuhan kita adalah satu-satunya catatan yang lengkap dalam kitab-kitab Injil. Tidak satupun dari Markus atau Yohanes yang membahas tentang kelahiran atau masa kecil Yohanes Pembaptis ataupun Yesus, tetapi memulai catatan mereka dengan permulaan pelayanan publik Yohanes Pembaptis. Matius menceritakan tentang kunjungan malaikat kepada Yusuf, sebelum kelahiran Yesus, yang mendorongnya untuk menikahi Maria, bukannya menceraikannya diam-diam, seperti rencananya yang semula. Dia juga menceritakan tentang kunjungan para majus, tentang upaya Herodes untuk membunuh sang bayi, dan tentang pelarian keluarga kudus tersebut ke Mesir sampai kematian Herodes. Akan tetapi, Matius tidak benar-benar menceritakan apa pun tentang kelahiran Tuhan kita. Hanya Lukas yang menggambarkan peristiwa-peristiwa ketika Tuhan kita lahir. Dengan demikian, saat kita memerhatikan keringkasan Lukas, kita melihat bahwa satu-satunya catatan tentang kelahiran Tuhan kita juga merupakan catatan yang singkat. Ini penting, seperti yang akan kita tampilkan pada akhir pesannya.

Dari segala hal yang bisa diceritakan Lukas tentang kelahiran Tuhan Yesus, dia memilih untuk memberikan catatan yang sangat singkat tentang faktor-faktor yang menyebabkan kelahiran Yesus di Betlehem (titah Kaisar, sensus, fakta bahwa tempat kelahiran Yusuf adalah Betlehem), dan bagaimana para gembala di dekat situ datang untuk menyaksikan kedatangan Sang Mesias. Peristiwa-peristiwa ini -- berdasarkan fakta bahwa mereka dipilih dari sekian banyak yang bisa diceritakan, tetapi tidak -- pasti memiliki kepentingan besar bagi orang Kristen, khususnya orang percaya non-Yahudi, termasuk kita. Mari kita berusaha mempelajari makna dan aplikasi dari kelahiran Juru Selamat kita sebagaimana dicatat hanya oleh Lukas, sang sejarawan yang terinspirasi ilahi.

Struktur Teks

Lukas pasal 2 memiliki tiga bagian utama. Ayat 1-20 menggambarkan kelahiran Yesus serta penyembahan dan kesaksian para gembala. Ayat 21-40 mengandung catatan tentang penyerahan Yesus di Yerusalem serta kesaksian dari Simeon dan Hana. Bagian ketiga sekaligus yang terakhir pasal ini menggambarkan kejadian yang terjadi di Yerusalem saat Yesus berusia 12 tahun, ketika Dia tetap tinggal di Bait Allah, "Rumah Bapa-Nya", sibuk dengan urusan Bapa-Nya (Lukas 2:41-52).

Teks kita, Lukas 2, ayat 1-20, juga memiliki tiga bagian. Ayat 1-7 menjelaskan alasan kelahiran Yesus di Betlehem, dan khususnya situasi-situasi yang menyertai kelahiran-Nya, yaitu Dia dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di palungan. Ayat 8-14 menceritakan tentang kunjungan para malaikat kepada para gembala untuk menjelaskan kunjungan para gembala pada waktu kelahiran . Ayat 15-20 menceritakan kunjungan para gembala dan kesaksian mereka setelah melihat Sang Juru Selamat.

Latar

Setelah pendahuluan Injil Lukas (1:1-4), Lukas mulai menjalin kedatangan Yohanes Pembaptis dan Yesus, dimulai dengan pengumuman tentang kelahiran mereka, dilanjutkan dengan kelahiran mereka, dan diakhiri beberapa wawasan penting tentang beberapa peristiwa masa kecil. Kelahiran Yohanes dan "perseteruan keluarga" seputar penamaan anak itu merupakan pembahasan studi kita sebelumnya.

Terdapat beberapa peristiwa perantara yang diceritakan oleh Matius, yang juga menolong kita memahami apa yang terjadi dalam teks kita. Catatan Matius tentang kunjungan malaikat tampaknya terjadi tidak lama setelah Maria pulang ke rumahnya di Nazaret dari rumah Elisabet dan Zakharia (bd. Lukas 1:39-56). Pendapat saya, Maria mengandung melalui kerja Roh Kudus yang ajaib selama dia tinggal bersama dengan Elisabet dan suaminya, Zakharia. Saat pulang ke rumah, bisa jadi dia sudah 3 bulan mengandung. Melihat Maria dengan kandungannya yang berusia 3 bulan pastinya sangat mengejutkan dan mengecewakan bagi Yusuf. Kita tidak perlu seorang ahli untuk mengetahui bahwa tidak seorang perempuan pun dapat mengandung dengan sendirinya sehingga Yusuf pun terpaksa menyimpulkan bahwa dia telah berhubungan seksual dengan laki-laki lain. Perceraian tidak terelakkan, dan Yusuf mengetahuinya, tetapi dia bertekad untuk setidaknya melakukannya dengan diam-diam daripada mencemarkan nama Maria di depan umum.

Saat itulah seorang malaikat mengunjungi Yusuf dalam mimpi, menurut cerita Matius (Mat. 1:18-25), memberi tahu dia bahwa Maria tidak melakukan hubungan gelap, tetapi bahwa Anak yang di dalam kandungannya itu adalah Allah yang berinkarnasi, Imanuel. Karena pewahyuan ini, Yusuf mengambil Maria menjadi istrinya, merawat dan melindungi dia, dan pada kemudian hari bertindak sebagai ayah dari Anak yang dilahirkannya.

