Renungan

Renungan Adven: Kedamaian dalam Kesendirian

Baca

Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah karena aku sendirian dan tertindas. Kesusahan hatiku bertambah besar, keluarkan aku dari kesesakanku. Lihatlah penderitaanku dan kesusahanku, ampuni semua dosaku. Lihatlah betapa banyak musuhku. Sebab, mereka bertambah banyak dan membenciku dengan kebencian yang kejam. Jagalah jiwaku dan selamatkan aku, jangan biarkan aku dipermalukan karena aku mencari perindungan-Mu. (Mzm. 25:16-20, AYT)

Merenungkan

Gambar: renungan Natal

Natal dan Keluarga

Keluarga adalah desain Tuhan untuk manusia hidup dan dibesarkan dalam kasih. Puncak kasih adalah penyatuan, bukan hanya keintiman. Di dalam keluarga kasih antara dua individu mengecap titik tertingginya. Di dalam keluargalah anak bertumbuh dalam kasih dan belajar mengasihi. Secara alamiah kita mengasihi anak sebab anak adalah darah dan daging-perpanjangan-diri kita. Kasih adalah gizi mutlak yang diperlukan anak untuk dapat bertumbuh dengan sehat. Namun di dalam keluarga pulalah anak belajar mengasihi. Setelah menerima kasih, anak belajar membalas kasih orangtua dan pada akhirnya ia pun belajar mengasihi kakak adik, teman dan orang di sekitarnya. Inilah rencana Tuhan akan keluarga; itulah sebabnya dari semua ciptaan-Nya, hanya manusialah yang didesain untuk berkeluarga.

Gambar: Keluarga Merayakan Natal

Hatiku Tertuju Pada Yesus

Oleh: Jessica K.

Bacaan: Matius 1:18-25
Nas: Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Matius 1:21)

Kelahiran Pangeran Goerge pada tahun 2013 di rumah sakit St Mary's, London, United Kingdom membawa sukacita luar biasa bagi rakyat Inggris. Berita tentang lahirnya anak pertama dari adipati Cambridge ini tersebar luas dan memberi harapan baru bagi penerus Kerajaan Inggris. Bayi laki-laki ini langsung mengambil hati banyak orang dari seluruh dunia, bahkan tak sedikit orang yang sengaja datang ke kediaman Pangeran William untuk menyambut kedatangan Pangeran George. Saat itu, rakyat Inggris seakan-akan hanya mengarahkan matanya pada satu pandangan.