Apa yang Orang Berduka Harapkan untuk Anda Ketahui di saat Natal

Ditulis oleh: Nancy Guthrie

“Selamat hari Thanksgiving!” “Selamat hari Natal!” Seiring dengan semakin dekatnya penghujung tahun, di mana saja kita akan bertemu dengan orang-orang yang akan berkata kepada kita jika kita harus ikut bersukacita.

Akan tetapi, bagi mereka yang baru saja kehilangan seseorang yang mereka cintai, hari-hari libur justru bisa menjadi seperti tantangan yang harus dilewati ketimbang untuk dinikmati. Berbagai tradisi dan acara yang bisa membawa sukacita dan makna untuk masa itu disela oleh ingatan-ingatan menyakitkan tentang orang yang kita cintai, yang tidak lagi ada mengalaminya bersama dengan kita. Banyak orang berharap menemukan tempat yang sepi untuk bersembunyi sampai bulan tanggal 2 Januari (saat kemeriahan Natal dan akhir tahun sudah usai - Red.).

Sementara beberapa di antara kita yang berada di sekitar orang yang sedang berduka itu tidak dapat menyembuhkan rasa sakit karena kehilangan itu, kita dapat memberi penghiburan ketika kita berada di samping mereka dengan kepekaan khusus mengenai seperti apa kesedihan yang mereka rasakan selama hari libur itu. Orang yang sedang berduka ingin kita semua mengetahui paling tidak lima kebenaran, diantara hal-hal yang lain, pada saat Natal.

1. Bahkan waktu terbaik pun diselingi dengan kesadaran bahwa seseorang telah tiada.

Saya ingat percakapan dengan teman saya ketika kami sedang bersiap-siap untuk mengikuti acara liburan singkat tak lama setelah anak saya, Hope, meninggal. "Itu pasti menyenangkan!" ujarnya. Saya merasa saya seharusnya setuju dengan ucapannya.

Yang tidak saya ketahui tentang bagaimana cara untuk menjelaskannya adalah ketika anda kehilangan anggota keluarga anda, waktu-waktu terbaik pun akan terasa kurang. Seseorang telah hilang. Bahkan hari terbaik dan acara yang menyenangkan sekali pun diwarnai dengan kesedihan. Ke mana pun anda pergi, kesedihan akan terus mengikuti.

2. Situasi sosial menjadi sulit

Saya tidak pernah mengerti bagaimana orang yang sedang berduka akan sulit menghadapi keramaian. Basa-basi pun bisa menjadi hal yang sulit untuk dilakukan ketika suatu hal yang amat penting baru saja terjadi. Bertemu dengan orang baru kemungkinan besar akan menyertakan pembicaraan tentang keluarga. Berjalan sendiri ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh banyak pasangan ketika pasangan anda sudah meninggal, atau ke sebuah acara yang dipenuhi anak-anak kecil saat anak Anda sudah meninggal, bisa menjadi pengingat yang menyakitkan akan apa yang telah hilang.

Jika anda mengundang seseorang yang sedang dilanda kesedihan ke dalam acara liburan anda, beritahu mereka bahwa Anda paham jika situasi mungkin menjadi cukup sulit pada menit-menit terakhir, dan mereka mungkin harus membatalkan janji, atau mereka mungkin hanya bisa datang sebentar saja.

Jika Anda menghadiri suatu acara, teleponlah seseorang yang sedang bersedih, dan tanyakan apakah Anda bisa menjemputnya dan menemaninya sepanjang acara. Ketika Anda bertemu seseorang yang sedang berduka dalam acara liburan, beritahu mereka bahwa Anda masih memikirkan orang yang dicintainya yang telah tiada, dan ajak mereka berbicara tentang kenangan yang mereka miliki dengan orang yang sudah meninggal itu. Jangan takut menyebutkan nama orang yang sudah meninggal itu. Hal ini akan menjadi pelipur lara bagi orang yang sedang berduka.

3. Bertemu dengan keluarga besar menjadi canggung dan sulit.

Kesedihan seringkali menjadi situasi yang canggung – dan mungkin bahkan, dengan mereka yang terdekat dengan kita.

Saya dan suami saya menjadi tuan rumah retreat akhir pekan bagi pasangan-pasangan yang telah kehilangan anak mereka, dan kesulitan ketika berkumpul dengan keluarga besar saat hari libur terkadang menjadi topik percakapan di antara pasangan-pasangan itu. Mereka tahu bahwa beberapa anggota keluarga berpikir bahwa mereka sudah cukup lama bersedih dan meminta mereka untuk melupakannya. Yang lain berusaha untuk memulai percakapan tentang orang yang sudah meninggal tersebut tetapi tidak yakin bagaimana caranya. Yang seringkali terjadi adalah nama orang yang sudah meninggal tidak pernah disebut, dan hal ini membuat orang yang tengah berduka merasa bahwa orang yang mereka cintai diabaikan di tengah-tengah keluarga.