Maria menjadi istri Yusuf dengan cara yang sangat berbeda karena sifat dari kandungannya. Normalnya, seorang laki-laki dan seorang perempuan Yahudi menjadi suami dan istri melalui persatuan jasmani. Sebagai bagian dari upacara pernikahan, suami dan istri akan masuk ke dalam tenda mereka, dan baru keluar setelah persatuan tersebut telah diselesaikan secara seksual. Maria tidak dapat melakukan upacara pernikahan semacam itu, sebab Matius memberi tahu kita bahwa mereka tidak berhubungan seks sampai setelah Yesus dilahirkan (Mat. 1:25). Dengan demikian, saat Matius mengacu kepada Maria dan Yusuf sebagai pasangan yang sudah menikah, dia berbicara secara fungsi, karena sejak saat itu, mereka hidup bersama-sama sebagai suami dan istri. Namun, saat Lukas berbicara tentang pasangan ini, dalam perjalanan mereka ke Betlehem, dia bercerita seolah-olah mereka masih bertunangan dan belum menikah. Tidak mengherankan jika seorang dokter begitu teknis. Namun, secara teknis, dia benar, sebab hanya setelah kelahiran Yesus itulah Maria dan Yusuf menyelesaikan persatuan pernikahan mereka dan menjadi suami dan istri dalam pengertian yang tepat.

Kelahiran Yesus di Betlehem (2:1-7)

Lukas menuliskan catatan tentang kelahiran Yesus dengan laporan tentang berbagai kondisi tempat Mesias Allah dilahirkan, dan alasan-alasan manusiawi untuk hal-hal tersebut. Ketujuh ayat pertama ini tampak sangat "sekuler". Tidak disebutkan tentang tangan Allah ataupun aktivitas "rohani" khusus lainnya. Memang, bagian ini diakhiri dengan hampir setitik tragedi manusia. Kalau dipikir-pikir, Anak Allah, dibungkus dengan kain tua dan dibaringkan di palungan! Mungkin kita akan protes, "Betapa tidak pantas." Sungguh tragis! Mungkin demikian, terlepas dari "sisi lain berita" yang ditemukan dalam ayat 8-20. Situasi yang sama yang tampaknya menyedihkan, begitu pilu, adalah situasi yang terbukti paling penting. Mari pertama-tama kita melihat pada sisi sekuler berita tersebut, lalu melanjutkan ke dimensi rohaninya.

Ayat 1-3 memberikan penjelasan sekuler terhadap keadaan menyedihkan yang dialami Anak Kecil Kristus. Kaisar telah mengeluarkan suatu titah, yang mengharuskan suatu sensus, tidak diragukan lagi dalam persiapan untuk pajak pada kemudian hari.[26] Mendaftar untuk sensus ini pastinya merupakan tindakan yang sangat menyakitkan, bukan hanya karena melakukannya sangatlah tidak menyenangkan, tetapi karena itu juga pengingat bahwa meski umat Allah, Israel, tinggal di tanah perjanjian, mereka tidak merdeka; mereka berada di bawah pemerintahan kuasa pagan. Hukum Romawi, yang dibuat oleh penguasa pagan, memaksa orang Israel untuk tunduk. Kegigihan orang Yahudi bahwa mereka bukanlah hamba dari siapa pun (Yoh. 8:33) terbukti merupakan penolakan terang-terangan terhadap suatu fakta yang menyakitkan dan sensitif.

Sejujurnya, informasi yang tersedia dalam ayat 1-3 tidak terlalu menarik bagi pembaca Kristen kontemporer. Siapa yang peduli tentang Kaisar siapa yang bertanggung jawab atas sensus tersebut, atau peduli jika ada sensus? Siapa yang peduli tentang Kirenius? Menurut saya, Teofilus, yang pertama-tama menerima surat ini, peduli. Istilah "yang mulia" yang dipakai oleh Lukas dalam pasal 1 (ay. 3) juga digunakan oleh Lukas sebanyak tiga kali dalam Kisah Para Rasul (23:26; 24:3; 26:25), masing-masing untuk mengacu kepada pejabat politik dengan kedudukan tinggi. Ini menyiratkan bahwa Teofilus juga adalah seorang pejabat politik berkedudukan tinggi. Informasi Lukas, meski tidak terlalu menarik bagi kita, pasti sangat penting bagi Teofilus. Di antara beberapa hal lain, Lukas sedang menunjukkan akar sejarah dari iman Kristen. Tidak seperti penampakan "ilah" atau agama palsu lainnya, yang penampakannya dituliskan dalam istilah "pada suatu ketika", kedatangan Kristus adalah peristiwa nyata yang terjadi dalam waktu yang nyata.[27] Fakta-fakta yang disediakan oleh Lukas penting bagi orang yang imannya menuntut validitas sejarah.

Dalam analisis terakhirnya, titah Kaisar ditetapkan secara ilahi untuk membawa sepasang suami istri untuk melakukan perjalanan yang sulit dan panjang dari kampung halaman mereka di Nazaret di Galilea menuju tempat asal kelahiran mereka, Betlehem di Yudea. Nabi kuno telah menubuatkan bahwa Sang Mesias akan dilahirkan di Betlehem, sebuah fakta yang sangat dikenal oleh orang Yahudi:

Lalu, dia mengumpulkan semua imam kepala dan ahli-ahli Taurat bangsa itu. Dia bertanya kepada mereka di mana Kristus dilahirkan. Mereka menjawab, "Di Betlehem, wilayah Yudea, karena beginilah yang ditulis oleh nabi: 'TETAPI ENGKAU, HAI BETLEHEM EFRATA, DI TANAH YEHUDA, ENGKAU BUKANLAH YANG TERKECIL DI ANTARA PENGUASA YEHUDA, KARENA DARIMU AKAN BANGKIT BAGI-KU, SEORANG YANG AKAN MEMERINTAH ISRAEL'" (Mat. 2:4-6, mengutip Mi. 5:2).

