Sang Mesias Lahir

  1. Bacaan Alkitab: Mikha 5:1-4, Titus 2:11-15, dan Lukas 2:1-20

  2. Pendahuluan
  3. Biasanya kalau seorang anak lahir di dalam satu keluarga maka pasti ada suasana yang gembira di dalam keluarga itu. Dan berita gembira itu pasti akan merambat kepada seluruh sanak saudara, bahkan juga teman-teman dekat. Tetapi lain halnya ketika Yesus lahir. Allah memberitahukan para gembala di padang Efrata -- yang bukan sanak keluarga juga bukan handai taulan dari Yusuf dan Maria -- untuk bersukacita bersama mereka (Lukas 2:8-14). Untuk mempersiapkan kedatangan Sang Mesias, Allah memakai banyak orang maupun malaikat.

  4. Isi Khotbah
    1. Allah Memakai Nabi-nabi Perjanjian Lama
    2. Ayat-ayat yang kita baca di dalam kitab Nabi Mikha hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak janji-janji Allah kepada umat-Nya yang menyatakan bahwa Ia akan mengirimkan seorang Juru Selamat. Betapa cermatnya Nabi Mikha menubuatkan tentang tempat di mana Juru Selamat itu akan dilahirkan (Mikha 5:1). Padahal nubuat ini dinubutkan oleh Mikha pada 700 tahun sebelum Yesus lahir.

    3. Allah Memakai Para Gembala
    4. Para gembala yang hidupnya sederhana sudah biasa mengerjakan pekerjaan mereka sendirian di padang penggembalaan. Mereka tidak pernah memikirkan sesuatu yang luar bisa akan terjadi. Tetapi tiba-tiba sesuatu yang sangat ajaib terjadi:

      1. Tiba-tiba muncul seorang malaikat Tuhan di dekat mereka.
      2. Kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka.
      3. Mereka sangat ketakutan.
      4. Malaikat itu memberitakan tentang kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat, dan menjelaskan di mana tempat dan ciri-ciri dari bayi Yesus yang baru lahir itu.
      5. Nampak sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah.

      Semuanya peristiwa ajaib itu membuat para gembala itu tertarik untuk:

    5. Segera datang untuk melihat bayi Yesus. Allah juga tetap berbicara kepada Anda pada hari ini tentang Yesus, Sang Juru Selamat. Apakah Anda juga -- sama seperti para gembala itu -- segera menanggapi berita sukacita itu secara positif? Ataukah Anda mengabaikannya?
    6. Menyebarkan berita sukacita itu (ayat 17). Hal yang sama juga merupakan tanggung jawab kita, untuk menyebarkan/menyampaikan kepada orang lain apa yang telah kita ketahui dan alami tentang Yesus.
    7. Bilamana Yesus datang untuk kedua kalinya nanti, Ia akan datang tanpa kita sangka-sangka, ketika kita mengerjakan pekerjaan kita seperti biasanya. Karena itu, hendaklah kita selalu siap sedia.

    8. Allah Memakai Yusuf dan Maria
    9. Yusuf dan Maria begitu sederhana dan rendah hati. Mereka hidup sebagai rakyat jelata meskipun mereka sesungguhnya adalah keturunan raja (Daud). Tetapi mereka dipakai oleh Allah untuk mempersiapkan Yesus, Sang Juru Selamat dalam misi-Nya untuk menyelamatkan umat manusia, yakni membuat mereka bertobat dari dosa-dosa mereka.

      Apakah kita juga mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi pelayan Allah? Ataukah kita memenuhi kehidupan kita hanya dengan kesibukan yang sia-sia, hanya untuk hal-hal yang sementara di dunia ini saja? Alkitab berkata: "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia." (1 Korintus 15:9)

    10. Allah Mamakai Malaikat
    11. Meskipun Yusuf dan Maria adalah manusia biasa, namun bayi Yesus itu sungguh-sungguh adalah seorang bayi yang manis. Bayi Yesus adalah seorang bayi yang elok dan mungil serta penuh kemuliaan: Ia adalah "Juruselamat, Kristus dan Tuhan." (Lukas 2:11) Itulah sebabnya, Allah memakai para malaikat untuk mengumumkan kelahiran-Nya.

Kesimpulan

Hari Natal adalah kesempatan bagi kita untuk melihat Allah, bersekutu dengan Allah yang Mahakudus, dengan cara menerima Yesus Kristus Sang Bayi Natal sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita secara pribadi. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat menikmati dan merasakan kegembiraan dan sukacita yang telah dialami oleh para gembala 2.000 tahun yang silam.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, Des. 1992
Penulis : SG
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1992
Halaman : 68 -- 70