MERASAKAN RASA NATAL DARI-NYA

Ditulis oleh: Santi

Sering kudengar, Natal membawa sukacita.
Sering kulihat, Natal dirayakan dengan meriah.
Sering kubaca, Natal membawa damai.
Sering kuharapkan, Natal mewujudkan semuanya itu dalam hidupku ....

Hampir selalu menyenangkan ketika membahas tentang Natal. Namun, sering kali, saya merasakannya sekejab saja, itu pun sepanjang perayaan Natal berlangsung. Ketika lagu pujian terhenti, khotbah menjadi hening, lampu-lampu padam, kerlip-kerlip bintang hilang, dan orang-orang mulai bepergian, masihkah saya merasakan semua yang dikatakan tentang Natal itu? Ketika semua berlalu, apakah Natal itu tetap tinggal dalam hatiku?

Setiap tahun, saya selalu mencoba untuk tidak melewatkan perayaan Natal. Dan, selalu diulang, saya merayakannya dengan ala kadarnya. Tidak ada harapan yang tinggi tentang Natal. Tidak juga mencoba berpikir mendalam tentang Natal yang sejati. Namun, Tuhan baik. Dalam ketidakmampuan diri ini untuk mengecap manisnya Natal, Tuhan menghujaniku dengan kesulitan demi kesulitan. Tiga tahun yang lalu, Natal menjadi sesuatu yang sangat spesial di hidupku. Pada saat itu, keluarga kami sedang dalam masalah. Ibarat kapal, keluarga kami sudah terguncang ke sana kemari. Sesekali ada awak yang teriak, menangis, merintih, dan marah. Namun, mau tidak mau, kapal ini harus bergerak, harus berlayar mengikuti arus, dan terguncang lagi dan lagi. Pada tahun itu, Natal menjadi seperti hari kiamat. Masalah keluarga memuncak dan kapal ini tak lama lagi terkoyak. Orang tua sudah beda haluan, anak-anak kebingungan, tak ada komando, tak ada tujuan. Bagaimana ini?

Saya bertanya kepada Tuhan, "Inikah Natal itu? Kristus lahir dalam dunia yang terkoyak, kacau, dan penuh masalah. Mengapa Kristus hadir dalam dunia semacam ini? Natal pada tahun itu tak lagi mengajarku tentang teori Natal. Tak lagi menyuapiku dengan "Natal menurut kata orang". Kali ini, Natal membuktikannya sendiri. Kristus mengerjakan bagian-Nya. Kristus menggenapi tujuan-Nya. Ia melihat kapal terguncang-guncang, tetapi tidak menenggelamkannya. Ia melihat keributan, tetapi tidak meninggalkannya. Kristus mencurahkan kasih-Nya kepada keluarga saya. Kristus menyatakan kasih-Nya; yang mampu membalut luka, memulihkan, mendamaikan, dan menyatukan.

Ketika kasih Kristus dinyatakan, mari kita sambut dengan sukacita. Saya percaya sekarang, Natal menyatakan kasih Allah kepada kita. Kasih-Nya ada, nyata, dan mengubahkan.