Namun, tujuan Lukas bukanlah untuk menekankan penggenapan nubuat Perjanjian Lama, sebagaimana yang dilakukan oleh Matius, sebab Injilnya ditulis bagi seorang non-Yahudi, yang kemungkinan tidak akrab dengan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Tujuan Lukas adalah untuk menunjukkan kondisi-kondisi sederhana dari kelahiran Sang Mesias.[28] Karena itu, Lukas memberi tahu kita bahwa Yusuf dan Maria melakukan perjalanan ke Betlehem, yang setidaknya merupakan perjalanan selama 3 hari sejauh lebih dari 60 mil. Nazaret terletak di Galilea, di sebelah utara Yudea. Sebagaimana dikatakan oleh Lukas kepada kita, perjalanan ke Betlehem itu "naik" ("Dan Yusuf pun naik dari Galilea," 2:4 MILT) karena Betlehem ada di perbukitan, hanya 6 mil di sebelah selatan Yerusalem, 100 kaki lebih tinggi, di ketinggian 2.704 kaki. Perjalanan tersebut tidaklah mudah, khususnya bagi seorang perempuan yang sedang mengandung, dan tidak juga menyenangkan, karena sensus tidak diragukan lagi merupakan pendahuluan dari pajak, dan Maria dan Yusuf akan berada sangat jauh dari teman dan sanak keluarga[29] jika bayinya lahir selagi mereka berada di Betlehem.

Sebagian besar penggambaran yang menjadi bagian dari tradisi Natal dan gua Natal diperoleh dari upaya kita untuk "mengisi ruang yang kosong" dalam catatan Lukas. Kita diberi tahu bahwa tidak terdapat ruangan di "penginapan"[30], yang menyebabkan Bayi Yesus dibungkus dengan lampin atau kain tua dan dibaringkan di palungan sebagai ganti tempat tidur bayi. Kita tidak tahu bahwa Yesus dilahirkan di dalam kandang, atau di dalam gua. Palungan itu bisa saja dipinjam, jadi bisa saja Bayi Yesus tidak dilahirkan di bawah terang bintang. Maria mungkin lebih memilih privasi. Palungan dapat memberikan tempat yang lembut untuk sang bayi untuk tidur dan kain yang digunakan untuk membungkus bayi itu akan menjaganya tetap hangat, khususnya jika keluarga kudus tersebut sedang "berkemah" di tempat terbuka.

Pengumuman Para Malaikat dan Kunjungan Tengah Malam oleh Para Gembala (2:8-20)

Sejauh ini sebagaimana diceritakan oleh Lukas, sulit untuk melihat tangan Allah di tengah peristiwa-peristiwa ini. Maria dan Yusuf hanya tampak seperti pasangan yang terpaksa melakukan perjalanan yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan menuju Betlehem, dan di sanalah, tragisnya, Maria melahirkan dalam keadaan yang paling menyedihkan. Kalau kesimpulan kita harus ditarik pada titik ini, kemungkinan itu akan kedengaran seperti, "Betapa sedihnya!" "Betapa memilukan!" "Sungguh tidak layak untuk Mesias Israel, Raja orang Yahudi!"

Pernyataan deskriptif kunci dari Lukas dalam ayat 7 sekarang diambil, dan kepentingan rohaninya ditunjukkan dalam ayat-ayat setelahnya. Maria dan Yusuf hanya "kebetulan" berada di dekat padang tempat beberapa gembala sedang menggembalakan kawanan domba mereka. Kemungkinan, sebagaimana diduga oleh beberapa orang[31], kawanan domba ini adalah binatang yang diternak untuk dipersembahkan sebagai kurban di Yerusalem. Gembala-gembala ini mungkin juga dipandang rendah oleh orang-orang sebangsa mereka. Seperti yang dapat Anda ingat, gembala adalah "kekejian" bagi orang Mesir (Kej. 43:32; 46:34); mereka juga hampir tidak pernah dipedulikan oleh saudara-saudara mereka sendiri. Geldenhuys mengingatkan kita bahwa,

"Para gembala adalah orang-orang yang dipandang hina. Mereka dianggap tidak terlalu berhati-hati membedakan antara 'milikku' dan 'miliknya"; untuk alasan ini juga, mereka dilarang memberikan bukti di pengadilan" (Strack-Billerbeck, in loc.).[32]

Terlepas dari reputasi mereka yang menyedihkan sebagai salah satu kelas sosial, gembala-gembala ini tampaknya adalah orang-orang saleh, orang-orang yang menantikan kedatangan Mesias Israel. Setiap orang yang secara langsung diberi kabar tentang kelahiran Mesias dalam Matius dan Lukas dijelaskan sebagai orang saleh, maka tampaknya itu berlaku juga untuk para gembala ini. Lagi pula, kabar tentang kedatangan-Nya tidak akan menjadi "kabar baik tentang sukacita besar" (ay. 10) kecuali orang yang menerimanya sedang menantikan Dia. Tergesa-gesanya para gembala ini pergi ke tempat kelahiran Kristus (ay. 15-16) juga membuktikan kesiapan rohani dan antusiasme mereka terhadap kedatangan Mesias. Ini kontras dengan respons orang-orang Yerusalem terhadap kabar tentang kelahiran Mesias, sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Suci dan diumumkan oleh para majus:

Sekarang, setelah Yesus lahir di Betlehem, di Yudea, pada zaman Raja Herodes, lihat, orang-orang Majus dari timur datang ke Yerusalem. Mereka bertanya, "Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang dilahirkan itu? Sebab, kami telah melihat bintang-Nya di timur dan kami datang untuk menyembah-Nya." Ketika Raja Herodes mendengar hal ini, gelisahlah dia dan seluruh Yerusalem bersamanya. (Mat. 2:1-3)

Bagi para gembala yang rendah hati ini, malaikat Allah menampakkan diri dalam pancaran kemuliaan, yang menyebabkan mereka menjadi sangat ketakutan. Malaikat meyakinkan mereka bahwa dia membawa kabar baik untuk mereka, dan memberi tahu mereka tentang kelahiran Mesias.[33] Inilah yang menjadi sumber "sukacita besar" untuk seluruh bangsa. Saya kira yang dimaksud dengan malaikat itu adalah segala kaum, segala bangsa, dan bukan hanya Israel, yang akan mendapat kebaikan dari kelahiran-Nya. Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sekumpulan besar tentara surgawi yang menyanyikan nyanyian kedamaian.[34] Ini adalah konfirmasi ilahi terhadap pengumuman malaikat tersebut.