Apakah Anda mengetahui seseorang yang sedang berduka tengah pergi ke acara keluarga untuk liburan? Anda mungkin bertanya tentang keinginan mereka ketika mereka bersama dengan anggota keluarga lainnya. Dan, jika mereka memiliki keinginan kuat agar orang yang dicintainya selalu diingat dengan cara tertentu, dikombinasikan dengan ketakutan bahwa hal itu tidak akan terjadi, Anda mungkin bisa memberi penghiburan dan menolong mereka untuk menulis surat kepada keluarga mereka jauh-jauh hari dengan menyatakan apa yang akan membuat mereka terhibur, ketimbang berharap keluarga mereka akan tahu dengan sendirinya.

4. Air mata bukanlah masalah

Bagi sebagian dari kita, duka akan bekerja dengan sendirinya melalui air mata - air mata yang bisa keluar kapan pun tanpa kita duga. Terkadang, orang yang sedang berduka merasa bahwa orang-orang di sekitar mereka melihat air mata sebagai masalah yang harus diselesaikan - air mata itu mungkin menandakan bahwa mereka tidak tahan dengan kesedihan mereka sendiri. Akan tetapi, adalah masuk akal bahwa duka mendalam akibat kehilangan seseorang yang kita cintai akan keluar dalam bentuk air mata. Air mata bukanlah musuh. Air mata tidak mencerminkan kurangnya iman. Air mata adalah hadiah dari Allah untuk membantu menghapuskan luka mendalam akibat kehilangan.

Adalah suatu pemberian yang baik untuk membuat orang-orang yang sedang berduka di sekitar Anda mengetahui bahwa mereka tidak perlu malu dengan air mata mereka - bahwa mereka boleh menangis di depan Anda. Suatu hal yang lebih baik lagi apabila kita bisa menangis bersama-sama dengan mereka. Air mata Anda mencerminkan betapa berharganya orang yang meninggal itu dan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian merindukan orang itu.

5. Bisa menjadi sulit untuk mengingat mengapa Natal harus dibuat semeriah mungkin.

Dalam lagu "Malam Kudus" kita menyanyikan, "A thrill of hope, the weary world rejoices.” (Harapan yang mengemuka, dunia yang susah menjadi bersuka - Red.) Orang yang sedang berduka merasakan kesukaran/pergumulan dari hidup dan kematian di dunia ini serta bertanya-tanya bagaimana orang lain di sekitar mereka dapat bersukacita. Mereka sangat membutuhkan kehadiran nyata sosok Kristus untuk melawan kesendirian dan keputusasaan mereka. Sementara kita tidak ingin mengkhotbahi mereka, kita mencari kesempatan untuk memberi penghiburan dan sukacita yang bisa ditemukan di dalam kedatangan Kristus itu sendiri untuk menyelamatkan kita.

Kehidupan Yesus yang bermula di sebuah palungan akan berujung pada kematian-Nya di kayu salib. Akan tetapi, kematian ini tidak akan menjadi kematian yang tidak masuk akal dan tidak bermakna. Ini akan menjadi kematian yang menaklukan kematian, yang diikuti dengan hidupan kebangkitan yang baru. Penulis kitab Ibrani menjelaskan, “Karena anak-anak itu adalah manusia yang memiliki darah dan daging, maka Yesus juga mengambil bagian dalam keadaan mereka supaya melalui kematian-Nya, Ia dapat membinasakan dia yang memiliki kuasa atas kematian, yaitu Iblis" (Ibrani 2:14, AYT). Kekuatan maut yang telah menimbulkan kedukaan tidak akan selamanya seperti itu. Apa yang Kristus lakukan ketika Dia mengalahkan maut pada kedatangan-Nya yang pertama akan digenapi ketika Dia datang kembali.

Ini adalah pengharapan besar kita pada hari Natal, dan kita harus membagikan pengharapan itu kepada mereka yang sedang berduka pada saat Natal - bahwa "yonder breaks a new and glorious morn." (cuplikan lagi Silent Night -- di sanalah fajar yang baru terbit dan berjaya/menang - Red.). Kristus yang telah datang dalam rupa seorang bayi dan mati untuk menebus dosa-dosa kita akan datang kembali untuk mewujudkan kerajaan-Nya. Dan, ketika Dia melakukannya, "Ia akan menghapus setiap air mata dari mata mereka dan maut tidak akan ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan, tangisan, atau rasa sakit karena yang lama sudah berlalu" (Wahyu 21:4, AYT)

Diambil dari:

URL: https://www.desiringgod.org/articles/what-grieving-people-wish-you-knew-...
Tanggal akses: 1 Oktober 2018