Bahan Terbaru

KARTU NATAL PERTAMA

Ditulis oleh: Lidya

Di sebuah perumahan yang asri dan tenang, di kawasan Jakarta Selatan, tinggallah salah satu keluarga harmonis. Keluarga Markus, namanya. Keluarga ini memiliki salah seorang anak laki-laki yang dikenal manja, sombong dan keras kepala bernama Jonathan, namun biasa dipanggil Jo. Jonathan tidak terbiasa melakukan segala hal sendirian, pasti dia selalu ditemani orangtua atau bibinya (asisten rumah tangga).

Mariska dan Petra, nama orangtua Jonathan. Mereka bekerja sebagai pegawai kantoran. Selain sibuk bekerja sebagai pegawai, Pak Petra juga merupakan seorang pelayan di gereja. Pada saat keduanya sibuk, Jonathan akan diurus si bibi, begitu pun sebaliknya.

Minggu siang yang cerah, Jonathan pulang bersama papanya dari gereja. Saat itu, papanya baru selesai pelayanan sedangkan Jonathan sendiri baru selesai sekolah minggu. Sepanjang perjalanan menuju rumah dia menceritakan banyak hal kepada papanya, salah satunya mengenai kado Natal.

Gadis Penjual Korek Api

Udara amat dingin pada waktu itu; salju turun, dan hampir cukup gelap, dan malam -- malam terakhir tahun ini. Dalam kedinginan dan kegelapan ini, seorang gadis kecil yang malang menyusuri jalan ini, tanpa kepala, dan dengan kaki telanjang. Ketika dia meninggalkan rumah, dia memakai sandal, itu benar; tetapi apa gunanya itu? Sandal itu sangat besar, yang dulu dipakai ibunya; begitu besar; dan gadis kecil yang malang itu kehilangan sandal tersebut saat dia menyeberang dengan cepat ke seberang jalan, karena dua kereta kuda yang lewat dengan sangat cepat.

Terang Mengalahkan Kegelapan

Oleh: Dita

Nas: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5)

Sering kali kita berasumsi bahwa terang dan gelap memiliki kekuatan yang sama. Jika ada terang maka ada gelap, dan jika ada gelap maka ada terang. Ternyata asumsi itu adalah salah. Jika kita pikirkan lagi, terang tidak berlawanan dengan gelap. Karena terang lebih kuat daripada gelap!

Hatiku Tertuju Pada Yesus

Oleh: Jessica K.

Bacaan: Matius 1:18-25
Nas: Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Matius 1:21)

Kelahiran Pangeran Goerge pada tahun 2013 di rumah sakit St Mary's, London, United Kingdom membawa sukacita luar biasa bagi rakyat Inggris. Berita tentang lahirnya anak pertama dari adipati Cambridge ini tersebar luas dan memberi harapan baru bagi penerus Kerajaan Inggris. Bayi laki-laki ini langsung mengambil hati banyak orang dari seluruh dunia, bahkan tak sedikit orang yang sengaja datang ke kediaman Pangeran William untuk menyambut kedatangan Pangeran George. Saat itu, rakyat Inggris seakan-akan hanya mengarahkan matanya pada satu pandangan.

Apakah yang Kaunantikan?

Natal t’lah tiba! Natal adalah waktu yang paling dinantikan orang Kristen bahkan orang non-Kristen sekalipun. Ada orang yang menanti-nantikan Natal untuk beli baju karena diskon saat Natal besar. Ada yang sibuk mempersiapkan KKR Natal gerejanya karena ini momen penting. Ada yang gembira karena bisa menikmati libur Natal plus tahun baru. Setiap orang memandang Natal dengan kacamata yang berbeda, mereka menantikan sesuatu di hari Natal.

Orang Israel sudah dari zaman dahulu menantikan kedatangan Mesias yang dinubuatkan para nabi. Mereka bukan menantikan diskon atau liburan atau hal duniawi lainnya, mereka menantikan Mesias! Tetapi at the end of the day, mereka kecewa dan menolak Yesus, Sang Mesias yang dinantikan. Apa yang salah dari penantian mereka? Alkitab sebenarnya sudah memberi bocoran mengenai jawaban ini melalui kisah berbagai macam orang yang menantikan Kristus juga, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

Siapakah Anak ini?

Kemiskinan, Bukan sebuah Istana, untuk Raja Terbesar

Sewaktu kecil, saya tidak terkesan dengan sebuah lagu Natal yang menanyakan sesuatu, yang jawabannya sudah diketahui oleh semua orang.

Siapakah Anak ini? Dia adalah Yesus, tentu saja. Kita semua tahu itu – bahkan anak-anak pun tahu akan hal itu.

Yang belum saya mengerti saat itu adalah bahwa sebuah pertanyaan bukan hanya diajukan untuk menyelesaikan masalah dan memberi informasi yang baru. Terkadang pertanyaan menyatakan suatu penegasan. Kita menyebutnya “pertanyaan retoris.” Ada kalanya bentuk sebuah pertanyaan mengungkapkan kekaguman tentang sesuatu yang kita tahu adalah benar, tetapi merasa bahwa itu begitu luar biasa. Itu terlalu sederhana untuk hanya dikatakan langsung seperti kita berkata-kata tentang hal lainnya.

Saat Natal Jauh dari Menyenangkan

Natal telah lama mewakili pertemuan keluarga yang menyenangkan dan berbagi tradisi liburan dari masa ke masa. Iklan televisi, papan reklame di jalan raya, dan bahkan acara hiburan tahunan menggambarkan kebahagiaan sebagai keluarga utuh yang merayakannya dalam kedamaian dan harmoni. Kesedihan memiliki sebuah cara untuk mengocok emosi selama masa ini. Natal, terutama, dapat membawa kesedihan ke permukaan yang tersmpan jauh di dalam hati kita setelah kehilangan yang berarti. Kita memohon kepada Tuhan untuk mempercepat kita dalam melewati hari-hari di bulan Desember. Terlepas dari iman yang dalam, banyak dari kita yang secara emosional terpaku pada bulan November dan Desember, menarik napas lega saat kalender menyambut Januari. Januari memberi kita izin untuk kembali pada kehidupan, lalai terhadap rasa sakit kita, dan kebutuhan mendesak kita akan Pribadi yang lahir untuk menebus hati kita yang memar dan babak belur.

Natal ini "Jangan Takut" Mana yang Anda Butuhkan?

Pada Adven yang pertama, Allah terus berkata, "Jangan takut!" Ini adalah kata yang perlu kita dengar juga pada hari ini.

Zakharia dan Elizabeth diberitahu bahwa setelah berpuluh-puluh tahun menunggu, mereka akhirnya memiliki anak pada masa tua mereka. (Lukas 1:5-25)

Namun, "Jangan takut untuk menjadi kecewa lagi."

Maria adalah seorang wanita muda yang belum menikah yang mengandung Mesias oleh kuasa naungan Allah. (Lukas 1:26-38)

Namun, "Jangan takut memakai 'Scarlet A'(tanda yang dipakai oleh/seseorang/pasangan yang dianggap melakukan perzinahan - Red.) di desamu."

Tunangan Maria, Yusuf adalah orang bermoral tinggi dan sangat dihormati dan sekarang dia terjebak dalam konflik dengan keluarga dan teman-temannya. (Matius 1:18-25)

Malaikat Natal

Saat itu tanggal 23 Desember 1993. Untuk seorang Ibu tunggal yang sedang bersekolah dan mendukung anak sendirian, Natal tampak suram. Aku melihat ke sekeliling rumah kecilku, kesadaran muncul seperti kesakitan yang berputar perlahan. Kami miskin.

Pages