Malaikat itu menjanjikan suatu tanda kepada para gembala. Tandanya adalah bahwa mereka akan menemukan Bayi yang dibungkus dengan kain lampin dan berbaring di dalam palungan (ay. 12). Tanda itu tidak dimaksudkan untuk meyakinkan para gembala tentang kebenaran dari pengumuman malaikat itu. Tentunya kemegahan malaikat tersebut, ditambah dengan kemegahan tentara surgawi tersebut, cukup meyakinkan. Saya percaya bahwa "tanda" ini dimaksudkan untuk identifikasi. Dari catatan Matius tentang pembantaian di Betlehem (Mat. 2:16-18), tampaknya ada sejumlah bayi di Betlehem pada waktu itu. Cara mereka dapat mengenali bahwa itu adalah Mesias Allah adalah melalui pakaian lampin dan "tempat tidur bayi"-Nya. Tidak akan ada bayi lain yang ditemukan dalam latar demikian.

Maka dari itu, dua faktor yang paling menyedihkan dari kelahiran Tuhan kita, "pakaian lampin" dan "palungan"-Nya, terbukti menjadi hal yang membedakan Bayi ini dari yang lainnya, dan yang mengidentifikasi-Nya bagi para gembala. Namun, kedua hal itu lebih penting daripada itu; keduanya juga mengidentifikasi Sang Mesias dengan para gembala. Salah satu nama Mesias adalah "Imanuel", yang berarti 'Allah beserta kita'. Keadaan-keadaan kelahiran Tuhan kita secara unik mengidentifikasikan Tuhan Yesus dengan para gembala. Tuhan tampaknya tidak memiliki atap di atas kepala-Nya, tidak memiliki rumah untuk tinggal. Demikian pula para gembala, yang -- sebagaimana diberitahukan kepada kita -- tidur di bawah bintang sambil menjaga kawanan domba mereka (ay. 8). Yesus miskin dan tidak memiliki reputasi, demikian pula mereka. Dan, Yesus, yang dimaksudkan menjadi "Anak Domba Allah" untuk dipersembahkan sebagai kurban (bd. Yes. 53:4-6; Yoh. 1:29) dan "Gembala yang Baik" (bd. Mzm. 23:1; Yeh. 34:23; Yoh. 10:14), mengidentifikasikan diri dengan para gembala ini dengan berbaring di palungan. Apakah para gembala dianggap tidak bersih karena kontak mereka dengan binatang? Begitu pula Dia. Betapa ini merupakan gambaran hebat tentang penghinaan Tuhan kita dan identifikasi-Nya dengan manusia, bahkan yang paling hina dari manusia, golongan yang ditolak dan dihina.

Dengan antusias dan dengan tergesa-gesa (ay. 15-16), para gembala pergi ke Betlehem, tempat mereka "menemukan Maria dan Yusuf, serta Bayi yang terbaring di palungan." Saya kira penting untuk menyadari bahwa malaikat mengumumkan kelahiran dan lokasi Mesias bukan hanya agar para gembala dapat menyaksikan peristiwa bersejarah ini, dan untuk menyembah Raja mereka, tetapi juga supaya mereka dapat memberitahukan kepada lebih banyak orang -- menjadi saksi -- tentang kelahiran Sang Mesias.

Pertama-tama, bayangkan dampak dari kedatangan para gembala dan pengumuman tersebut kepada Maria dan Yusuf. Memang benar, mereka berdua diberi tahu bahwa Anak itu, yang dikandung dalam rahim Maria secara ajaib, adalah Sang Mesias, Juru Selamat yang dijanjikan. Namun, perlu waktu bertahun-tahun agar hal ini dapat dipahami, seperti halnya perlu waktu bertahun-tahun bagi para murid untuk memahami siapa Yesus sebenarnya. Mereka terus bertanya-tanya dan takjub dengan hal-hal yang Yesus katakan dan lakukan, tetapi tidak menyusunnya bersama-sama sampai kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya, dan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan (bd. Yoh. 16:12). Jadi, Maria dan Yusuf pasti sangat terkejut dengan kedatangan para gembala dan oleh kesaksian yang mereka bagikan tentang pengumuman dan paduan suara malaikat. Meskipun semua yang mendengar laporan ini mungkin bertanya-tanya, Maria, dengan cara khusus, "menyimpan hal itu dan merenungkannya dalam hatinya." Dalam istilah komputer, pusat data informasinya terus bertambah ukurannya dan dia dengan gigih memproses bahan-bahan ini, berikut makna dan implikasinya. Secara pribadi, saya merasa bahwa kedatangan para gembala inilah yang pada akhirnya membawa segala keadaan yang tidak menyenangkan dari kelahiran Yesus ke dalam terang rohaninya yang sejati. Apa yang tadinya tampak seperti sederet peristiwa yang menyedihkan, sekarang terungkap sebagai tangan Allah yang bekerja dalam sejarah untuk melaksanakan kehendak Allah.

Kesaksian para gembala juga berdampak besar pada orang-orang di wilayah tersebut yang sedang menantikan Mesias Allah. Lukas memberitahu kita bahwa para gembala "menemukan" Maria, Yusuf, dan Bayi itu, tetapi bagaimana itu bisa terjadi? Kita tidak tahu secara tepat, tetapi setidaknya saya bisa membayangkan bahwa kemungkinan itu terjadi sedemikian rupa supaya kedatangan Sang Mesias diketahui oleh banyak orang.

Bagi saya, pencarian para gembala terhadap Bayi Mesias di Betlehem itu seperti perburuan. "Petunjuk" yang diberikan kepada mereka adalah (1) bahwa ada bayi yang baru lahir; (2) bahwa bayi itu laki-laki; dan (3) bahwa bayi itu akan ditemukan di dalam palungan, dibungkus dengan kain lampin. Saya dapat membayangkan para gembala itu, bertemu di kota Betlehem, pada tengah malam (ay. 8, 15-16), mengetuk pintu dari rumah ke rumah, mencari bayi yang memenuhi deskripsi tersebut. Jika ada orang yang melihat ke arah kota dari kejauhan bisa melihat seluruh kota menyala secara bertahap, ramai dengan kabar yang dibawa oleh para gembala. Dari setiap rumah tempat bayi itu tidak ditemukan, kemungkinan ada orang lain yang kemudian ikut mencari. Barangkali seluruh kota terbangun dan ikut serta dalam pencarian sebelum bayi itu ditemukan. Semuanya ini terjadi agar kabar tentang kedatangan Bayi Kristus diketahui serta untuk menciptakan suasana pengharapan dan rasa ingin tahu. Di beberapa rumah, setidaknya, mungkin ada permintaan agar mereka kembali untuk memberi kabar tentang di mana Sang Mesias berhasil ditemukan.

