Saat Natal Jauh dari Menyenangkan

Natal telah lama mewakili pertemuan keluarga yang menyenangkan dan berbagi tradisi liburan dari masa ke masa. Iklan televisi, papan reklame di jalan raya, dan bahkan acara hiburan tahunan menggambarkan kebahagiaan sebagai keluarga utuh yang merayakannya dalam kedamaian dan harmoni. Kesedihan memiliki sebuah cara untuk mengocok emosi selama masa ini. Natal, terutama, dapat membawa kesedihan ke permukaan yang tersmpan jauh di dalam hati kita setelah kehilangan yang berarti. Kita memohon kepada Tuhan untuk mempercepat kita dalam melewati hari-hari di bulan Desember. Terlepas dari iman yang dalam, banyak dari kita yang secara emosional terpaku pada bulan November dan Desember, menarik napas lega saat kalender menyambut Januari. Januari memberi kita izin untuk kembali pada kehidupan, lalai terhadap rasa sakit kita, dan kebutuhan mendesak kita akan Pribadi yang lahir untuk menebus hati kita yang memar dan babak belur. Seiring dengan Natal yang mendekat dengan cepat, marilah kita tidak membiarkan kesedihan mengalihkan perhatian kita dari pemberian kenyamanan dan belas kasih yang diberikan Tuhan dengan melimpah.

Lukas pasal 2, menjelaskan bagaimana kelahiran Yesus, suatu bala tentara surga datang dengan seorang malaikat, memuji Allah dan berkata, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang tertinggi, dan damai di bumi bagi orang-orang yang diperkenan kepada-Nya." Tuhan kita menjanjikan kita kedamaian, bahkan selama musim kesedihan. Selama masa Natal ini, mendekatlah pada perdamaian yang melampaui semua pengertian. Perdamaian batin bukanlah sesuatu yang harus kita kejar. Damai terdapat pada mereka yang diperkenan Tuhan. Perdamaian ada di dalam hati semua orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan. Kita dikaruniai kedamaian meski hati kita merindukan orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia, perkawinan yang telah gagal, atau hubungan yang menjadi jauh. Natal ini, terima dan menetaplah dalam pemberian damai yang diberikan Tuhan kita dengan murah hati.

Bila kita tidak bersama dengan orang-orang terkasih pada hari Natal, mudah untuk tergelincir ke dalam keputusasaan. Media sosial memiliki aliran foto-foto keluarga yang bahagia dan utuh yang tidak pernah berakhir, yang membuat mereka yang berduka merasa lebih jauh dari harapan. Ibrani 6:19 mengingatkan kita, "Pengharapan yang kita miliki ini adalah jangkar bagi jiwa kita, kuat dan pasti, yang menembus masuk sampai ke balik tirai," Harapan kita ada di dalam Tuhan kita yang teguh, aman, dan tidak berubah. Alkitab mengingatkan kita bahwa Tuhan kita adalah Pribadi yang sama kemarin, hari ini, dan selamanya. Sayangnya, orang-orang akan datang dan pergi dalam kehidupan kita. Satu-satunya hubungan yang senantiasa ada mulai dari kelahirann hingga pada kekekalan hanya terjadi dengan Pribadi Bapa Surgawi kita. Saat kesedihan mengganggu hidup kita, jangkar jiwa kita tidak akan pernah goyah. Harapan kita terdapat pada kesetiaan Tuhan. Natal ini, terimalah janji-janji dan rasa percaya kepada Dia yang tidak pernah gagal atau meninggalkan kita.

Karunia yang paling menyejukkan bagi jiwa yang berduka adalah kasih Allah yang tak putus-putusnya. Saat kesedihan menggoda kita dengan perasaan terisolasi, takut, dan kesepian, kebenaran alkitabiah memadamkan kebohongan. Mazmur 119:76 mendorong kita, "Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.." Mazmur 119:50 membentengi iman kita, "Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.." Yesaya 41:10 meyakinkan kita, "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau."

Jika Anda berada dalam masa keputusasaan, carilah harta yang tak ternilai dari Allah, yang dapat ditemukan dalam janji-janji-Nya di seluruh firman-Nya. Karena bayi yang lahir di palungan, kita dapat menerima warisan surgawi sementara kita berada di bumi. Natal mewakili pemberian Allah yang Kudus kepada umatNya - kepada Anda dan saya. Natal ini, percayalah pada pemberian kasih dan belas kasih-Nya. Merenungkan kebaikan dan pengabdian Tuhan kepada umat-Nya memungkinkan kita untuk bersukacita, bahkan di tengah kesedihan, dan merayakan kelahiran Juru Selamat kita. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : The Praying Woman.com
URL : http://theprayingwoman.com/when-christmas-is-far-from-joyful/
Judul asli artikel : When Christmas is Far From Joyful
Penulis artikel : Lanise Shortell
Tanggal akses : 31 Oktober 2016