Misi Kristus dan Perayaan Natal

Ditulis oleh: N. Risanti

Kristus datang untuk mati. Tampaknya pernyataan itu sudah sering kita dengar, tetapi mungkin tidak terlalu meresap ke dalam hati kita. Jika sudah, mungkin kita tidak akan merayakan Natal dalam cara-cara yang sekarang justru mengemuka di gereja-gereja maupun komunitas kristiani. Jika sudah, mungkin kita akan lebih memaknai Natal dengan rasa syukur dan perasaan kasih yang lebih besar kepada Allah. Jika sudah, mungkin kita akan lebih memuliakan Allah dalam tindakan kita daripada sibuk menghias rumah, mencari hadiah, membeli baju atau sepatu baru, atau memikirkan kue apa yang akan kita buat atau beli pada tahun ini.

Dua ribu tahun yang lalu, Kristus datang dengan sepenuhnya menyadari misi-Nya di dalam dunia. Ia datang untuk menolong manusia yang dalam keberdosaannya tidak dapat menolong dirinya sendiri. Ia, yang adalah Allah Pencipta Alam, datang dalam rupa hamba dan sebagai domba yang siap disembelih (Yohanes 1:29) untuk menggenapi janji Allah (Kejadian 3:15). Ia menjadi pesakitan bagi kita meski sesungguhnya kita tidak layak untuk menerima pengorbanan tersebut. Untuk apa Ia melakukannya? Bukankah Allah dapat saja menghukum dan memusnahkan kita semua, lalu menciptakan dunia yang baru dalam skenario tanpa dosa? Atau, bukankah Tuhan hanya perlu melakukan satu perbuatan yang dahsyat untuk diketahui oleh semua umat manusia bahwa Ia adalah Juru Selamat hingga semua orang menjadi percaya dan bertobat? Jawaban untuk itu adalah karena Ia tidak dapat menyangkal hakikat diri-Nya sendiri sebagai Pribadi yang setia, penuh kasih, dan kudus. Hanya melalui salib, kesetiaan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dapat digenapi. Hanya melalui salib, kasih dan keadilan Allah dapat ditegakkan di dalam diri-Nya. Dan, hanya melalui salib, murka Allah terhadap dosa dapat dipuaskan (1 Yohanes 4:10).

Setelah misi Kristus dituntaskan dengan sempurna, kita, sebagai pengikut Kristus, kini mewarisi misi-Nya untuk memberitakan Kabar Kesukaan bagi dunia. Karena itu, alih-alih merayakan Natal dalam kemeriahan, tidakkah lebih baik bila kita merayakan Natal pada tahun ini dengan melakukan berbagai kegiatan yang akan meningkatkan kasih dan keinginan kita untuk berbagi Kristus kepada yang lain? Masih ada banyak orang di luar sana yang membutuhkan kasih Kristus, dan sudah menjadi tugas kita untuk mengabarkan berita Natal dan keselamatan dari Tuhan kepada mereka yang membutuhkannya. Tentu saja, untuk itu, ada harga yang mesti dibayar, dan kesenangan diri mesti dipangkas. Namun, ingatlah bagaimana Ia sudah mengosongkan diri-Nya untuk mengambil posisi kita, yang justru senantiasa ingin mengambil alih tempat Allah dalam hati dan kehidupan kita. Jika Ia saja, yang adalah Allah Semesta Alam, penguasa kehidupan, dan pencipta segala sesuatu, mau merendahkan diri-Nya dan tidak menganggap keilahian-Nya sebagai milik yang harus dipertahankan, lantas siapakah kita sehingga ingin senantiasa mendahulukan harga diri dan kepentingan kita? Siapakah kita, yang selalu saja berusaha untuk mengendalikan hidup kita sendiri dan orang lain? Dan, siapakah kita sehingga tidak mau membalas kasih-Nya dengan memberi yang terbaik untuk-Nya dalam panggilan kita masing-masing?

Selamat Natal. Tuhan Yesus mengasihi kita semua!

Sumber referensi:
1. Piper, John. 2013. "Penderitaan Yesus Kristus. The Passion of Jesus Christ". Surabaya: Penerbit Momentum. Hal. 10 -- 11.
2. Alkitab SABDA. Dalam http://alkitab.sabda.org/