Setelah para gembala menemukan bayi itu dan menceritakan kepada Maria dan Yusuf tentang apa yang telah terjadi, kemungkinan mereka menyusuri jalan mereka kembali melewati Kota Betlehem, memberitahukan kepada orang-orang tentang apa yang sudah mereka lihat. Karena itu, Lukas memberitahu kita bahwa "semua orang yang mendengar hal itu heran atas hal-hal yang dikatakan para gembala kepada mereka" (ay. 18). Para gembala ini, yang merupakan bagian dari kelas sosial yang dilarang untuk memberikan kesaksian di pengadilan, adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi saksi atas kelahiran Anak-Nya. Mengapa? Menurut saya, karena Allah selalu memilih "yang lemah dan yang bodoh" dari dunia ini untuk mengacaukan hikmat orang bijak, dan karena pada akhirnya, yang penting bukanlah pembawa pesannya, melainkan pesan itu sendiri. Jika Yesus datang untuk membawa keselamatan dan pembebasan bagi orang yang miskin, yang tertindas, dan yang dianggap hina dari dunia ini, mengapa tidak mengumumkannya melalui mereka yang dianggap hina dan ditolak? Rasul-rasul Tuhan kita juga merupakan orang-orang semacam itu (bd. Kis. 4:13).

Kesimpulan

Terdapat empat pelajaran yang ingin saya garis bawahi di sini, yang saya yakin diajarkan oleh teks kita. Mari dengan penuh doa kita renungkan apa yang hendak Allah katakan kepada kita melalui bagian ini.

(1) Kedaulatan Allah dalam sejarah. Lukas adalah seorang sejarawan, dan catatan sejarahnya tentang kelahiran Kristus tentu berusaha menunjukkan kedaulatan Allah dalam sejarah. Dalam tujuh ayat pertama dalam teks ini, segala sesuatu dipandang semata-mata melalui kacamata "sekuler". Seorang penguasa pagan mengeluarkan titah, dan orang Israel tunduk kepadanya dengan mendaftarkan diri di kota tempat kelahiran mereka. Dalam prosesnya, seorang perempuan yang sedang mengandung terpaksa melakukan perjalanan panjang bersama suaminya, dan melahirkan putra jauh dari rumah dan tanpa kenyamanan sebuah rumah.

Lukas kemudian menarik tabirnya, menunjukkan kepada kita bahwa semua peristiwa yang tampak menyedihkan ini terjadi supaya Mesias Allah dilahirkan di daerah yang dekat dengan beberapa gembala, dan dalam kondisi yang memisahkan-Nya dari semua bayi lain di Betlehem. Gembala-gembala ini dituntun menuju Sang Mesias oleh seorang malaikat yang telah ditunjuk oleh Allah dan suatu paduan suara malaikat, supaya mereka dapat membangun dan menguatkan Maria dan Yusuf serta supaya mereka mengumumkan kelahiran Sang Mesias kepada semua yang tinggal di wilayah tersebut.

Anda dapat memerhatikan bahwa Lukas tidak menyebutkan apa pun secara khusus tentang penggenapan nubuat dari Mikha 5:2 karena penerima catatan ini, Teofilus, adalah seorang non-Yahudi, yang kemungkinan memegang kedudukan tinggi secara politik. Meski Teofilus kemungkinan tidak terlalu tertarik dengan aspek penggenapan nubuat dari catatan kelahiran yang dibuat oleh Lukas, dia akan sangat terkesan untuk mengetahui bahwa Allah itu berdaulat, dan karenanya mampu melaksanakan tujuan-Nya dan memenuhi janji-Nya melalui kuasa-kuasa pagan, bahkan kuasa politik terbesar pada masa itu -- Kaisar. Teofilus akan sangat terkesan dengan fakta inni, yang dengan sangat hati-hati diungkapkan oleh Lukas.

(2) Lukas memberi kita pelajaran tentang penyampaian Injil. Di sini, Lukas sedang menulis catatan Injil, dan dengan melakukannya dengan sangat baik, dia memberi kita beberapa pelajaran tentang menyampaikan Injil kepada sesama. Lukas melewatkan kesempatan untuk menyoroti penggenapan Mikha 5:2 karena hal itu tidak akan berdampak bagi penerima catatannya yang adalah seorang non-Yahudi sebesar dampak yang mungkin akan dialami oleh seorang Yahudi. Lukas menekankan kedaulatan Allah atas sejarah dan atas seorang raja kafir, yang pastinya berdampak besar bagi Teofilus. Dalam apa yang telah dan tidak dia lakukan, Lukas mengajar kita bahwa kita tidak boleh mengubah Injil, tetapi kita perlu berhati-hati memilih untuk berfokus pada detail-detail Injil yang akan berdampak paling besar bagi pendengar kita. Dengan demikian, kebutuhan akan lebih dari satu Injil sekali lagi menjadi tampak.

(3) Catatan Lukas tentang kelahiran Kristus mengingatkan kita tentang prinsip proporsi. Kita sudah menunjukkan bahwa hanya Lukas yang mencatat detail-detail dari kelahiran Tuhan kita. Hanya satu dari empat Injil yang menjelaskan tentang kelahiran Kristus, sementara keempat Injil tersebut mencatat tentang kematian-Nya. Untuk menekan poin ini lebih jauh, hanya ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi seputar kelahiran Kristus sementara pasal-pasal lain dalam setiap Injil dipersembahkan untuk mencatat penangkapan, pengadilan, penyaliban, penguburan, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan kita. Prinsip proporsi mengajar kita bahwa banyak waktu dan ruang dipersembahkan untuk apa yang paling penting, sementara sedikit waktu dan ruang diberikan untuk hal-hal yang tingkat kepentingannya lebih rendah. Berdasarkan prinsip sederhana ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kematian Kristus lebih penting bagi para penulis Injil daripada kelahiran-Nya. Mengapa demikian? Karena kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus itulah yang menyelamatkan kita, bukan masa kecil Kristus. Memang, Kristus harus menjelma menjadi manusia sebelum Dia dapat mengungkapkan Allah kepada manusia dan menyelamatkan mereka, tetapi karya penebusan-Nya di atas salib di Kalvari itulah yang menyelamatkan kita.

Lantas, mengapa cerita Natal begitu penting bagi banyak orang pada masa kini, bahkan mereka yang tidak percaya kepada Kristus untuk mendapatkan keselamatan? Karena, yang saya takutkan, bayi di dalam palungan itu jauh lebih tidak mengancam daripada Kristus dalam catatan-catatan Injil selanjutnya, yang menafsirkan dan menerapkan Hukum Taurat, yang menghukum dosa, dan yang berbicara tentang iman dalam darah-Nya. Bayi di dalam palungan itu manis dan lucu, dan "dapat dikendalikan". Bayi di dalam palungan itu seperti "Allah di dalam kotak", Allah yang kepada-Nya kita merasa nyaman menghampiri-Nya, memikirkan-Nya, bahkan menyembah-Nya. Namun, Kristus yang disalibkan bukanlah gambaran yang indah, Dia bukanlah sosok yang kepada-Nya kita tertarik, yang menimbulkan perasaan hangat dalam diri kita. Banyak orang telah menyanjung, terlalu menyanjung, bayi di dalam palungan karena inilah "allah" yang ingin mereka layani, "allah" yang lemah, yang tidak berdaya, yang memerlukan kita, bukan Allah yang berdaulat, yang menuntut ketaatan kita, penyembahan kita, dan segalanya yang kita punya.

Kawan, Allah seperti apakah yang Anda layani? Kristus seperti apakah yang Anda sembah? Menyembah "bayi di dalam palungan" tidaklah cukup, sebab ini hanyalah cara-Nya untuk datang ke dalam dunia. Seperti apa Dia untuk kekekalan adalah cara-Nya yang dijelaskan oleh Yohanes dalam Kitab Wahyu:

"Dari Yohanes, kepada ketujuh jemaat yang ada di Asia. Anugerah dan damai sejahtera untukmu dari Dia Yang Ada, Yang sudah Ada, dan Yang akan Datang; serta dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Kristus Yesus, Saksi yang setia, yang pertama kali bangkit dari antara orang mati dan Penguasa atas raja-raja di bumi. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa-dosa kita dengan darah-Nya, dan telah menjadikan kita menjadi satu kerajaan, imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kekuasaan sampai selama-lamanya! Amin. Lihatlah, Yesus datang dengan awan-awan, dan setiap mata akan melihat Dia, bahkan mereka yang sudah menusuk-Nya; dan semua bangsa di bumi akan meratap karena Dia. Ya, ini akan terjadi! Amin." (Why. 1:4-7, AYT)

Mari kita belajar dari Maria dan Yusuf bahwa penderitaan-penderitaan dalam hidup yang tampak "sekuler" itu sering kali adalah alat di tangan Allah, yang waktu atau kekekalan itulah yang akan menjadikannya jelas bagi kita.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Menurut Kitab Wahyu dan nubuat dalam Alkitab, Yesus yang datang pertama kali sebagai seorang bayi akan datang kembali sebagai pembalas dan sebagai hakim yang adil untuk menghukum orang jahat dan memberkati orang benar. Yesus ini mungkin bukan Yesus yang ingin Anda bayangkan atau layani, tetapi ini adalah Yesus yang sama yang datang ke Betlehem. Kedatangan-Nya yang kedua akan jauh berbeda dari kedatangan-Nya yang pertama. Dahulu, Dia datang untuk merendahkan diri-Nya, untuk mati di atas salib, dan untuk menyelamatkan. Nanti, Dia akan datang untuk menghakimi. Siapkah Anda untuk bertemu dengan Yesus ini, untuk berlutut di hadapan-Nya dengan menyembah? Inilah Yesus yang di dalam palungan. Inilah Raja yang akan datang. Saya mendesak Anda untuk menerima Kristus sebagaimana Dia datang untuk yang pertama kali sebagai Juru Selamat Anda, kemudian menantikan Dia dengan antusias untuk datang untuk yang kedua kali untuk menjadikan segala sesuatu benar, untuk mendirikan Kerajaan-Nya di bumi, dan untuk memerintah atas segala ciptaan. Mari kita belajar dari catatan Lukas bahwa bayi di dalam palungan adalah Juru Selamat dunia, yang harus kita terima sebagai Juru Selamat kita.

(4) Akhirnya, kita belajar bahwa tujuan Allah sering kali dilaksanakan melalui penderitaan, dan bahwa tujuan Allah dalam penderitaan kita sering kali tidaklah tampak jelas. Segala penderitaan, kesusahan, dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh titah Kaisar tidak dapat langsung dikenali sebagai tangan berdaulat Allah yang penuh kasih, yang sedang melaksanakan tujuan-Nya dalam cara yang sedemikian rupa demi kebaikan mereka yang menderita. Mari kita belajar dari Maria dan Yusuf bahwa penderitaan-penderitaan dalam hidup yang tampak "sekuler" itu sering kali adalah alat di tangan Allah, yang waktu atau kekekalan itulah yang akan menjadikannya jelas bagi kita.

----------

[25] Kesederhanaan dan keringkasan catatan ini dapat dilihat sebagai kesaksian terhadap inspirasi dan asal ilahinya, sebab catatan semacam ini normalnya penuh hiasan.

"Cerita ini unggul karena kesederhanaannya yang tidak dibuat-buat. Di dalamnya, kita terus mendengar suara kebenaran yang seadanya dan historis. Itu seperti adegan yang menawan. Namun, meski ia dapat mengklaim keindahan puitis, tetapi ia bukanlah sekadar hasil imajinasi puitis atau pembentukan legenda. Ketenangan yang disimpannya membentuk kontras tajam terhadap versi-versi apokrifa dan legenda dari situasi-situasi yang digambarkannya di kemudian hari." Norval Geldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, The New International Commentary on the New Testament Series (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1975 [reprint]), hlm. 110.

"'Asosiasi yang begitu luar biasa telah menempel selama berabad-abad pada ayat-ayat ini sehingga sulit menyadari betapa telanjangnya ayat-ayat ini dari berbagai ornamen. Kita wajib membacanya lagi dan lagi untuk memastikan kepada diri kita sendiri bahwa mereka memang menyatakan apa yang kita sebut mukjizat besar di dalam dunia. Jika, di sisi lain, sang Evangelis dirasuki oleh pengakuan bahwa dia tidak mencatat suatu keajaiban yang telah menginterupsi alur sejarah dan mengacaukan tatanan kehidupan manusia, melainkan menceritakan tentang tindakan ilahi yang menjelaskan arus sejarah dan memulihkan tatanan kehidupan manusia, seseorang bisa benar-benar memperhitungkan ketenangan yang dia miliki' (F. D. Maurice, Lectures on S. Luke, hlm. 28, ed. 1879)." Sebagaimana dikutip oleh Alfred Plummer, The Gospel According to S. Luke, The International Critical Commentary Series, (Edinburgh: T. & T. Clark, 1969), hlm. 46, fn. 1.

"... keadaannya menunjukkan bukti tidak langsung yang paling kuat terhadap kebenaran dalam narasi ini. Sebab, jika ia merupakan hasil dari imajinasi Yahudi, di manakah dasar untuknya dalam ekspektasi kontemporer? Akankah legenda Yahudi menyajikan Mesiasnya sendiri dengan dilahirkan di dalam kandang, yang ke dalam situasi semacam itulah peluang telah membuang ibu-Nya? Seluruh pendapat Yahudi akan berlawanan dengan hal tersebut. Lawan dari keautentikan narasi ini pasti akan menghadapi hal ini. Lebih jauh lagi, dapat ditegaskan bahwa tidak ada narasi apokrifa atau legenda terhadap peristiwa (legendaris) semacam itu yang akan dikarakterisasi dengan sedikitnya, bahkan tidak adanya, detail. Sebab, dua fitur dasar, yang biasa terdapat dalam legenda atau tradisi, adalah bahwa mereka akan berusaha melingkari tokoh utama mereka dengan kemuliaan, dan bahwa mereka akan berusaha memberikan detail, yang jika sebaliknya akan kurang. Dan, dalam keduanya, hal-hal ini menghargai kontras lebih tajam yang jarang disajikan daripada dalam narasi Injil." Alfred Edersheim, The Life and Times of Jesus the Messiah (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., [reprint], 1965), I, hlm. 186.

[26] Terdapat sejumlah kesulitan yang dapat ditangani seseorang dalam bagian ini, tetapi tidak penting untuk studi kita. Pertama, tidak ada catatan tentang hukum oleh Augustus yang menuntut diselenggarakannya sensus. Kedua, meski kita memiliki catatan lengkap bahwa Kirenius melaksanakan sensus pada 6 M (Kis. 5:37), tidak ada satu catatan pun tentang sensus yang pernah dilakukan sebelumnya. Geldenhuys, hlm. 104-106, memiliki deskripsi komprehensif tentang permasalahan yang ditemukan dalam teks kita, dan beberapa penjelasan yang dimungkinkan. Bandingkan juga dengan Leon Morris, The Gospel According To St. Luke, The Tyndale Bible Commentary Series, R.V.G. Tasker, General Editor (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1974), hlm. 81, 82.

[27] Bd. Geldenhuys di atas, catatan kaki 1.

[28] Edersheim menulis: "Hanya dua kesan yang tertinggal dalam benak: kesederhanaan yang sangat duniawi, dalam situasi yang mengitarinya; dan kebugaran batin, dalam kontras yang dikesankannya." Edersheim, I, hlm. 185-186.

[29] Morris mengingatkan kita bahwa Maria dan Yusuf mungkin telah menemukan bahwa keperluan untuk pergi ke Betlehem sebagai peluang yang diharapkan untuk meninggalkan Nazaret, sebab tidak seorang pun di sana akan percaya bahwa kehamilan Maria itu ajaib:

"Barangkali kita perlu merenungkan bahwa kombinasi dari titah kaisar dari Roma yang jauh dan lidah-lidah bergosip di Nazaret itulah yang membawa Maria ke Betlehem persis pada waktunya untuk menggenapi nubuat tentang tempat kelahiran Kristus (Mi. 5:2). Allah bekerja melalui berbagai jenis orang untuk melaksanakan tujuan-Nya." Morris, hlm. 84.

[30] "Kata Yunani [yang diterjemahkan menjadi 'penginapan'] memiliki penerapan yang sangat luas ... Dalam LX, kataluma memiliki padanan tidak kurang dari lima kata dalam bahasa Ibrani yang memiliki arti yang jauh berbeda. Dalam LXX, terjemahan Ex. iv. 24 it ... pastinya tidak mungkin berarti kamar tamu, melainkan penginapan. Tidak seorang pun membayangkan bahwa, seandainya keramahan pribadi telah diberikan kepada sang Bunda Perawan, dia terpaksa mengalami situasi yang demikian di suatu kandang. Istilah yang sama muncul dalam bentuk Aram ... Delitzsch, dalam Hebrew N. T. karyanya, menggunakan bentuk yang lebih awam .... tempat jual-beli dan pasar juga terdapat di penginapan-penginapan tersebut; binatang disembelih, dan daging dijual di sana; juga anggur dan cuka apel; jadi itu adalah tempat penginapan yang lebih publik daripada yang awalnya dibayangkan." Edersheim, Life and Times, I, hlm. 185, fn. 1.

[31] "Bukan tidak mungkin jika para gembala sedang menggembalakan kawanan domba yang ditakdirkan menjadi kurban persembahan di Bait Allah. Kawanan domba seharusnya hanya digembalakan di padang belantara (Mishnah, Baba Kamma 7:7; Talmud, Baba Kamma 79b-80a), dan peraturan rabinik 1 menyatakan bahwa binatang apa pun yang ditemukan di antara Yerusalem dan suatu titik di dekat Betlehem harus dianggap sebagai korban untuk persembahan (Mishnah, Shekalim 7:4). Peraturan yang sama berbicara tentang menemukan persembahan Paskah dalam waktu 30 hari perayaan tersebut, mis. dalam Februari. Karena kawanan domba mungkin berada di padang pada musim dingin, tanggal tradisional untuk kelahiran Yesus, 25 Desember, tidak dikecualikan. Lukas, tentu saja tidak mengatakan apa pun tentang tanggal pastinya dan tanggal tersebut tetap tidak diketahui. Sebagai suatu kelas sosial, gembala memiliki reputasi buruk. Sifat panggilan mereka membuat mereka tidak dapat mengamati hukum-hukum adat yang begitu berarti bagi orang-orang yang religius. Yang lebih disayangkan lagi adalah kebiasaan mereka yang sering kebingungan dengan 'milikku' dan 'miliknya' saat mereka berpindah-pindah di dalam negeri. Mereka dianggap tidak dapat dipercaya dan tidak diizinkan memberikan kesaksian dalam pengadilan (SB). Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa para gembala yang diceritakan oleh Lukas bukanlah orang yang saleh ..." Morris, hlm. 84.

[32] Geldenhuys, hlm. 115, fn. 1.

[33] Studi kita tidak mengizinkan kita menggali lebih dalam tentang istilah dan frasa yang digunakan oleh malaikat, tetapi berikut ini beberapa komentar pilihan:

Juru Selamat: "... Gelar yang digunakan untuk mengacu kepada Yesus hanya dalam Injil Sinoptik; ditemukan sekali dalam Injil Yohanes." Morris, hlm. 85

Kristus Tuhan: "Ini merupakan terjemahan dari ungkapan dalam bahasa Yunani yang tidak ditemukan di tempat lain dalam Perjanjian Baru dan berarti, secara harfiah, 'Kristus Tuhan'." Barangkali kita perlu memahaminya sebagai 'Kristus dan Tuhan' (bd. Kis. 2:36; 2Kor. 4:5; Flp. 2:11). Istilah Kristus merupakan bahasa Yunani yang berarti 'Yang Diurapi' seperti halnya 'Mesias' adalah transliterasi yang kita gunakan dari istilah bahasa Ibrani dengan makna yang sama. Pengurapan merupakan pelayanan khusus untuk imam atau raja. Namun, orang Yahudi berharap bahwa suatu hari, Allah akan mengutus seorang pembebas yang sangat istimewa. Dia tidak hanya akan menjadi "seseorang" yang diurapi, melainkan "Dia" yang diurapi, yaitu Sang Mesias. Inilah yang diberitakan oleh para malaikat. Kata Tuhan digunakan dalam Septuaginta untuk mengacu kepada Allah (kata itu juga digunakan dengan cara lain, tetapi itu merupakan terjemahan dari nama Yahweh). Dengan demikian, Kristus Tuhan menjelaskan tentang Anak itu dengan istilah tertinggi yang dimungkinkan." Morris, hlm. 85.

Di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya: "Terdapat masalah teks dan terjemahan dalam ungkapan yang diterjemahkan menjadi di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya (secara lebih harfiah, 'di antara orang-orang yang menyenangkan hati-Nya'. Namun, terjemahan RSV lebih tepat daripada 'damai, berbaik hati kepada manusia', pembacaan yang didukung oleh banyak manuskrip yang datang belakangan. Para malaikat sedang mengatakan bahwa Allah akan membawa damai 'bagi orang-orang yang memiliki perkenanan-Nya' (NEB). Terdapat penekanan pada Allah, bukan manusia. Orang-orang yang dipilih Allah, bukan yang memilih Allah, itulah yang dibicarakan oleh para malaikat." Morris, hlm. 85-86.

Damai sejahtera di bumi: "... Di dunia Mediterania, ulang tahun seorang penguasa terkadang dirayakan dengan pernyataan akan manfaat dari kelahirannya. Sebuah prasasti ditemukan di Priene, merayakan ulang tahun Augustus pada 9 SM, yang sebagian terbaca,

Penyediaan ... telah membawa Augustus ke dalam dunia ini dan memenuhi dia dengan jiwa pahlawan demi kebaikan umat manusia. Seorang Juru Selamat bagi kita dan keturunan kita, dia akan mengadakan perang untuk menghentikan dan mengatur segala sesuatunya dengan baik. Pencerahan Kaisar telah membawa penggenapan bagi harapan dan mimpi lama. (F. Danker, Jesus and the New Age, hlm. 24)

Di sini, Augustus menggenapi harapan kuno dan membawa damai. Manfaat-manfaat ini dinyatakan pada peringatan hari ulang tahunnya." Talbert, hlm. 32.

"Maka, damai menjadi harapan eskatologis (Zak. 9:9-10) dan figur mesianik menjadi raja damai (Yes. 9:6)." Talbert, hlm. 32.

[34] "Sebelumnya, hanya sekali perkataan himne para malaikat terdengar ke telinga manusia saat, dalam penglihatan Yesaya, bait tinggi surgawi terbuka dan kemuliaan Yehova menyapu pelatarannya, hampir meruntuhkan pilar-pilar yang bergetar yang menyangga gerbang batasnya. Sekarang, kemuliaan yang sama membungkus para gembala di padang Betlehem." Edersheim, I, hlm. 188.

"... Dalam literatur Alkitab, paduan suara surgawi terkadang merayakan peristiwa yang akan datang seolah itu telah menjadi fakta (mis. Why. 5:9-10; 11:17-18; 18:2-3; 19:1-2, 6-8); nyanyian mereka menyatakan manfaat yang pasti akan menyusul: 2:13-14 menggunakan paduan suara surgawi semacam itu." Talbert, hlm. 32.

(t/Odysius)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Bible.org
Alamat situs: https://bible.org/seriespage/4-birth-messiah-luke-21-20
Judul asli artikel: The Birth of the Messiah (Luke 2:1-20) Penulis artikel: Bob Deffinbaugh